Menuju konten utama

BGN akan Ukur Dampak Pelaksanaan MBG setelah Setahun Berjalan

Pengecekan perkembangan gizi tidak akan dilakukan oleh BGN, melainkan lembaga independen setelah program Makan Bergizi Gratis berjalan selama setahun.

BGN akan Ukur Dampak Pelaksanaan MBG setelah Setahun Berjalan
Kepala BGN, Dadan Hindayana di Gedung DPR RI, Jakarta, Selasa (20/1/2026). tirto.id/Nabila Ramadhanty Putri Darmadi.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, mengeklaim, BGN akan mengecek dan mengukur perkembangan gizi dari penerima makan bergizi gratis (MBG). Pengecekan dilakukan untuk mengukur dampak program setelah MBG berjalan selama satu tahun. Namun, Dadan memastikan pengecekan tersebut tidak dilakukan oleh BGN, melainkan lembaga independen. Dadan belum menyebutkan lembaga independen yang ditunjuk untuk mengecek perkembangan gizi penerima MBG.

"Tentu saja itu [perkembangan gizi penerima MBG] akan jadi bagian dari output yang harus diukur," ucapnya di kantor Kemenko Pangan, Jakarta Pusat, Kamis (29/1/2026).

"Nanti yang mengukurnya harus lembaga independen," lanjut dia.

Dadan menyebutkan, pengecekan perkembangan gizi juga dilakukan sejumlah negara lain. Salah satunya, yakni Jepang. Negara matahari terbit itu, kata Dadan, pernah mengecek perkembangan gizi warga pada 1940 dan dibandingkan dengan perkembangan gizi warga pada 2000-an. Gizi warga disebut meningkat usai adanya peningkatan kualitas gizi mereka.

"Ini contoh ya, di dalam program makan bergizi di Jepang, itu ada pengukuran perbedaan tinggi rata-rata badan orang Jepang dari tahun 40-an ke tahun 2000-an. Itu terjadi peningkatan yang signifikan akibat peningkatan kualitas gizi," urainya.

Dadan menyatakan, perkembangan gizi masyarakat Jepang tidak cuma dipengaruhi genetik. Konsumsi yang berkualitas disebut turut memengaruhi perkembangan gizi masyarakat Jepang.

Katanya, masyarakat Indonesia melalui MBG diyakini akan mengalami perkembangan gizi seperti Jepang.

"Jadi, bukan hanya potensi genetik, tapi juga kualitas gizi. Nah, Indonesia akan seperti itu," tutur dia.

Sebagai informasi, MBG berlangsung sejak awal Januari 2025. Penerima MBG pun beragam, mulai dari murid sekolah, ibu hamil, hingga balita.

Akan tetapi, penerapan MBG di berbagai kawasan berjalan secara tidak mulus. KPAI mencatat 12.658 anak di 38 provinsi mengalami keracunan akibat mengonsumsi MBG. Meski banyak kasus keracunan, pemerintah tidak pernah menghentikan penyaluran MBG hingga saat ini.

Baca juga artikel terkait MAKAN BERGIZI GRATIS atau tulisan lainnya dari Muhammad Naufal

tirto.id - Flash News
Reporter: Muhammad Naufal
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Andrian Pratama Taher