Menuju konten utama

Biaya Produksi Tinggi Bikin Industri Sepatu RI Kalah Saing

Terpuruknya industri padat karya ini juga menjadi sinyal kuat bahwa industri sepatu Tanah Air sedang kehilangan daya saing struktural.

Biaya Produksi Tinggi Bikin Industri Sepatu RI Kalah Saing
Perajin menyelesaikan produksi sepatu di Sentra Sepatu Cibaduyut, Bandung, Jawa Barat, Rabu (7/8/2019). ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi/ama.

tirto.id - Industri sepatu di Tanah Air mengalami babak belur. Setelah PT Sepatu Bata Tbk (BATA) menutup kegiatan usaha industri alas kaki, baru-baru ini pabrik produsen Nike, yakni PT Victory Chingluh Indonesia, yang berlokasi di Pasar Kemis, Tangerang, turut melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap 2.804 karyawan.

Pengamat dari Indonesia Strategic and Economic Action Institution (ISEAI) Ronny P Sasmita, menilai bahwa masalah utama menurunnya industri alas kaki di RI karena adanya daya saing biaya dan efisiensi.

Biaya produksi di Indonesia, terutama upah dan energi, sudah tidak semurah dulu, sementara negara pesaing seperti Vietnam dan Bangladesh jauh lebih efisien secara logistik dan dari sisi kebijakan ekspor.

"Selain itu, tren global sekarang menuntut produksi yang lebih cepat, kadang via digitalisasi, dan ramah lingkungan, sedangkan banyak pabrik di Indonesia belum sampai ke arah sana," kata Ronny saat dihubungi Tirto, Kamis (30/10/2025).

Terpuruknya industri padat karya ini juga menjadi sinyal kuat bahwa industri sepatu Tanah Air sedang kehilangan daya saing struktural. Bukan hanya soal orderan yang berkurang, tetapi karena banyak pesanan global mulai beralih ke negara lain yang lebih efisien.

Kasus PT Victory Chingluh Indonesia dan BATA, menurut Ronny, menunjukkan fase awal deindustrialisasi ringan di sektor padat karya. Jika hal tersebut tidak diimbangi peningkatan produktivitas dan teknologi, maka akan berujung pada deindutsrialisasi yang serius.

"Produsen lokal kita berada di posisi yang sulit, biaya naik, margin tipis, dan daya tawar lemah. Sementara merek global menguasai rantai nilai dari desain, bahan, hingga distribusi. Akibatnya, produsen dalam negeri hanya jadi 'tukang jahit global' yang bergantung pada pesanan luar, bukan pencipta nilai," ujar Ronny.

Ronny pun menjelaskan tantangan besar terhadap produk alas kaki. Menurutnya, kurangnya inovasi dan branding menjadi hal yang harus dianggap serius.

Ekonom senior itu pun menyebut bahwa sebagian besar pabrik sepatu RI masih berproduksi untuk merek orang lain, belum punya kekuatan desain dan pasar sendiri. Belum lagi, akses pada bahan baku dan pembiayaan yang dianggap tidak cukup kuat, sementara pasar domestik dikuasai produk impor murah dari China dan Vietnam.

"Pemerintah perlu fokus ke transformasi, bukan sekadar bertahan. Insentif investasi teknologi, kemudahan ekspor-impor bahan baku, dan dukungan riset untuk desain produk lokal. Selain itu, kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan pelaku industri, semacam triple helix, perlu diperkuat agar ada ekosistem industri alas kaki yang berkelanjutan," ungkapnya.

Lebih jauh, Ronny menekankan bahwa saat ini konsumen semakin sadar merek dan gaya hidup, dan cenderung memilih produk global. Tapi di sisi lain, pasar sepatu kasual dan sport lokal sebenarnya sedang tumbuh.

"Sayangnya, produsen lokal belum banyak yang menangkap peluang tersebut. Mereka masih bermain di segmen murah, padahal pasar 'mid to premium' justru naik cepat," paparnya.

Saat ditanya apakah tergerusnya industri sepatu karena adanya pajak yang diterapkan AS, Ronny dengan tegas menyebut bahwa hal itu bukanlah faktor utama.

"(Pajak AS) memang punya dampak, tapi saya melihat itu bukan akar masalah, hanya faktor tambahan. Masalah sesungguhnya ada di daya saing dalam negeri, dari produktivitas tenaga kerja, infrastruktur, sampai biaya logistik yang masih tinggi. Kalau fondasi efisiensi kita kuat, kebijakan luar negeri seperti tarif AS tidak akan terlalu mengguncang," bebernya.

Ronny pun meminta agar pemerintah dapat berpindah dari kebijakan proteksi ke kebijakan transformasi, yang fokusnya bukan hanya menyelamatkan pabrik, namun menaikkan kualitas industri. Hal ini bisa dilakukan dengan pelbagai cara, seperti mendorong otomatisasi dan digitalisasi, membuka akses pembiayaan teknologi, memperkuat riset desain nasional, dan membangun rantai pasok bahan baku lokal yang berkelanjutan.

"Dengan begitu, industri sepatu Indonesia bisa naik kelas, bukan lagi sekadar basis produksi murah, tapi pusat inovasi alas kaki di Asia," tegasnya.

Baca juga artikel terkait ALAS KAKI atau tulisan lainnya dari Natania Longdong

tirto.id - Insider
Reporter: Natania Longdong
Penulis: Natania Longdong
Editor: Dwi Aditya Putra