Menuju konten utama

Banjir Bandang Nepal 2026, Sinyal Krisis Iklim di Himalaya?

Banjir bandang Nepal dan Tibet dipicu runtuhan gletser. Perubahan iklim diduga memperbesar risiko bencana di kawasan Himalaya.

Banjir Bandang Nepal 2026, Sinyal Krisis Iklim di Himalaya?
Seorang petugas penyelamat bencana mengamati lokasi bangunan yang rusak akibat banjir bandang di Trishuli Bazar, Distrik Nuwakot, Nepal, pada 29 Agustus 2026. (Photo by MANAN VATSYAYANA / AFP)
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Banjir bandang yang menerjang wilayah Nepal dan Tibet, Cina pada 26 Agustus 2026 menimbulkan pertanyaan lebih besar dari sekadar apa yang menjadi pemicu langsung bencana. Peristiwa yang diawali runtuhnya bagian gletser itu dipercaya para ahli sebagai sinyal krisis iklim di Himalaya.

Analisis awal bencana tersebut menunjukkan bahwa runtuhan gletser memicu aliran debris besar, sedangkan energi seismik yang semula diduga berasal dari gempa justru berkaitan dengan runtuhan material itu sendiri.

Longsoran yang melibatkan es, batuan, air, dan material sedimen meluncur ke lembah, membendung aliran sungai, lalu menghasilkan gelombang banjir besar yang bergerak puluhan hingga hampir 100 kilometer ke wilayah berpenduduk.

Hingga 31 Agustus, data terbaru yang dilaporkan Reuters menyebut 903 orang meninggal di Nepal dan 4.247 orang masih hilang, sedangkan di wilayah Gyirong, Tibet, Cina, tercatat 16 orang meninggal dan 546 orang hilang.

Investigasi Awal Penyebab Banjir Bandang Nepal

Rekonstruksi awal menunjukkan bahwa sumber bencana berada di kawasan tinggi Himalaya, di sekitar Langtang Lirung di Nepal, dekat perbatasan dengan Cina. Investigasi awal sempat memunculkan dugaan bahwa sebuah gempa bumi menjadi pemicu, namun analisis berikutnya menunjukkan gambaran yang berbeda.

Survei dan analisis geologi dari U.S. Geological Survey (USGS) menemukan bahwa kegagalan lereng yang melibatkan gletser justru menghasilkan energi seismik yang setara dengan sekitar gempa bermagnitudo 5,2.

Itu menandakan jika getaran yang terekam bukanlah gempa yang menyebabkan longsoran, melainkan energi dari runtuhan material itu sendiri yang terasa seperti gempa.

USGS masih berhati-hati dalam menentukan apakah kejadian awal tersebut lebih tepat disebut longsoran yang membawa bagian gletser atau keruntuhan gletser, tetapi keduanya memunculkan pemahaman dasar yang sama yakni massa es dan batuan dalam jumlah besar bergerak sangat cepat menuruni lereng.

Material yang jatuh dari kawasan tinggi tersebut kemudian masuk ke sistem sungai dan diduga sempat membendung Lhende Khola, salah satu aliran yang terhubung dengan sistem Bhote Koshi.

Bendungan alami yang terbentuk dari es, batuan, lumpur, dan material longsoran membuat air tertahan untuk sementara. Ketika tekanan air meningkat dan penghalang tersebut gagal menahan beban, air kemudian menerobos secara tiba-tiba.

Pada titik ini peristiwa geologi di pegunungan berubah menjadi bencana hidrologi yang bergerak ke wilayah hilir. Air tidak mengalir sendirian, tetapi membawa bongkahan batu, lumpur, es, pasir, kayu, dan material lain sehingga membentuk aliran yang jauh lebih destruktif daripada banjir sungai biasa.

Banjir Bandang Nepal

Sejumlah rumah tampak terendam sebagian dalam air berlumpur di tepi sungai setelah banjir bandang melanda Trishuli Bazar di distrik Nuwakot, Nepal, pada 26 Agustus 2026. Banjir besar menerjang distrik Rasuwa di wilayah utara Nepal pada 26 Agustus. (Photo by Prabin RANABHAT / AFP)

Mengapa Banjir Nepal Begitu Besar?

Salah satu faktor yang membuat bencana ini sangat merusak adalah karakter geografis Himalaya. Wilayah tersebut memiliki lereng yang sangat curam dan lembah-lembah sempit. Ketika massa air dan material bergerak dari ketinggian menuju lembah, gravitasi mempercepat pergerakannya.

Data hidrologi dari International Centre for Integrated Mountain Development (ICIMOD) menunjukkan betapa cepatnya gelombang banjir tersebut. Ketinggian air di Sungai Trishuli dilaporkan naik sekitar sembilan meter hanya dalam 30 menit di Galchchi, sedangkan di Malekhu kenaikannya mencapai sekitar tujuh meter dalam rentang waktu yang serupa.

Kecepatan kenaikan air seperti ini tidak cukup memberikan waktu bagi masyarakat untuk menyelamatkan diri, terutama di lembah-lembah yang akses jalannya terbatas.

Karena itu, kerusakan yang ditimbulkan bukan hanya berupa genangan. Aliran yang membawa batuan dan lumpur memiliki daya rusak sangat besar terhadap jembatan, jalan, rumah, fasilitas pembangkit listrik, terowongan, serta permukiman yang berada di sepanjang sungai.

Kaitan Banjir Nepal dan Perubahan Iklim Himalaya

Para ilmuwan bersikap hati-hati dalam menghubungkan bencana banjir bandang Nepal dengan perubahan iklim. Mereka tidak mengatakan bahwa perubahan iklim merupakan satu-satunya penyebab langsung runtuhnya gletser dan longsoran es-batuan tersebut.

Perubahan iklim dipandang sebagai faktor yang kemungkinan memperbesar risiko dan menciptakan kondisi yang lebih rentan.

ICIMOD (International Centre for Integrated Mountain Development) melaporkan pada 2026 bahwa kehilangan es gletser di Hindu Kush Himalaya telah meningkat hingga dua kali lipat sejak tahun 2000, sedangkan ketebalan es secara keseluruhan telah berkurang hingga sekitar 27 meter sejak 1975 dalam pengamatan regional yang dirangkum lembaga tersebut.

Perubahan ini bukan sekadar berarti berkurangnya cadangan es, tetapi juga mengubah kondisi fisik pegunungan dan sistem air yang bergantung padanya.

“Fakta bahwa tingkat kehilangan es telah berlipat ganda pada abad ini seharusnya mengejutkan kita semua dan mendorong kita untuk bertindak,” kata Pema Gyamtsho, Direktur Jenderal ICIMOD, pada Maret 2026.

“Hindu Kush Himalaya berada di persimpangan jalan. Dampak yang meningkat pesat yang kita lihat, mulai dari ketidakpastian air hingga banjir dahsyat, menggarisbawahi bahwa kita berada dalam dekade kritis bagi kriosfer. Kita harus meningkatkan pemantauan dan berinvestasi dalam adaptasi sekarang. Ini bukan lagi titik buta yang menjadi kejutan; ini adalah realitas baru kita,” lanjutnya.

Sebelum banjir bandang yang terjadi Rabu lalu, wilayah Hindu Kush Himalaya sudah mengalami sejumlah bencana, seperti pada 2025, banjir terjadi di Gyirong, Cina, jebolnya danau glasial di desa Sherpa Thame pada 2024, serta kejadian serupa di Sikkim, India, pada 2023.

Menurut ICIMOD, perubahan pada air, tanah, dan atmosfer di kawasan Hindu Kush Himalaya semakin cepat dan menjadi ancaman besar bagi masyarakat. Salah satu bagian yang sangat penting adalah perubahan pada cryosphere, yaitu bagian bumi yang terdiri atas salju, es, gletser, dan lapisan beku lainnya.

Farooq Azam dari ICIMOD juga mengemukakan kemungkinan bahwa pencairan salju dalam jumlah besar yang berinteraksi dengan aktivitas seismik ikut memicu longsoran es dan batuan di Nepal.

Perubahan iklim juga dapat membuat kawasan pegunungan tinggi menjadi lebih tidak stabil, terutama bagian yang terdiri dari batuan, es, gletser, dan lapisan tanah yang membeku. Ketika suhu meningkat akibat pemanasan global, kondisi lingkungan yang sebelumnya membantu menjaga kestabilan pegunungan dapat berubah.

“Perubahan iklim menciptakan kondisi yang dapat menggoyahkan batuan dan es di pegunungan tinggi,” kata Simon Cox, kepala ilmuwan di program Mountains to Sea di Earth Sciences New Zealand dikutip Reuters, Kamis(27/8/2026).

Penyebab Pasti Bencana Masih Diselidiki

Meskipun penyebab pasti bencana yang terjadi pada Rabu (26/8) masih dianalisis, para ilmuwan mengatakan bencana tersebut kemungkinan bermula dari longsoran besar yang membawa es dan batuan di lereng utara Gunung Langtang Lirung, Nepal, yang kemudian masuk ke Sungai Lhende Khola di sisi Tibet.

Sedikitnya enam pembangkit listrik tenaga air (PLTA) utama serta infrastruktur di pusat perdagangan Gyirong Port mengalami kerusakan dalam rangkaian bencana yang terjadi secara bertahap dan melintasi perbatasan, yang dipicu oleh runtuhan awal tersebut.

Peristiwa itu juga mengubah alur sungai hingga lebih dari 100 kilometer (62 mil) ke arah hilir, dekat perbatasan dengan India.

Para ahli mengingatkan agar perubahan iklim tidak disebut sebagai satu-satunya pemicu langsung runtuhan yang terjadi pada Rabu. Namun, mereka mengatakan kenaikan suhu dan pencairan gletser kemungkinan turut berperan dalam bencana tersebut.

Pemanasan dapat mengurangi dukungan es pada lereng yang curam, meningkatkan air lelehan, serta mengubah pola pembekuan, pencairan, dan curah hujan. Kondisi tersebut dapat melemahkan lereng pegunungan dan membuat runtuhan besar lebih mungkin terjadi di sejumlah lokasi.

Reuters pada Kamis (27/8) melaporkan, tren jangka panjang menunjukkan kondisi yang mengkhawatirkan. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 2023 menyatakan bahwa pemanasan global menyebabkan pegunungan Nepal yang diselimuti salju kehilangan hampir sepertiga tutupan esnya hanya dalam waktu lebih dari 30 tahun.

PBB juga menyebut bahwa gletser di Nepal mencair 65 persen lebih cepat dibandingkan dekade sebelumnya.

Bencana yang terjadi pada Rabu tersebut dapat menjadi contoh klasik dari apa yang disebut sebagai “peristiwa majemuk” (compound event), kata Benjamin Horton, dekan School of Energy and Environment di City University of Hong Kong.

Peristiwa majemuk terjadi ketika gempa bumi berinteraksi dengan perubahan yang dipicu oleh iklim, seperti berkurangnya gletser, pencairan lapisan tanah beku permanen (permafrost), dan ketidakstabilan lereng, sehingga “menciptakan bencana yang lebih kompleks dan lebih merusak dibandingkan jika hanya disebabkan oleh satu faktor”, tambahnya.

Menurut Horton, memahami risiko yang saling berantai tersebut akan menjadi hal penting untuk meningkatkan ketahanan masyarakat di kawasan pegunungan tinggi.

Baca juga artikel terkait BANJIR atau tulisan lainnya dari Prihatini Wahyuningtyas

tirto.id - News Plus
Kontributor: Prihatini Wahyuningtyas
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra