Menuju konten utama

Bapeten: Bahan Bakar Reaktor Nuklir di Serpong Habis

Kebutuhan bahan bakar untuk reaktor nuklir di Serpong selama ini hanya diproduksi oleh PT Industri Nuklir Indonesia (INUKI).

Bapeten: Bahan Bakar Reaktor Nuklir di Serpong Habis
Ilustrasi limbah Radioaktif. FOTO/iStockPhoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten) mengungkap bahwa bahan bakar reaktor nuklir milik Indonesia di Serpong saat ini sudah habis.

Hal ini diungkapkan Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten), Zainal Arifin, dalam rapat bersama Komisi XII DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (9/9/2026).

"Ini keterkaitan INUKI yang sampai saat ini belum terselesaikan. Sampai saat ini kami sampaikan bahwa info yang saya terima bahan bakar reaktor nuklir sudah habis," kata Zainal.

Masalahnya, kata Zainal, kebutuhan bahan bakar untuk reaktor di Serpong tidak dapat serta-merta dipenuhi dengan membeli dari negara lain. Sebab, menurut dia, bahan bakar untuk reaktor tersebut selama ini hanya diproduksi oleh PT Industri Nuklir Indonesia (INUKI).

"Bahan bakar nuklir untuk reaktor di Serpong itu tidak bisa serta merta kita membeli dari negara lain karena itu hanya diproduksi oleh PT INUKI," kata Zainal.

Di sisi lain, proses serah terima aset dari PT INUKI kepada Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) hingga kini belum terselesaikan. Zainal mengatakan persoalan tersebut mestinya menjadi perhatian karena di fasilitas INUKI masih terdapat uranium sekitar 20 kilogram.

"Yang perlu menjadi perhatian Bapak Ibu, karena di INUKI masih tersedia uranium sekitar 20 kilogram, setara 1 bom nuklir, ini yang menjadi perhatian kita semua," katanya.

Selain itu, sejumlah fasilitas di INUKI yakni Gedung 10 dan Gedung 60 masih memerlukan penanganan proses dekontaminasi. Menurut Zainal, meski kegiatan usaha INUKI sudah tidak berjalan, kewajiban terkait keselamatan dan keamanan nuklir tetap harus dipenuhi.

"Bapak ibu semuanya, Gedung 10 maupun Gedung 60 masih memerlukan dekontaminasi. Meskipun kondisi usaha sudah tidak berjalan, kewajiban terhadap keselamatan, keamanan, dan safeguards secara nasional maupun internasional masih harus dilakukan," tuturnya.

Baca juga artikel terkait REAKTOR NUKLIR atau tulisan lainnya dari Rahma Dwi Safitri

tirto.id - Flash News
Reporter: Rahma Dwi Safitri
Penulis: Rahma Dwi Safitri
Editor: Bayu Septianto