tirto.id - Salah satu dari empat firma akuntansi terbesar di dunia, yakni Deloitte ketahuan menggunakan artificial intelligence (AI) dalam membuat laporan senilai 290.000 dolar AS (Rp4,8 miliar) untuk membantu pemerintah Australia menindak tegas program kesejahteraan sosial. Kasus tersebut terungkap setelah seorang peneliti melaporkan adanya penggunaan AI dalam laporan Deloitte.
Perusahaan anggota Deloitte di Australia diketahui akan membayar pengembalian dana sebagian kepada pemerintah atas laporan senilai 290.000 dolar AS, yang diduga keliru akibat penggunaan AI, termasuk referensi ke makalah penelitian akademis yang tidak ada dan kutipan palsu dari putusan pengadilan federal.
Laporan tersebut awalnya diterbitkan di situs web Departemen Ketenagakerjaan dan Hubungan Kerja pemerintah Australia pada bulan Juli. Versi revisinya diam-diam diterbitkan pada Jumat lalu (7/11/2025) setelah peneliti hukum kesehatan dan kesejahteraan Universitas Sydney, Chris Rudge, mengatakan bahwa ia telah memberi tahu media terkait laporan tersebut yang "penuh dengan referensi palsu."
Melansir dari Afr, Deloitte awalnya tidak memberi tahu departemen ketenagakerjaan terkait penggunaan kecerdasan buatan dalam penyusunan laporan tersebut. Namun mereka baru mengakuinya setelah ditegur karena adanya kekeliruan dalam laporan itu.
Deloitte meninjau laporan itu sendiri dengan tebal 237 halaman dan mengonfirmasi bahwa beberapa catatan kaki dan referensi memang tidak benar, kata departemen ketenagakerjaan tersebut dalam sebuah pernyataan pada hari Selasa (11/11/2025).
Lebih jauh, versi revisi laporan tersebut juga mencakup pengungkapan adanya penggunaan sistem bahasa AI generatif, dan Azure OpenAI. Laporan revisi itu juga telah menghapus kutipan palsu yang dikaitkan dengan hakim pengadilan federal dan referensi ke laporan palsu yang dikaitkan dengan pakar hukum dan rekayasa perangkat lunak.
Deloitte mencatat dalam bagian "Pembaruan Laporan" bahwa versi yang diperbarui, tertanggal 26 September, menggantikan laporan yang diterbitkan pada bulan Juli. "Pembaruan yang dilakukan sama sekali tidak memengaruhi atau memengaruhi konten substantif, temuan, dan rekomendasi dalam laporan," tulis Deloitte, dikutip dari Fortune, Rabu (12/10/2025).
Sementara itu, pada akhir Agustus, Australian Financial Review pertama kali melaporkan bahwa dokumen tersebut mengandung beberapa kesalahan, setelah Rudge sebagai peneliti mengidentifikasi ketidakakuratan yang dihasilkan oleh AI.
Rudge juga menemukan kesalahan dalam laporan tersebut ketika ia membaca bagian yang salah yang menyatakan bahwa Lisa Burton Crawford, seorang profesor hukum publik dan ketatanegaraan di Universitas Sydney, telah menulis sebuah buku yang tidak ada dengan judul di luar bidang keahliannya.
"Saya langsung tahu itu halusinasi AI atau rahasia dunia yang paling terjaga karena saya belum pernah mendengar tentang buku itu dan kedengarannya tidak masuk akal," ujar Rudge.
Penulis: Natania Longdong
Editor: Dwi Aditya Putra
Masuk tirto.id
































