Menuju konten utama

Benarkah Selingkuh Berkaitan dengan Genetik Keluarga?

Para peneliti mencurigai adanya peran genetik yang diwariskan oleh keluarga dalam tindakan selingkuh individu.

Benarkah Selingkuh Berkaitan dengan Genetik Keluarga?
Ilustrasi selingkuh. FOTO/iStockphoto

tirto.id - Sejak beberapa dekade terakhir, sejumlah peneliti mencurigai adanya peran genetik dalam tindakan selingkuh seseorang. Bahkan sedikit penelitian menemukan bahwa ada gen tertentu yang diduga mampu memegaruhi perilaku seseorang terkait selingkuh.

Banyaknya kasus perselingkuhan dilakukan oleh individu yang masih terikat dalam hubungan keluarga menjadi salah satu faktor penelitian tersebut dilakukan.

Selain itu, ada juga pandangan yang menyebut bahwa anak dari orang tua yang berselingkuh cenderung akan berselingkuh atau menjadi korban perselingkuhan saat mereka dewasa. Tentu diperlukan studi untuk membuktikan hal ini.

Kasus perselingkuhan memang sedang ramai belakangan ini. Kabar terbaru, tindak perselingkuhan diduga dilakukan oleh aktris Syahnaz Sidiqah dengan aktor Rendy Kjaernett.

Keduanya dituduh berselingkuh oleh istri Rendy Kjaernett, Lady Veronica Nayoan dan menjadi viral di media sosial.

Namun, yang menjadi sorotan warganet adalah kasus serupa juga pernah terjadi pada kakak Syahnaz, Raffi Ahmad dan sepupunya Alshad Ahmad. Raffi Ahmad pada 2017 lalu sempat dituduh berselingkuh dengan pedangdut Ayu Ting Ting.

Sedangkan, Alshad Ahmad pada 2022 dikabarkan menghamili kekasihnya non-artisnya sekaligus menjalin hubungan dengan penyanyi Tiara Andini.

Benarkah Selingkuh Berkaitan dengan Genetik Keluarga?

Berdasarkan studi yang dilakukan oleh peneliti di Bringhamton University, New York pada 2010 ada gen tertentu yang diduga dapat memicu individu berselingkuh.

Dikutip dari studi yang diunggah di jurnal Plos One (2010) partisipan penelitian yang memiliki jenis gen DRD4 lebih mungkin untuk selingkuh dari pada yang tidak.

Gen DRD4 sendiri dikenal sebagai gen 'pencari sensasi'. Gen ini dimiliki oleh sekitar 20 persen dari populasi manusia yang diwariskan dari orang tua ke anak.

Para ilmuwan memang telah mencurigai bahwa tindakan menipu dan berbohong disebabkan oleh polimorfisme DRD4 reseptor dopamin. Gen ini juga dikaitkan dengan tindak alkoholisme dan perjudian.

Adapun, studi yang dilakukan di New York itu melibatkan 181 orang partisipan yang berusia dewasa muda. Mereka diminta mengisi kuesioner tentang perilaku seksual mereka.

Selain itu, para partisipan menyerahkan sampel DNA untuk diuji apakah ada variasi DRD4 dalam DNA mereka. Hasilnya, ditemukan bahwa setiap orang yang memiliki gen DRD4 lebih rentan untuk mencari sensasi.

Artinya, mereka cenderung lebih tertarik pada godaan yang seharusnya tidak mereka lakukan, seperti selingkuh tanpa alasan.

Menurut peneliti utama studi tersebut, Justin R. Gracia, kecenderungan mencari sesnsasi ini timbul akibat pelepasan hormon dopamin. Hormon dopamin bertindak dalam memberikan rasa senang dan motivasi pada seseorang.

Gracia menyebutkan bahwa orang yang memiliki gen DRD4 cenderung membutuhkan kegiatan atau aktivitas yang lebih ekstrem dari pada kebanyakan orang untuk merangsang dopamin keluar.

"Orang dengan gen DRD4 membutuhkan lebih banyak rangsangan untuk merasa kenyang," kata Garcia seperti yang dikutip dari ABC News.

Masih berdasarkan hasil dari penelitian, orang-orang dengan kecenderungan semacam ini lebih sulit menahan diri untuk melakukan hal-hal yang tidak seharusnya mereka lakukan.

Namun, Gracia menegaskan bahwa klaim penelitiannya masih terbatas dan para ahli tidak boleh membuat asumsi terkait hal ini.

Penyebab Seseorang Berselingkuh

Meskipun faktor genetik dicurigai, namun ada faktor lainnya yang juga memengaruhi tindakan berselingkuh. Dikutip dari Psychology Today, berikut beberapa penyebab seseorang selingkuh:

1. Eksplorasi Diri

Bagi pelaku, tindakan selingkuh adalah bentuk eksplorasi diri yang tidak pernah ia alami. Tindakan ini membuat mereka merasakan kebebasan dari siapa mereka dulu dan sekarang.

Uniknya, mereka biasanya tidak ingin mengubah siapa mereka. Mereka hanya ingin melepaskan diri dari kendala-kendala itu untuk sementara waktu dan kembali lagi ke diri mereka setelah puas.

2. Ingin mencoba melanggar peraturan

Pelaku selingkuh, yang sudah punya kehidupan bahagia, cenderung melakukan selingkuh untuk mencoba melanggar peraturan.

Sebagai contoh, pelaku selingkuh dulu tidak pernah melakukan hubungan seks ketika mereka remaja dan mereka ingin melakukan itu ketika sudah memiliki pasangan.

Menurut prikoterapis Esther Perel, tindakan ini mirip seperti anak usia 5 tahun yang tetap makan makanan manis meski dilarang oleh ibunya. Kue yang dilarang untuk dimakan biasanya akan terasa lebih manis dan nikmat.

3. Ingin merasakan emosi baru

Orang yang berselingkuh biasanya melakukan tindakannya untuk merasakan emosi baru. Ini lagi-lagi berkaitan dengan keinginan eksplorasi diri.

Sayangnya, ketika orang dewasa, kegiatan mengeksplorasi diri cenderung lebih terbatas karena mereka perlu bertanggung jawab atas diri mereka sendiri atau keluarga mereka.

Baca juga artikel terkait LIFESTYLE atau tulisan lainnya dari Yonada Nancy

tirto.id - Gaya hidup
Penulis: Yonada Nancy
Editor: Yantina Debora