tirto.id - Dalam urusan tawar-menawar, Yuni menjadi ujung tombak keluarganya. Jumat (3/7/2026) siang, perempuan berhijab itu sibuk memilih seragam sekolah di Toko Azzam, Blok III Pasar Senen, Jakarta Pusat. Sementara tiga anak perempuannya berceloteh satu sama lain, sang suami memilih duduk menunggu di kursi yang disediakan pedagang.
Sesekali Yuni melirik layar gawainya untuk memastikan ukuran seragam. Di sana tersimpan catatan lengkap kebutuhan ketiga anaknya: si bungsu yang akan naik ke kelas 3 SD, anak kedua ke kelas 5 SD, dan si sulung yang sebentar lagi memasuki bangku sekolah menengah pertama (SMP). Dengan satu tangan memegang ponsel, tangan lainnya meraba bahan seragam sambil sesekali menawar harga kepada pedagang.
Keluarga itu sengaja datang dari Pancoran, Jakarta Selatan, untuk berburu perlengkapan sekolah, rutinitas yang mereka jalani setiap menjelang tahun ajaran baru. Strateginya sederhan: seragam dibeli lebih dulu, sementara urusan ukuran bisa disesuaikan belakangan di tukang jahit.
"Beli dulu saja ini seragamnya, kalau kebesaran atau kekecilan, nanti bisa dijahit lagi. Kalau anak perempuan kan cepat [bertumbuh]," ujarnya kepada reporter Tirto.

Meski memiliki tiga anak yang masih bersekolah, hari itu Yuni hanya membeli dua setel seragam putih-merah. Seragam si bungsu masih layak dipakai karena baru dibeli saat pertama masuk SD. Ia hanya menambah perlengkapan lain, seperti kaus kaki, topi, dan dasi sebagai cadangan.
"Seragam [untuk anak] yang paling kecil sudah dapat kemarin waktu baru masuk [SD], ini beli yang lain [kaos kaki-dasi] buat cadangan saja," tuturnya.
Yuni mengakui, belanja perlengkapan sekolah untuk anak-anak memang menguras dompet. Namun, pengeluaran besar itu hanya datang setahun sekali sehingga tidak terlalu ia persoalkan.
"Kalau ini [membeli seragam] kan setahun paling enggak sekali, sisanya kayak beli dasi, topi, itu kan jarang sekali dan cenderung murah, jadi ya enggak apa-apa," ucap Yuni.
Pemandangan serupa terlihat hampir di setiap sudut Blok II Pasar Senen. Dengan hari pertama sekolah yang tinggal menghitung hari, para orang tua berbondong-bondong menuntaskan daftar belanja kebutuhan anak mereka.
Anak-anak tampak patuh ketika diminta mencoba baju dan celana, sementara orang tua memastikan ukurannya pas. Di sela-sela tumpukan seragam merah putih, biru putih, hingga abu-abu, mereka bukan hanya memilih pakaian, tetapi juga menghitung sisa uang yang harus cukup untuk membiayai berbagai kebutuhan lain menjelang tahun ajaran baru.
Keramaian itu mulai dirasakan Tasya, penjaga salah satu toko seragam di Pasar Senen, terasa dalam beberapa hari terakhir. Menurutnya, jumlah pembeli akan terus bertambah seiring semakin dekatnya jadwal masuk sekolah.
Karena itu pula, rak-rak toko yang mulai kosong kembali dipenuhi seragam dari berbagai jenjang pendidikan. Sejumlah toko juga memasang tulisan menerima pembayaran menggunakan Kartu Jakarta Pintar (KJP).
Di gerainya, Tasya mengaku mampu menjual sekitar 40 potong seragam setiap hari. Seragam SD dijual mulai sekitar Rp55 ribu untuk baju, sedangkan celana dibanderol mulai Rp85 ribu. Selain seragam, tokonya juga menyediakan topi, dasi, hingga kaus kaki.
Untuk menarik pembeli, toko tempat Tasya bekerja juga memberikan keleluasaan bagi pelanggan yang ingin menukar ukuran, selama barang belum digunakan maupun kotor.
"Bisa dikembalikan, bisa ini kok dikembalikan [seragam yang telah dibeli]. Ukuran juga bisa ditukar. Hari ini beli, besoknya dikembaliin, bisa," ucapnya.
"Ya iya dong, kalau [seragam yang dibeli] kotor, enggak bisa [ditukarkan]. Kan cuma dicoba," sambung dia.
Menghadapi lonjakan pembeli menjelang tahun ajaran baru, toko tersebut tetap beroperasi setiap hari. "Buka setiap hari. Mulai jam 09.00 WIB-17.00 WIB. Kadang 8.30 WIB [sudah mulai beroperasi]," tutur Tasya.

Keramaian serupa dirasakan Nani, pedagang seragam lain di kawasan yang sama. Ia mengatakan, sebagian besar pelanggan datang untuk membeli satu paket perlengkapan sekolah sekaligus, bukan hanya seragam.
"Biasanya langsung [membeli seragam satu stel], enggak satu-satu," ujarnya di lokasi yang sama, Jumat.
"Sudah ada [pembeli], iya [puluhan seragam terjual]. Kan sudah mau mulai masuk sekolah [ajaran baru], jadi mulai ramai lagi [pembeli]," imbuh dia.
Nani menjual satu set seragam—terdiri dari baju dan celana pendek atau panjang—seharga Rp170 ribu. Adapun perlengkapan lain, seperti dasi, ikat pinggang, dan kaus kaki, dijual terpisah dengan harga mulai Rp10 ribu hingga Rp35 ribu.
Seperti toko lain di Pasar Senen, pembeli juga diberi kesempatan menukar ukuran selama barang tetap dalam kondisi baik.
"Kalau dikembaliin untuk tukar ukuran, ya boleh banget. Dikembaliin besoknya setelah beli boleh, [tapi] jangan sampai kotor saja," sebut dia.
Namun, ramainya pusat perbelanjaan itu tak selalu berarti para orang tua leluasa berbelanja. Banyak yang tetap harus menyesuaikan kebutuhan dengan isi dompet.
Herdi Suherdi (46) misalnya, hari itu hanya membawa pulang satu setel seragam untuk anaknya yang akan duduk di bangku SMA. "Satu dulu lah, duitnya terbatas," katanya di Pasar Senen, Jumat.
Bukan karena anaknya hanya membutuhkan satu seragam. Beberapa hari sebelumnya, Herdi baru mengeluarkan biaya besar untuk daftar ulang tiga anaknya yang bersekolah di sekolah swasta.
"Daftar ulang sekitar Rp1,8 juta, ada yang Rp1,6 juta. Sama tetek bengeknya hampir Rp4 juta lah," ungkap dia.
Karena itu, ia memilih membeli seragam di Pasar Senen. Menurutnya, harga seragam di luar sekolah jauh lebih terjangkau dibandingkan membeli langsung melalui sekolah.
"Seragam mahal kalau di sekolah kan, ya cari yang lebih murah," ucapnya.
Bagi Herdi, pengeluaran besar menjelang tahun ajaran baru merupakan siklus yang terus berulang. Baik anak bersekolah di negeri maupun swasta, selalu ada kebutuhan baru yang harus dipenuhi.
"Namanya orang tua, setiap habis naik kelas tuh ada aja pengeluarannya," keluhnya.
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id

































