tirto.id - Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengungkap temuan adanya beras oplosan bermerek yang dijual di supermarket. Mentan bahkan telah menyerahkan sebanyak 212 nama produsen beras ke pihak berwajib untuk dilakukan pengusutan.
Sejak Juni 2025 kemarin, Mentan bersama Satgas Pangan mengadakan survei ke 10 provinsi di Indonesia dan mengambil 268 sampel beras yang dijual di pasaran.
Dari 136 sampel beras premium, ditemukan 85,56 persen tidak sesuai ketentuan; 59,78 persen tidak sesuai harga eceran tertinggi (HET); serta 21,66 persen tidak sesuai berat kemasan.
Diambil juga sampel 76 merek beras medium dan ditemukan sebanyak 88,24 persen tidak sesuai mutu beras; 95,12 persen tidak sesuai HET; serta 9,38 persen tidak sesuai berat kemasan.
Mentan Minta Polisi Usut Tuntas Mafia Beras
Mentan Andi Amran Sulaiman mengatakan awal kecurigaan praktik curang produsen beras ini setelah mengetahui jika harga beras di pasaran ternyata tetap tinggi padahal stok beras Indonesia saat ini sedang melimpah.
Setelah dilakukan pengambilan sampel secara acak dan di beberapa lokasi, serta dilakukan uji di 10 laboratorium berbeda, ditemukan adanya indikasi kecurangan.
Setelah mengungkap penemuannya terkait hal itu, Mentan Andi Amran pun menyerahkan sebanyak 212 nama produsen beras yang dicurigai telah melakukan kecurangan seperti temuannya kepada Polisi.
"Ada 212 yang tidak sesuai regulasi yang ada, premium maupun medium. Kami sudah kirim ke Pak Kapolri, surat tertulis, dan ke Pak Jaksa Agung. Kami juga bicara via telepon, hari ini menurut Ketua Satgas (Pangan Polri) memulai pemanggilan (kepada 212 pemilik merek tersebut)," ungkap Mentan dikutip Antara (30/7).
Mentan juga mengaku tak takut sedikitpun jika ia menjadi sasaran dari pihak-pihak yang merasa dirugikan dengan adanya penemuan beras oplosan yang diungkap ke publik.
"Kami tidak peduli yang penting kami di posisi membela rakyat Indonesia, membela petani Indonesia, membela yang ada di level bawah. Kami siap segala risiko, kami siap tanggung," tegasnya.
"Tidak boleh kita biarkan, aku tahu ini risikonya besar, kami mulai diserang. Tidak masalah, jiwa ragaku untuk Merah Putih, kami siap untuk Merah Putih," tambahnya lagi.
Modus beras oplosan ini adalah dengan mengambil 80 persen beras SPHP dan dicampur lalu dijadikan beras premium. Sisa 20 persennya dijual sesuai ketentuan di kios-kios.
Akibat beras oplosan ini, kerugian negara ditaksir mencapai Rp10 triliun dalam lima tahun terakhir.
Merek yang Diduga Beras Oplosan
Menurut laman resmi Tribrata News, saat ini Satgas Pangan Polri telah memanggil empat produsen beras yang diduga telah dioplos. Mereka adalah:
- Wilmar Group yang memproduksi beras merek Sania, Sovia, Fortune, dan Siip.
- Food Station Tjipinang Jaya yang memproduksi Beras Premium Setra Ramos, Beras Pulen Wangi, Food Station, Ramos Premium, Setra Pulen, dan Setra Ramos.
- PT Sentosa Utama Lestari (Japfa Group) yang memproduksi beras merek Ayana.
- PT Belitang Panen Raya yang memproduksi beras merek Raja Platinum dan Raja Ultima.
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id


































