tirto.id - Pemerintah berencana menerapkan mandatori kandungan 10 persen etanol dalam bahan bakar minyak (BBM). Campuran etanol dan BBM disebut akan membuat bahan bakar lebih ramah lingkungan. Namun, apakah ada batasnya?
Rencana untuk menerbitkan kewajiban pencampuran BBM dengan etanol disampaikan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia pada Selasa (7/9/2025).
Melansir Antara, Bahlil menyatakan bahwa rencana itu telah disetujui oleh Presiden RI, Prabowo Subianto.
"Kemarin malam sudah kami rapat dengan Bapak Presiden. Bapak Presiden sudah menyetujui untuk direncanakan mandatori 10 persen etanol," kata Bahlil.
Di dunia, pencampuran etanol dengan BBM sudah umum dilakukan. Namun, setiap negara cenderung punya ambang batas pencampuran yang berbeda-beda.
Pencampuran etanol juga bukan hal baru di Indonesia. Saat ini, campuran etanol sebesar 5 persen (E5) sudah diterapkan untuk Pertamax Green 95.
“Saat ini kami Pertamina sudah ada produk E5, yaitu Pertamax Green 95, jadi artinya itu 5 persennya adalah etanol,” ujar Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Simon Aloysius Mantiri dikutip dari Antara, Selasa (7/10).
Seperti dikutip dari Antara pada Rabu (8/10), Area Manager Communication, Relation and CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Tengah–DIY Taufik Kurniawan menjelaskan, etanol ini merupakan hasil fermentasi dari bahan bakar nabati, seperti tebu, jagung, atau singkong.
Bahan-bahan itu diolah sedemikian rupa sehingga menghasilkan molase yang bisa digunakan untuk sebagian pendukung atau bahan baku dari BBM.
Penjelasan Pemerintah soal Kandungan Etanol & Batasannya dalam BBM
Dijelaskan Bahlil dalam keterangannya pada Selasa, rencana penerbitan mandatori pencampuran 10 persen etanol dengan BBM dilakukan untuk membuatnya lebih ramah lingkungan.
"Agar tidak kita impor banyak dan juga untuk membuat minyak yang bersih, yang ramah lingkungan," katanya.
Oleh banyak negara di dunia, pencampuran etanol ke dalam BBM memang kerap dilakukan untuk menekan emisi karbon yang dihasilkan mesin, selain untuk menekan impor minyak mentah.
Menurut Direktur Eksekutif Pusat Kajian Ketahanan Energi untuk Pembangunan Berkelanjutan Universitas Indonesia (Puskep UI), Ali Ahmudi, dalam keterangannya untuk Antara pada Jumat (3/10) lalu, pencampuran 5-10 persen etanol dengan BBM sudah umum dilakukan di dunia.
"Itu sudah lazim dipakai dan berpengaruh sangat baik untuk lingkungan, mereduksi emisi karbon. Di Eropa, mereka biasa gunakan 5-8 persen," katanya.
Ali Ahmudi juga menjelaskan bahwa mayoritas mobil yang beredar kini telah adaptif dengan kandungan etanol dalam BBM karena memang telah dipersiapkan sejak diproduksi.
"Kendaraan 2010-an ke sini sudah relatif ramah lingkungan, teknologinya rata-rata sudah adaptif. Sudah dipersiapkan untuk itu. Justru di berbagai negara, jauh di atas 3,5 persen," katanya.
Direktur Jenderal energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, menjelaskan bahwa mobil yang beredar di Indonesia telah dilengkapi mesin yang adaptif dengan kandungan etanol dalam BBM.
"Sebetulnya, mobil-mobil mau merek apapun itu, sudah kompatibel dengan etanol. Secara teknis, secara kemampuan mesin, itu maksimal bisa 20 persen," katanya.
Seturut laman Penn State University, penggunaan etanol dalam bahan bakar memang dapat menekan emisi karbon yang dihasilkan mesin mobil/sepeda motor.
Selain itu, secara tak langsung, pencampuran etanol juga dapat menekan biaya produksi BBM karena biaya untuk memproduksi etanol sebesar 10 persen jauh lebih kecil dari biaya produksi BBM dengan jumlah yang sama.
Hal tersebut membuat banyak negara memilih mewajibkan pencampuran etanol ke dalam BBM yang beredar di negara mereka.
Di Eropa dan Amerika, BBM yang dicampur dengan etanol sebesar 10 persen itu dikenal dengan istilah BBM E10.
Amerika menerapkan batas minimum 10 persen etanol dalam BBM di sana melalui mandatori Renewable Fuel Standard (RFS). Sementara Eropa menerapkan batas minimum pencampuran etanol sebanyak 10 persen melalui Renewable Energy Directive.
Akan tetapi, masih berdasarkan laman universitas di AS itu, penggunaan BBM E10 bukan tanpa efek samping. Bahan bakar ini dapat membuat risiko korosi pada mesin yang tidak kompatibel meningkat.
Hal itu akan dirasakan terutama oleh kendaraan-kendaraan tua yang diproduksi tanpa mesin yang adaptif dengan etanol dan kendaraan yang tidak sering dipakai.
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Dicky Setyawan
Masuk tirto.id

































