tirto.id - Di balik tren glamping maupun camping yang estetik, ada risiko yang jarang disadari. Peralatan kemah yang digunakan bisa berubah menjadi "senjata makan tuan" jika digunakan dengan salah atau tanpa pemahaman yang benar.
Belum lama ini masyarakat dikejutkan dengan kabar meninggalnya sebuah keluarga saat glamping. Empat anggota keluarga asal Ambarawa, Kabupaten Semarang, ditemukan meninggal dunia di dalam tenda di kawasan wisata Posong, Temanggung, pada Rabu (27/5/2026).
Awalnya, polisi menduga korban mengalami keracunan makanan. Namun, hasil pemeriksaan mengarah pada dugaan keracunan gas karbon monoksida atau karbon dioksida akibat asap barbeque maupun kebocoran gas portabel yang terperangkap di dalam tenda dengan ventilasi minim.
Saat ini kepolisian belum memberikan konfirmasi pasti karena masih menunggu hasil laboratorium forensik dan autopsi. Namun, kejadian ini menjadi pengingat akan adanya bahaya yang mengancam apabila peralatan camping tidak digunakan dengan benar.
Beberapa perlengkapan berkemah justru bisa memicu petaka, mulai dari risiko kebakaran, keracunan, hipotermia, hingga cedera parah apabila salah dalam mengoperasikannya. Di sini kita akan mengulas deretan perlengkapan camping dan risiko bahayanya yang patut diwaspadai.
Mengapa Peralatan Camping Bisa Berbahaya?

Camping dilakukan di ruang terbuka atau di tengah alam liar sehingga kita membutuhkan banyak perlengkapan. Jadi, pada dasarnya, peralatan camping memang dirancang dengan satu tujuan utama, yaitu membantu penggunanya bertahan hidup sekaligus tetap nyaman selama berkemah.
Mengingat kondisi luar ruangan yang tidak menentu, bahkan sering kali ekstrem, peralatan kemah biasanya memanfaatkan elemen-elemen seperti api, gas, hingga bahan kimia. Namun, alat-alat tersebut juga punya satu syarat mutlak, yaitu lingkungan penggunaan yang tepat.
Sebagai contoh, kompor portabel dan peralatan barbeque dirancang untuk digunakan di ruang terbuka. Alam bebas menyediakan ventilasi alami tanpa batas yang berfungsi untuk mengurai gas buang berbahaya.
Ketika alat-alat ini dinyalakan, mereka membutuhkan pasokan oksigen yang konstan untuk menghasilkan pembakaran yang sempurna sekaligus membuang sisa pembakaran langsung ke udara bebas.
Masalah muncul ketika peralatan yang seharusnya digunakan di area terbuka malah dipakai di dalam tenda atau area tertutup dengan ventilasi minim. Ada banyak risiko yang bisa terjadi, mulai dari tenda yang terbakar, keracunan gas tanpa disadari, hingga cedera akibat kurangnya kehati-hatian dalam menggunakan alat.
Dengan kata lain, alat yang harusnya melindungi dan membuat kita nyaman selama camping, justru berbalik jadi ancaman fatal jika salah dalam menggunakannya.
Portable Stove dan Gas Kaleng Bisa Memicu Keracunan

Kompor portabel dan tabung gas kaleng sudah jadi perlengkapan wajib berkemah, terutama saat glamping,karena memudahkan kita dalam memasak makanan. Meski ukurannya ringkas, alat ini menyimpan risiko besar jika tidak digunakan secara bijak.
Salah satu ancaman paling fatal yang mengintai adalah keracunan gas karbon monoksida (CO). Kompor portabel dilarang untuk dinyalakan di dalam tenda yang tertutup rapat atau area dengan sirkulasi udara minim.
Tanpa ventilasi yang baik, akan terjadi pembakaran tidak sempurna yang dapat menghasilkan gas monoksida, sebuah gas beracun yang tidak berwarna, tidak berbau, dan sulit dideteksi, tapi bisa mematikan.
Jika kompor dinyalakan di dalam tenda dengan minim ventilasi, pasokan oksigen akan menipis dengan cepat, sementara kadar gas CO justru menumpuk hingga mencapai level yang mematikan bagi tubuh.
Selain risiko keracunan gas, penggunaan kompor di dalam tenda juga dapat meningkatkan potensi kebakaran akibat percikan api atau panas yang mengenai material tenda yang mudah terbakar.
Oleh karena itu, aktivitas memasak sebaiknya dilakukan di area terbuka agar tenda tidak terkena percikan api dan agar gas hasil pembakaran dapat terbuang dengan aman di alam bebas.
Kebocoran dan Overheating Tabung Gas
Selain karbon monoksida, pengguna juga perlu mewaspadai kemungkinan kebocoran gas dari tabung gas portabel Kebocoran dapat terjadi akibat pemasangan yang kurang baik, kerusakan pada regulator, atau kondisi tabung yang sudah tidak layak pakai.Jika gas yang bocor terkena sumber api, tentu ada risiko kebakaran yang sulit dihindari. Bahaya bisa semakin parah jika aktivitas memasak dilakukan di dalam tenda yang mudah terbakar.
Risiko lain yang patut diwaspadai adalah overheating atau panas berlebih pada tabung gas. Kondisi ini dapat terjadi ketika kompor digunakan dalam waktu lama atau menggunakan peralatan memasak yang ukurannya terlalu besar sehingga panas dari alat masak justru mengenai tabung.
Suhu yang terlalu tinggi dapat meningkatkan tekanan di dalam tabung gas dan berpotensi menyebabkan ledakan. Maka dari itu, pengguna dianjurkan untuk selalu mengikuti petunjuk penggunaan dan memastikan kondisi peralatan dalam keadaan baik sebelum digunakan.
Arang dan Alat BBQ Tidak Aman Dipakai di Ruang Tertutup

Aktivitas memanggang menggunakan arang dan peralatan barbeque (BBQ) umum dilakukan saat berkemah, tapi penggunaannya juga harus hati-hati. Arang dan alat BBQ dirancang untuk digunakan di area terbuka dan sangat tidak disarankan digunakan di dalam tenda.
Pembakaran arang di ruang tertutup dapat menimbulkan bahaya serius karena menghasilkan karbon monoksida (CO). Tanpa ventilasi atau sirkulasi udara yang baik, gas CO akan menumpuk di dalam tenda dan tidak sadar akan dihirup oleh orang di dalamnya.
Gejala yang dapat terjadi saat keracunan gas CO meliputi pusing, lemas, mual, merasa kelelahan, hingga sesak napas. Karena gejalanya tidak terlalu spesifik (mirip kelelahan biasa) dan gas CO memang tidak berbau, orang tidak akan sadar bahwa dirinya sedang keracunan.
Jika terus berada dalam tenda yang penuh gas CO, maka akibatnya bisa sangat fatal dan menyebabkan mati lemas.
Dikutip dari situs U.S. Consumer Product Safety Commission (CPSC), kasus kematian akibat keracunan CO dari arang sudah sering terjadi, baik untuk menghangatkan diri atau memanggang makanan.
CPSC juga menegaskan bahwa arang tidak boleh digunakan di dalam rumah, kendaraan, tenda, maupun camper, meskipun ada ventilasi. Arang yang masih menyala atau belum sepenuhnya padam tetap menghasilkan gas CO sehingga tidak boleh disimpan di dalam ruangan setelah digunakan.
Jadi, jika ingin memakai alat BBQ atau memanggang makanan dengan arang, pastikan dilakukan di ruang terbuka. Jika sudah selesai, jangan pernah menyimpan arang sisa BBQ di dalam tenda dan biarkan saja di luar.
Sleeping Bag yang Salah Bisa Memicu Hipotermia

Selain alat masak, perlengkapan lain yang juga sering dibawa camping adalah sleeping bag. Yang berfungsi menjaga suhu tubuh tetap hangat saat tidur atau beristirahat. Namun, memilih sleeping bag yang tidak sesuai dengan kondisi lingkungan juga dapat berbahaya.
Kondisi suhu di lokasi camping dapat berbeda secara signifikan. Area pantai umumnya memiliki suhu malam yang relatif lebih hangat, meskipun tetap bisa terasa dingin akibat angin laut.
Sementara itu, kawasan pegunungan cenderung memiliki suhu yang jauh lebih rendah, terutama pada malam hingga dini hari. Perbedaan kondisi inilah yang membuat perlengkapan tidur perlu disesuaikan dengan tujuan camping.
Salah satu hal yang perlu diperhatikan saat memilih sleeping bag adalah nilai comfort rating. Comfort rating pada sleeping bag adalah indikator suhu terendah yang masih memungkinkan seseorang tidur dengan nyaman tanpa merasa kedinginan.
Dikutip dari situs REI, rating ini diperoleh melalui pengujian standar internasional di laboratorium sehingga dapat digunakan sebagai acuan untuk membandingkan tingkat kehangatan sleeping bag dari berbagai merek.
Meski demikian, comfort rating bukan jaminan mutlak bahwa semua orang akan merasa hangat pada suhu tersebut. Kenyamanan saat tidur bisa dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti kondisi cuaca, kelembapan, pakaian yang dikenakan, penggunaan alas tidur (sleeping pad), serta kondisi fisik masing-masing pengguna.
Salah satu hal yang penting adalah tidak menggunakan sleeping bag yang terlalu tipis, apalagi jika hendak berkemah di dataran tinggi atau wilayah pegunungan yang dingin.
Sleeping bag yang terlalu tipis dapat membuat tubuh kehilangan panas lebih cepat. Akibatnya, tubuh harus bekerja lebih keras untuk mempertahankan suhu normal. Kondisi ini dapat menyebabkan rasa menggigil, tidur tidak nyenyak, hingga menurunnya kondisi fisik keesokan harinya.
Dalam situasi yang lebih serius, paparan suhu dingin dalam waktu lama dapat meningkatkan risiko hipotermia, yaitu kondisi ketika suhu tubuh turun di bawah batas normal.
Untuk mengurangi risiko tersebut, kita sangat disarankan memilih sleeping bag yang berkualitas dan sesuai dengan kondisi cuaca atau lokasi tujuan. Selain itu, penggunaan alas tidur yang baik, pakaian hangat, serta tenda yang mampu melindungi dari angin juga dapat membantu menjaga suhu tubuh tetap stabil.
Lampu Camping dan Power Bank Bisa Memicu Kebakaran

Dalam hal pencahayaan, lampu camping isi ulang sering digunakan karena praktis serta tidak butuh api atau listrik secara langsung. Namun, agar bisa menyala dalam waktu lama, kita juga butuh pengisi daya atau power bank.
Baik lampu camping maupun power bank, keduanya biasanya menggunakan baterai lithium yang memiliki kapasitas besar dan mampu menyimpan energi dalam jumlah tinggi. Meski praktis, baterai lithium ternyata juga memiliki risiko tertentu apabila tidak digunakan dengan tepat.
Cara pakai yang salah seperti overcharge, adanya kerusakan pada komponen lampu dan power bank, kabel yang rusak/terkelupas, atau perangkat yang terpapar suhu tinggi (misalnya akibat diletakkan di dekat sumber api/panas, semuanya bisa menyebabkan panas berlebih dan meningkatkan risiko kebakaran.
Jika terjadi di dalam tenda yang penuh dengan material mudah terbakar, kebakaran yang lebih besar bukan tidak mungkin terjadi dan dapat membahayakan nyawa.
Oleh karena itu, pengguna sangat disarankan untuk selalu memeriksa kondisi perangkat elektronik sebelum digunakan, memakai perangkat dan kabel yang masih layak pakai, serta menghentikan penggunaan ketika ditemukan tanda-tanda kerusakan maupun overheating pada perangkat.
Pisau Lipat dan Kapak Camping Sering Diremehkan

Bahaya tidak hanya muncul pada peralatan yang menghasilkan panas/api maupun arus listrik. Alat-alat camping seperti pisau lipat dan kapak juga memiliki risiko tersendiri.
Pisau lipat dan kapak sering digunakan untuk berbagai keperluan di alam terbuka, mulai dari menyiapkan bahan makanan hingga memotong ranting atau kayu bakar. Meski terlihat sederhana, kedua alat ini tetap memiliki risiko cedera cukup tinggi apabila digunakan tanpa kehati-hatian.
Luka sayat pada tangan dan jari sering terjadi saat memotong makanan atau membuka pisau secara terburu-buru, sementara penggunaan kapak yang tidak tepat dapat menyebabkan cedera akibat alat terpeleset atau salah sasaran saat memotong kayu.
Untuk mengurangi risiko kecelakaan, pisau dan kapak perlu disimpan dengan aman ketika tidak digunakan. Pengguna disarankan selalu memasang sarung pelindung pada mata pisau atau bilah kapak sebelum dimasukkan ke dalam tas.
Selain melindungi pengguna dari luka yang tidak disengaja, sarung pelindung juga membantu menjaga ketajaman alat dan mencegah kerusakan pada perlengkapan lainnya.
Tenda yang Dipasang Salah Bisa Membahayakan

Tenda jadi perlengkapan utama dalam kegiatan camping, tapi pemasangan yang kurang tepat juga dapat menimbulkan bahaya bagi penghuninya. Salah satunya adalah ventilasi yang buruk akibat seluruh bukaan tenda ditutup rapat tanpa mempertimbangkan sirkulasi udara.
Kondisi ini akan membuat udara di dalam tenda terasa pengap, meningkatkan kelembapan, serta memperbesar risiko penumpukan asap atau gas berbahaya apabila terdapat aktivitas memasak atau penggunaan alat pemanas di dalamnya.
Selain itu, pemasangan tiang dan pasak yang tidak kuat juga dapat menyebabkan tenda mudah roboh saat diterpa angin kencang atau hujan deras.
Pemilihan lokasi saat mendirikan tenda juga tidak kalah penting. Tenda sebaiknya didirikan di area yang datar, stabil, dan jauh dari potensi bahaya di sekitarnya. Mendirikan tenda terlalu dekat dengan tepi jurang dapat meningkatkan risiko kecelakaan, terutama saat kondisi gelap atau cuaca buruk.
Mendirikan tenda juga sebaiknya jangan terlalu dekat dengan aliran air seperti sungai atau air terjun karena berisiko adanya kemungkinan banjir dadakan atau kenaikan debit air setelah hujan di wilayah hulu.
Cooler Box dan Penyimpanan Makanan yang Tidak Tepat

Salah satu perlengkapan berkemah yang juga sering digunakan adalah cooler box. Alat ini kerap dipakai untuk menjaga makanan dan minuman tetap segar selama berada di alam terbuka. Namun, fungsinya akan benar-benar optimal jika penyimpanan makanan dilakukan dengan benar.
Suhu di dalam cooler box yang tidak cukup dingin, sering dibuka-tutup, atau makanan yang disimpan terlalu lama dapat mempercepat pertumbuhan bakteri yang malah menyebabkan makanan cepat basi.
Selain itu, kita juga perlu mewaspadai adanya kontaminasi silang. Hal ini umumnya dipicu oleh penataan logistik atau makanan yang asal-asalan. Sebagai contoh, bahan makanan mentah (misalnya ikan segar) diletakkan bersebelahan tanpa sekat atau menempel langsung dengan makanan siap santap.
Kontaminasi semacam ini berpotensi menyebabkan keracunan makanan. Untuk mengurangi risiko tersebut, bahan makanan mentah sebaiknya disimpan dalam wadah tertutup dan terpisah, sementara cooler box perlu dijaga tetap dingin dan dibuka seperlunya selama camping berlangsung.
Cara Camping Lebih Aman agar Tetap Nyaman

Camping maupun glamping dapat menjadi pengalaman healing yang menyenangkan jika dilakukan dengan persiapan matang. Selain membawa perlengkapan yang memadai, kita juga perlu memahami cara penggunaan peralatan dan potensi risiko yang mungkin muncul selama berada di alam terbuka.
Untuk meminimalkan risiko kecelakaan maupun gangguan kesehatan, berikut beberapa tips yang bisa dilakukan sebelum berangkat berkemah:
1. Cek Ventilasi Tenda
Pastikan tenda memiliki ventilasi yang cukup untuk menjaga sirkulasi udara tetap lancar. Ventilasi yang baik membantu pasokan oksigen tetap lancar, mencegah udara pengap, serta mengurangi risiko penumpukan asap atau gas berbahaya di dalam tenda.2. Jangan Masak di Dalam Tenda
Hal penting yang wajib dipatuhi adalah jangan memasak di dalam tenda, meskipun memiliki ventilasi, karena dapat meningkatkan risiko kebakaran serta paparan karbon monoksida yang berbahaya bagi tubuh. Jika menggunakan arang, jangan membawa atau menyimpan arang sisa masak/BBQ di dalam tenda.3. Cek Peralatan sebelum Dipakai
Sebelum berangkat camping, luangkan waktu untuk memeriksa kondisi seluruh perlengkapan yang akan digunakan. Pastikan kompor berfungsi dengan baik, tabung gas tidak bocor, baterai perangkat elektronik dalam kondisi aman, serta tenda dan sleeping bag tidak mengalami kerusakan.4. Bawa Perlengkapan P3K
P3K yang berisi obat-obatan dan alat medis dasar harus jadi perlengkapan yang wajib ada selama kegiatan camping. Peralatan ini dapat digunakan untuk menangani cedera ringan seperti luka sayat, lecet, gigitan serangga, atau keluhan kesehatan mendadak.5. Pahami Cuaca di Lokasi Camping
Sebelum berangkat, periksa prakiraan cuaca dan pelajari kondisi lingkungan di lokasi tujuan. Informasi mengenai suhu di malam hari, potensi hujan, kecepatan angin, hingga risiko cuaca ekstrem dapat membantu kita dalam mempersiapkan perlengkapan yang sesuai.Jangan ragu untuk bertanya pada mereka yang pernah berkemah di lokasi yang sama atau orang-orang yang memang lebih berpengalaman dalam hal camping.
Persiapan yang matang tidak hanya membuat kita paham dengan risiko, tapi juga membuat kita lebih siap menghadapi tantangan yang mungkin terjadi di alam terbuka. Persiapan yang baik juga akan membuat aktivitas camping menjadi lebih aman, nyaman, dan terhindar dari berbagai hal buruk yang tidak diinginkan.
Penulis: Erika Erilia
Editor: Erika Erilia & Yulaika Ramadhani
Masuk tirto.id

































