tirto.id - Rasa rindu akan kenyamanan rumah sendiri mengalahkan keterbatasan ekonomi Jusni (50) dan sejumlah warga Desa Huta Godang, Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel), Sumatra Utara (Sumut). Meski harus meminjam uang kepada sanak saudara, korban banjir bandang ini memilih membangun kembali hunian mereka secara mandiri setelah lelah bertahan di tenda pengungsian selama hampir tiga bulan.
Jusni (50) di Tapsel, mengaku memilih untuk memperbaiki sendiri rumahnya yang rusak setelah diterjang banjir bandang pada akhir November 2025. "Rumah memang rusak cukup parah, atap dan tembok sudah hilang," kata Jusni, di Tapsel, Rabu (18/2/2026) dikutip dari Antara.
Jusni menghitung, hampir tiga bulan sudah bencana banjir bandang meluluhlantakkan kampungnya. Ia bersama keluarganya mengungsi ke tenda darurat. Dan kini, sudah merasa kurang nyaman.
Untuk itu, Jusni lebih memilih untuk memperbaiki rumahnya yang rusak akibat banjir bandang tersebut. Sehingga, dapat kembali ditempati keluarganya.
"Kalau was-was pasti, jadi anak dan istri masih di tempat pengungsian ketika hujan turun," ujar Jusni.
Lebih lanjut, dia juga mengaku meminjam sejumlah uang kepada sanak saudara untuk memperbaiki rumahnya yang rusak agar dapat ditempati sesegera mungkin.
Selain Jusni, warga lain yang juga memperbaiki rumahnya sendiri, yaitu Monang. Setelah pemerintah memperbaiki aliran Sungai Anggoli, ia mengaku langsung bergerak untuk memperbaiki rumahnya.
"Semoga setelah diperbaiki, tidak ada lagi bencana. Kami ingin hidup seperti dahulu," ungkap Monang.
Menukil laporkan Antara, sejumlah warga yang berada di Desa Huta Godang, saat ini sudah mulai memperbaiki dan menempati rumah mereka yang sempat terendam banjir bandang pada November 2025.
Selain memperbaiki rumah, warga juga berupaya kembali mendirikan rumah mereka dengan menggunakan bahan-bahan ala kadarnya, seperti papan kayu.
Editor: Siti Fatimah
Masuk tirto.id

































