Kronik Ramadan

Berdirinya Negara Pakistan

Oleh: Muhammad Iqbal - 13 Juni 2018
Dibaca Normal 4 menit
Pakistan berdiri pada 15 Agustus 1947 Masehi, atau 28 Ramadan 1369 Hijriah.
tirto.id - Dikandung dalam suatu masa yang sangat cepat dan dilahirkan secara prematur–menit-menit terakhir bedah caesar oleh para dokter yang merawat (Kerajaan Inggris)–Pakistan lahir pada 15 Agustus 1947 Masehi, bertepatan titimangsa 28 Ramadan 1369 Hijriah, dengan petumpahan darah yang massif.

“Pada tahun pertama, negara baru itu telah melepas sebelah tungkainya (Kashmir) dan lalu kehilangan ayahnya (Presiden Mohammed Ali Jinnah). Kemudian, seperti lembaran keyakinan keagamaannya yang lebih kasar dan lebih kejam, Israel, Pakistan memutuskan untuk menerima tawaran susunan permanen,” ujar Tariq Ali dalam The Clash of Fundamentalisms: Crusades, Jihads, and Modernity. Menurutnya, Pakistan menganggap bahwa satu-satunya jalan untuk bertahan hidup adalah menjadi pasien Perang Dingin di bawah supervisi permanen imprealisme Barat. Saat Inggris menghilang, Amerika Serikat yang memikul tanggung jawab untuk Pakistan (Ali, 2003: 183).

Dunia kemudian menyaksikan tiga kali perang antara India yang mayoritas beragama Hindu, dan Pakistan yang Muslim selama lima puluh tahun terakhir. Perang semacam itu berikutnya bahkan dapat menyulut perang nuklir. Konflik Kashmir telah lama merupakan benih utama pertikaian, sebuah perang yang melibatkan India dan Pakistan, karena kelompok-kelompok pembebasan Muslim Kashmir melakukan perang gerilya melawan penguasa India yang dianggap menjajah.

Selain itu, kelompok-kelompok Islamis garis keras, biasanya berkaitan dengan Pakistan, telah melakukan sejumlah operasi teroris yang berdarah di India. Baik penduduk India maupun Pakistan tidak melupakan pembagian India yang getir, yang dirancang oleh kolonial Inggris pada 1947. Saat itu, jutaan orang Hindu, Sikh, dan Muslim tewas dalam dalam serangan-serangan tiga-arah selama eksodus penduduk–orang-orang Muslim dari India ke negara baru Pakistan; orang-orang Hindu dan Sikh dari negara baru Pakistan ke India.

Islam bukan hanya berbatasan dengan India (di Pakistan dan Bangladesh), melainkan cukup besar jumlah Muslim yang tinggal di India selama lebih dari seribu tahun, dengan pelbagai hubungan mereka sendiri yang kaya dan kompleks dengan orang-orang Hindu. Lambat-laun, Muslim memainkan peran yang sangat beragam di panggung India: pedagang-pedagang yang menyebarkan Islam secara damai di selatan; prajurit-prajurit penakluk dari Asia Tengah; para pendiri dan pencipta salah satu “peleburan peradaban” terdahsyat dalam sejarah antara Islam dan Hindu yang menghasilkan Kerajaan Mughal nan cemerlang; dan akhirnya minoritas Islam yang kalah, yang pada 1947 terbagi menjadi negara baru Pakistan atau minoritas Muslim India. Di India, komunitas Muslim menjadi sasaran diskiriminasi de facto dan mendapat kewarganegaraan kelas dua. India juga merupakan kasus perdana Islam berbatasan dengan peradaban non-Kristen dalam sejarah global.

Peranan Inggris

Dengan berangsur-angsur runtuhnya Kerajaan Mughal tatkala menghadapi imprealisme Inggris yang menggerogotinya, sistem Mughal mulai kehilangan dayanya, dan dengan itu tibalah pula kemerosotan status Islam. Orang-orang Inggris pun menelatah tingkat perlawanan yang lebih besar terhadap kekuasaannya dari orang Muslim tinimbang Hindu. Oleh sebab itu, Inggris mulai lebih menyukai orang Hindu dan memasukkan mereka ke dalam sistemnya, orang Hindu dirasanya lebih “dapat diandalkan” atau “lebih fleksibel”.

Menurut Iftikhar H. Malik dalam The History of Pakistan (2008), Muslim memang sangat aktif dalam banyak perlawanan terhadap British Raj (Inggris), termasuk pera utama mereka dalam Pemberontakan Besar India 1857. Ketika itu, tentara Muslim India yang bekerja untuk Inggris memberontak karena rumor, bahwa lemak babi digunakan dalam pembuatan wadah peluru senapan mereka. Namun, orang-orang Hindu, pada akhirnya, mempertunjukan kekuatan perlawanan yang sama. Ketidakpuasan politik dan sosial di India zaman Inggris cukup parah untuk membuat sebuah percikan kecil seperti insiden ini menjadi pemberontakan nasional. Orang-orang Muslim dan Hindu umumnya bersatu dalam melawan pemerintahan dan kekuasaan Inggris, meskipun pendekatan-pendekatan taktis mereka terhadap soal ini sering kali berbeda jalan (Malik, 2008: 92).



James Wynbrandt dalam bukunya, A Brief History of Pakistan (2009), meneroka bahwa ketika kekuasaan Mughal yang sangat besar itu lama-kelamaan runtuh atau ditaklukan Inggris, Muslim segera menemukan diri mereka menjadi minoritas tanpa kekuasaan dalam sistem India dan sangat dicurigai oleh Inggris. Sejumlah orang Inggris berspekulasi apakah Muslim itu memang “secara alamiah suka memberontak terhadap kekuatan asing”. Tatkala kemerdekaan India dari kekuasaan Inggris semakin mendekat pasca perang Dunia II, Muslim terutama mencemaskan perlindungan hak-hak mereka sebagai minoritas dalam India yang merdeka; mereka khawatir bahwa dalam tatanan yang benar-benar demokratis, mereka akan menjadi minoritas yang secara permanen akan kalah suara. Sebagai akibatnya, Muslim memilih semacam sistem konfederasi sehingga mereka tidak akan senantiasa berada dalam status minoritas permanen (ini dilema klasik dalam semua sistem demokrasi yang di dalamnya minoritas-minoritas jarang dapat mengubah sistem melalui kotak suara!). Apalagi Muslim di India tidak homogen, tetapi terbagi-bagi menurut perbedaan kelas, wilayah, dan bahkan bahasa (Wynbrandt, 2009: 140).

Infografik Kronik perpisahan India Pakistan


Pada akhirnya, pemisahan sebenarnya atas India menjadi Negara India dan Pakistan bukanlah hasil yang disukai Muslim. Akan tetapi di bawah tekanan situasi, dan kecemasan orang Hindu ihwal pembatasan-pembatasan macam apa yang akan dimunculkan Muslim atas kekuasaan terpusat Negara India yang akan merdeka nanti, tiba-tiba pemisahan nampak sebagai pilihan yang masuk akal bagi kedua pihak.

Menariknya, banyak ulama di India tidak menyukai pemisahan negeri itu, atau bahkan pembentukan sebuah negara Muslim Pakistan yang merdeka. Dengan akurat, mereka memprediksi bahwa tidak semua Muslim akan berangkat menuju Pakistan, dan bahwa Muslim yang tertinggal akan menjadi minoritas yang semakin kecil lagi di tengah mayoritas Hindu yang nanti akan sangat besar.

Pemisahan bernasib buruk

Sunil Khilnani dalam The Idea of India (1997), mendedahkan bahwa kira-kira empat belas setengah juta orang melintasi batas-batas baru yang telah diciptakan, entah masuk atau keluar India, dalam proses pembersihan etnis besar-besaran yang dilakukan Inggris pada 1947 yang disebut “Pemisahan”. Kekerasan masif dan mengerikan berlangsung selama pepindahan penduduk itu, dengan banyak pembantaian massal mengerikan yang dilakukan ketiga pihak agama–Sikh, Islam, dan Hindu–satu terhadap yang liyan. Walhasil ialah bahwa imigran-imigran anyar –Muslim yang berpindah masuk ke Pakistan, Sikh dan Hindu yang masuk ke India–banyak yang mengalami trauma dan merasakan kegetiran karena proses itu, dan selanjutnya termasuk di antara orang-orang yang paling tidak toleran dalam hal agama di setiap masyarakat baru itu (Khilnani, 1997: 161).



Sungguh, bagi Muslim yang tidak pindah ke Pakistan tetapi tinggal menetap di India, situasinya memang menjadi lebih buruk: mereka bukan saja kehilangan jumlah dan dengan demikian pengaruh politik, kesetiaan mereka juga sekarang diragukan kepada negara baru yang didominasi oleh orang Hindu. Dalam ketiga perang antara Pakistan dan India pada tahun-tahun setelah itu, Muslim India sering dipandang orang Hindu sebagai tidak dapat dipercaya, sebuah kemungkinan menjadi angkatan kelima.

Menurut Lawrence Ziring dalam Pakistan: At the Crosscurrent of History (2003), situasi di Kashmir juga sama mudah tersulut. Kashmir adalah sebuah provinsi mayoritas Muslim (sekitar 77 persen Muslim pada 1947) dengan karakteristik etnis dan sejarahnya sendiri yang berbeda. Inggris menjanjikan hak referendum untuk menentukan apakah mereka tetap bergabung dengan India, atau dengan Pakistan pada 1947. Namun, pada akhirnya, India menolak referendum, karena ia pasti kalah. Mayoritas Muslim Kashmir tetap murka karenanya dan masih terus bergejolak menuntut hak pilih mereka; pihak berwenang India memerintah dengan tangan besi dan mengelola Kashmir secara tidak bijaksana dan tak sensitif (Ziring, 2003: 173).

Mengingat tiga perang antara Pakistan dan India, sebagian karena Kashmir dan dalam semuanya Pakistan kalah, wilayah itu memberi lahan subur bagi tekanan Pakistan terhadap India melalui dukungan “bawah tanah” kepada gerakan-gerakan separatis Kashmir garis keras. Konflik jangka panjang ini meracuni hubungan India dengan Pakistan sampai detik ini, dan merupakan sumber utama bagi terorisme regional (Ziring, 2003: 174).

Mungkin saja, kekuasaan penjajah Inggris yang mengularkambang atas India selama beberapa ratus tahun–jauh lebih banyak kelindannya daripada “Islam”–yang paling bertanggung jawab atas pemisahan bernasib buruk dan barangkali tidak perlu ini, yang tidak menyelesaikan apa pun.

================

Sepanjang Ramadan, redaksi menampilkan artikel-artikel tentang peristiwa dalam sejarah Islam dan dunia yang terjadi pada bulan suci kaum Muslim ini. Artikel-artikel tersebut ditayangkan dalam rubrik "Kronik Ramadan". Kontributor kami, Muhammad Iqbal, sejarawan dan pengajar IAIN Palangka Raya, mengampu rubrik ini selama satu bulan penuh.

Baca juga artikel terkait RAMADAN atau tulisan menarik lainnya Muhammad Iqbal
(tirto.id - Politik)


Penulis: Muhammad Iqbal
Editor: Ivan Aulia Ahsan