Menuju konten utama

Update Korban Banjir Bandang Nepal: 469 Tewas, 1.500 Hilang

Update korban banjir bandang Nepal-Tibet mencapai 469 tewas dan lebih dari 1.500 hilang. Ancaman banjir susulan masih membayangi wilayah terdampak.

Update Korban Banjir Bandang Nepal: 469 Tewas, 1.500 Hilang
Tim penyelamat mencari korban selamat di tengah lumpur dan reruntuhan bangunan pascabanjir bandang dan tanah longsor di Devghat, Distrik Nuwakot, Nepal, pada 26 Agustus 2026. Bencana banjir besar dan tanah longsor di perbatasan Nepal-Tibet menewaskan sedikitnya 103 orang pada 26 Agustus 2026 dan menyebabkan ratusan orang lainnya hilang, banyak di antaranya merupakan wisatawan asing. Petugas bantuan menyatakan bahwa seluruh permukiman telah "rata dengan tanah". Menurut kementerian pariwisata, sekitar 403 wisatawan—341 di antaranya warga asing—sempat tidak diketahui keberadaannya selama beberapa jam setelah bencana terjadi. AFP/ PRAKASH MATHEMA
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Jumlah korban tewas akibat banjir bandang dahsyat yang melanda wilayah perbatasan Nepal dan Tibet, Cina, terus bertambah. Hingga Jumat (28/8/2026), otoritas Nepal melaporkan sedikitnya 469 orang meninggal dunia dan lebih dari 1.500 orang masih dinyatakan hilang.

Tim penyelamat masih menyisir wilayah terdampak untuk mencari korban yang kemungkinan tertimbun lumpur atau terjebak di sejumlah lokasi, di tengah ancaman banjir susulan akibat terbentuknya danau di kawasan hulu yang kini mulai meluap.

Banjir bandang yang terjadi pada Rabu (26/8/2026) tersebut datang secara tiba-tiba dan menghancurkan bangunan, jembatan, kendaraan, serta infrastruktur di sepanjang aliran sungai.

Sejumlah video yang beredar memperlihatkan derasnya aliran air bercampur lumpur dan material pegunungan menerjang kawasan perbatasan, membuat warga dan orang-orang yang berada di lokasi hanya memiliki sedikit waktu untuk menyelamatkan diri.

Sejumlah analisis awal sempat mengaitkan bencana tersebut dengan gempa bumi, namun kajian para ahli dan lembaga pemantau geologi kemudian lebih mengarah pada dugaan longsoran besar yang membawa batuan dan es, yang menyumbat aliran sungai sebelum akhirnya memicu pelepasan air dalam jumlah besar secara tiba-tiba.

Update Jumlah Korban Banjir Bandang Nepal

Dua hari setelah bencana, tim penyelamat masih berpacu dengan waktu untuk menemukan ratusan orang yang hilang. Kepolisian Nepal mengatakan per Jumat (28/8) pagi ini, jumlah korban meninggal dunia dilaporkan meningkat dari 390 menjadi 469 orang, sedangkan Cina masih melaporkan tiga korban meninggal di wilayah Tibet.

Untuk korban yang masih dinyatakan hilang baik Cina maupun Nepal mencapai ebih dari 1.500 orang. Situasi ini menjadi semakin serius karena banjir tidak hanya menimbulkan korban langsung, tetapi juga menciptakan ancaman bencana susulan.

Besarnya skala bencana juga terlihat dari operasi evakuasi yang dilakukan Nepal. Hingga Jumat, 3.253 orang telah dievakuasi menggunakan helikopter dari kawasan yang terdampak.

Para korban, termasuk orang-orang yang mengalami luka-luka, kemudian dibawa ke Kathmandu dan sejumlah lokasi lain untuk mendapatkan pertolongan.

Sejumlah warga negara asing ikut menjadi korban atau dilaporkan hilang. Mereka termasuk wisatawan, pendaki atau trekker, serta peziarah yang sedang melakukan perjalanan di kawasan Himalaya.

Banjir Besar Berpotensi Kembali Terjadi

Salah satu ancaman terbesar adalah terbentuknya sebuah danau akibat bencana tersebut di bagian hulu. Danau ini terbentuk karena material longsoran dan endapan yang kemungkinan besar membendung aliran air. Masalahnya, volume air di dalam danau terus meningkat dan danau tersebut sudah mulai meluap.

Kementerian Sumber Daya Air Cina memperkirakan danau itu menampung sekitar 2 juta meter kubik air, dan dalam tiga hari berikutnya diperkirakan akan menerima tambahan sekitar 3 juta meter kubik.

Dengan demikian, terdapat potensi terjadinya pelepasan air atau banjir dalam jumlah sangat besar secara tiba-tiba apabila penghalang alami yang menahan danau tersebut runtuh.

Karena itu, pemerintah Nepal dan Cina memperingatkan penduduk di wilayah yang mungkin terdampak agar segera berpindah ke tempat yang lebih aman.

Ancaman tersebut sangat mengkhawatirkan karena danau itu berada di lokasi yang secara geografis lebih tinggi daripada kawasan permukiman dan jalur perbatasan.

Menurut laporan stasiun televisi Cina, CCTV, penghalang danau berada lebih dari 10 kilometer dari Pelabuhan Gyirong, yaitu salah satu titik perbatasan antara Cina dan Nepal yang sebelumnya sudah dilanda lumpur dan banjir bandang.

Danau tersebut berada pada ketinggian sekitar 2.950 meter di atas permukaan laut, sedangkan Pelabuhan Gyirong berada sekitar 1.000 meter lebih rendah.

Pemerintah dan militer Nepal berusaha memantau kondisi sungai serta wilayah yang berpotensi terkena dampak. Angkatan Darat Nepal mengirim tim untuk memeriksa Sungai Bhotekoshi, yang dianggap berisiko mengalami peningkatan aliran apabila terjadi pelepasan air dari wilayah hulu.

Selain itu, tim juga dikerahkan ke proyek pembangkit listrik tenaga air Upper Trishuli-1 di dekat perbatasan Nepal–Cina setelah muncul laporan bahwa sejumlah orang mungkin terjebak di dalam sebuah terowongan.

Operasi penyelamatan menjadi sangat sulit karena material lumpur telah menutupi bagian-bagian terowongan sehingga petugas kesulitan menemukan titik masuk dan keluar.

“Sulit mencari jalan masuk dan keluar terowongan karena semuanya tertutup lumpur,. Prioritas pertama kami adalah menyelamatkan orang-orang yang terdampar.” kata Basnet dikutip AP News (28/8/2026).

Baca juga artikel terkait BANJIR atau tulisan lainnya dari Prihatini Wahyuningtyas

tirto.id - Flash News
Kontributor: Prihatini Wahyuningtyas
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra