Menuju konten utama

Penyebab Banjir Bandang di Nepal hingga Ratusan Orang Hilang

Banjir bandang Nepal menewaskan sedikitnya 160 orang dan membuat ratusan hilang. Ahli menduga longsor batu dan es memicu bencana.

Penyebab Banjir Bandang di Nepal hingga Ratusan Orang Hilang
Seorang warga berjalan menyusuri jalan yang tertutup lumpur setelah bencana banjir bandang dan tanah longsor di Devighat, distrik Nuwakot, Nepal, pada 26 Agustus 2026. Bencana banjir dan tanah longsor besar di perbatasan Nepal-Tibet menewaskan sedikitnya 103 orang pada 26 Agustus 2026 dan menyebabkan ratusan orang hilang, banyak di antaranya merupakan wisatawan asing. Petugas bantuan menyatakan bahwa seluruh permukiman telah "rata dengan tanah". Menurut kementerian pariwisata, sekitar 403 wisatawan—341 di antaranya warga asing—belum diketahui keberadaannya selama beberapa jam setelah bencana terjadi. PRAKASH MATHEMA / AFP
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Banjir bandang dahsyat yang melanda wilayah perbatasan Nepal dan Tibet, China, pada Rabu (26/8/2026), menewaskan sedikitnya 160 orang dan menyebabkan ratusan lainnya hilang. Apa penyebabnya?

Dalam video-video yang tersebar di media sosial, terlihat bagaimana kawasan perbatasan Nepal dan Tibet tiba-tiba dilanda banjir bandang. Orang-orang yang berada di sana, tak sempat melarikan diri meskipun telah berlari kencang.

Bencana tersebut terjadi setelah material batu, es, dan air dalam jumlah besar bergerak dari kawasan pegunungan Himalaya menuju lembah.

Sejumlah laporan awal sempat mengaitkan bencana dengan gempa bumi, namun analisis lanjutan menunjukkan bahwa getaran yang tercatat kemungkinan berasal dari energi seismik akibat longsor besar.

Kata Para Ahli soal Penyebab Banjir Bandang di Nepal

Penjelasan dari sejumlah ahli menunjukkan bahwa penyebab banjir bandang di Nepal masih dalam proses penyelidikan, namun bukti yang tersedia semakin mengarah pada sebuah longsoran besar yang melibatkan batu dan es, bukan gempa bumi sebagai penyebab utama.

Banjir Bandang Nepal

Tim penyelamat mencari korban selamat di tengah lumpur dan reruntuhan bangunan pascabanjir bandang dan tanah longsor di Devghat, Distrik Nuwakot, Nepal, pada 26 Agustus 2026. Bencana banjir besar dan tanah longsor di perbatasan Nepal-Tibet menewaskan sedikitnya 103 orang pada 26 Agustus 2026 dan menyebabkan ratusan orang lainnya hilang, banyak di antaranya merupakan wisatawan asing. Petugas bantuan menyatakan bahwa seluruh permukiman telah 'rata dengan tanah'. Menurut kementerian pariwisata, sekitar 403 wisatawan—341 di antaranya warga asing—sempat tidak diketahui keberadaannya selama beberapa jam setelah bencana terjadi. AFP/ PRAKASH MATHEMA

Pada awalnya, Menteri Luar Negeri Nepal Shishir Khanal menyampaikan dugaan bahwa gempa bumi memicu longsor. Longsoran tersebut kemudian diperkirakan menyumbat sungai.

Air yang terus mengalir dari hulu akhirnya menumpuk di balik material longsoran, hingga tekanan air membuat sumbatan itu jebol. Ketika penghalang tersebut runtuh, air yang tertahan mengalir deras ke hilir dan berubah menjadi banjir bandang.

Namun, dugaan tersebut kemudian mendapatkan koreksi dari United States Geological Survey (USGS). Dalam analisis awal, getaran yang terjadi di kawasan tersebut dilaporkan sebagai gempa berkekuatan magnitudo 4,4.

Setelah dilakukan analisis lebih lanjut terhadap gelombang seismik berperiode panjang, USGS menyimpulkan bahwa energi seismik yang terekam kemungkinan dihasilkan oleh longsoran, bukan oleh gempa tektonik.

Artinya, getaran yang terdeteksi oleh alat pemantau gempa kemungkinan merupakan dampak dari material gunung yang runtuh dan bergerak dalam jumlah sangat besar.

Sehingga bukan gempa yang menyebabkan banjir, melainkan kemungkinan longsoran menyebabkan getaran yang kemudian sempat disalahartikan sebagai gempa.

Analisis awal dari International Centre for Integrated Mountain Development (ICIMOD) yang berbasis di Kathmandu juga mendukung skenario tersebut. Lembaga tersebut tidak menemukan anomali dari sisi Cina atau Tibet yang dapat menjelaskan kejadian tersebut.

Sarthak Shrestha, analis di ICIMOD, mengatakan bahwa pihaknya meyakini telah terjadi rock-ice avalanche, yaitu longsoran yang terdiri dari material batuan dan es, di wilayah Nepal.

Material tersebut kemudian masuk ke kawasan Sungai Lhende dan menyumbat alirannya. Penyumbatan inilah yang diyakini menjadi bagian penting dari rangkaian kejadian yang kemudian menghasilkan banjir besar secara berantai.

“Kami yakin longsoran es terjadi di Nepal, menghalangi sungai Lhende dan menyebabkan banjir besar,” kata Sarthak kepada AFP, dikutip CNA, Kamis (27/8/2026).

Hal yang membuat peristiwa ini semakin sulit diprediksi adalah tidak adanya hujan deras yang mendahului bencana. Ahli hidrologi Hatim Sharif dari University of Texas at San Antonio menyoroti kondisi tersebut sebagai salah satu aspek paling penting.

Menurutnya, sebagian besar sistem peringatan banjir operasional di dunia sangat bergantung pada indikator seperti curah hujan dan kenaikan muka air sungai. Jika banjir justru dipicu oleh longsoran yang menyumbat sungai, sistem tersebut dapat kehilangan tanda-tanda awal yang biasanya digunakan untuk memberikan peringatan.

“Hal ini pada dasarnya mengalahkan semua sistem peringatan banjir yang beroperasi di dunia,” katanya.

Penjelasan tersebut juga membantu memahami mengapa banjir ini dapat terjadi secara tiba-tiba meskipun tidak didahului hujan ekstrem. Sumber airnya bukan harus berasal dari hujan yang turun dalam waktu singkat, melainkan dari air sungai yang tertahan akibat sumbatan.

Ketika sumbatan akhirnya runtuh, air yang telah terkumpul dilepaskan sekaligus. Situasi menjadi semakin berbahaya karena air tersebut kemungkinan bercampur dengan lumpur, batu, es, dan material pegunungan.

Ahli geofisika Goran Ekstrom dari Lamont-Doherty Earth Observatory, Columbia University, memberikan gambaran mengenai skala longsoran tersebut. Menurut Ekstrom, longsoran di jalur pegunungan kemungkinan membawa turun gletser besar atau sebagian dari massa gletser di Himalaya.

Energi yang dilepaskan begitu besar sehingga menghasilkan sinyal seismik yang terdeteksi oleh seismograf di berbagai tempat. Ekstrom menyebut kekuatan peristiwa tersebut dapat tercatat seperti gempa sekitar magnitudo 5,2, tetapi hal ini tidak berarti terjadi gempa tektonik M5,2 yang menjadi sumber utama bencana. Justru, getaran tersebut kemungkinan merupakan akibat dari pergerakan longsoran dalam skala yang sangat besar.

Menurut Ekstrom, ketika batuan dalam jumlah besar meluncur turun dari lereng gunung, energi mekanik dan gesekan yang dihasilkan sangat besar. Proses tersebut dapat menghasilkan panas dan mempercepat pencairan sebagian es atau gletser yang ikut terbawa.

Akibatnya, semakin banyak air yang masuk ke sistem aliran di bawahnya. Material yang awalnya berupa batu dan es kemudian berubah menjadi campuran yang terdiri atas air, lumpur, batu, dan es. Campuran inilah yang dapat menghasilkan aliran yang sangat berat dan memiliki daya rusak jauh lebih tinggi daripada banjir yang hanya terdiri dari air.

Ekstrom bahkan memperkirakan skala aliran tersebut sangat ekstrem, dengan ketinggian yang secara teoritis dapat mencapai sekitar 130-160 kaki atau sekitar 40-49 meter, dengan kecepatan mungkin mencapai 44 mil per jam atau sekitar 71 kilometer per jam.

Ekstrom mengingatkan bahwa peristiwa semacam ini sebenarnya dapat terjadi tanpa perubahan iklim. Namun, perubahan iklim dapat menjadi faktor yang memperbesar risikonya.

“Secara umum, tanah longsor di daerah pegunungan ini menjadi lebih sering terjadi, hal ini telah ditentukan, dan hal ini terkait dengan mencairnya gletser,” katanya dikutip ABC News, Kamis (27/8/2026).

Baca juga artikel terkait BANJIR atau tulisan lainnya dari Prihatini Wahyuningtyas

tirto.id - Flash News
Kontributor: Prihatini Wahyuningtyas
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra