Menuju konten utama

BI Turunkan Suku Bunga Acuan 25 Bps Jadi 5,5 Persen

Keputusan ini konsisten dengan perkiraan inflasi tahun 2025 dan 2026 yang rendah dan terkendali dalam sasaran 2,5 plus minus 1 persen.

BI Turunkan Suku Bunga Acuan 25 Bps Jadi 5,5 Persen
Gubernur BI, Perry Warjiyo beserta jajarannya dalam konferensi pers di Kantor BI, Jakarta, Rabu (18/12/2024). tirto.id/Nabila Ramadhanty Putri Darmadi
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk menurunkan suku bunga acuan (BI 7-day Reverse Repo Rate/BI7DRR) sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,5 persen. Seiring dengan itu, suku bunga deposit facility dan suku bunga lending facility juga mengalami penurunan 25 bps masing-masing menjadi 4,75 persen dan 6,25 persen.

“Keputusan ini konsisten dengan perkiraan inflasi tahun 2025 dan 2026 yang rendah dan terkendali dalam sasaran 2,5 plus minus 1 persen, upaya mempertahankan stabilitas nilai tukar rupiah Sesuai dengan fundamentalnya, serta untuk turut mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” ujar Gubernur BI, Perry Warjiyo dalam Pengumuman Hasil Rapat Dewan Gubernur BI Mei 2025 secara daring, Rabu (21/5/2025).

Ke depan, BI akan terus mengarahkan kebijakan moneter untuk menjaga inflasi dalam sasarannya dan stabilitas nilai tukar yang sesuai fundamental, dengan tetap mencermati ruang untuk turut mendorong pertumbuhan ekonomi sesuai dinamika yang terjadi pada perekonomian global dan nasional.

Sementara itu, kebijakan makroprudensial akomodatif terus dioptimalkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, dengan berbagai strategi untuk meningkatkan pertumbuhan kredit dan mendorong fleksibilitas pengelolaan likuiditas oleh perbankan.

“Kebijakan sistem pembayaran juga diarahkan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi, khususnya sektor perdagangan dan UMKM, melalui perluasan akseptasi pembayaran digital serta penguatan infrastruktur dan konsolidasi struktur industri sistem pembayaran,” tambahnya.

Di sisi lain, bauran kebijakan moneter, makroprudensial dan sistem pembayaran akan diarahkan untuk menjaga stabilitas dalam rangka memperkuat pertumbuhan ekonomi domestik yang berkelanjutan. Upaya tersebut bakal didukung pula oleh berbagai kebijakan termasuk stabilitas nilai tukar rupiah baik di pasar sekunder maupun primer.

“Kedua, penguatan strategi operasi moneter pro market untuk memperkuat transmisi penurunan suku bunga, menjaga kecukupan likuiditas, mempercepat pendalaman pasar uang dan pasar valas, tserta mendorong aliran masuk modal asing,” papar Perry.

Ketiga, peningkatan rasio pendanaan luar negeri dari sebelumnya maksimal 30 persen menjadi maksimal 35 persen dari modal bank. Hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan sumber pendanaan bank dari luar negeri, dengan tetap memperhatikan prinsip kehati-hatian.

“Keempat, pelonggaran likuiditas dengan penurunan rasio penyangga likuiditas makroprudensial sebesar 100 basis poin dari 5 persen menjadi 4 persen untuk bank umum konvensional, dengan fleksibilitas repo sebesar 4 persen dan rasio PLM syariah turun sebesar 100 basis poin, dari 3,5 persen menjadi 2,5 persen,” jelas Perry.

Baca juga artikel terkait SUKU BUNGA ACUAN atau tulisan lainnya dari Qonita Azzahra

tirto.id - Insider
Reporter: Qonita Azzahra
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Dwi Aditya Putra