Menuju konten utama

Peringatan Dini Banjir Susulan di Nepal, Warga Diminta Siaga

Hingga kini 750 orang dilaporkan meninggal dunia dan lebih dari 3.000 orang masih dinyatakan hilang akibat banjir bandang menerjang Nepal.

Peringatan Dini Banjir Susulan di Nepal, Warga Diminta Siaga
Seorang warga berjalan menyusuri jalan yang tertutup lumpur setelah bencana banjir bandang dan tanah longsor di Devighat, distrik Nuwakot, Nepal, pada 26 Agustus 2026. Bencana banjir dan tanah longsor besar di perbatasan Nepal-Tibet menewaskan sedikitnya 103 orang pada 26 Agustus 2026 dan menyebabkan ratusan orang hilang, banyak di antaranya merupakan wisatawan asing. Petugas bantuan menyatakan bahwa seluruh permukiman telah "rata dengan tanah". Menurut kementerian pariwisata, sekitar 403 wisatawan—341 di antaranya warga asing—belum diketahui keberadaannya selama beberapa jam setelah bencana terjadi. PRAKASH MATHEMA / AFP
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Peringatan dini kembali dikeluarkan otoritas Nepal menyusul naiknya permukaan air Sungai Bhotekoshi. Warga di distrik-distrik terdampak banjir diminta tetap siaga menghadapi potensi banjir susulan pada Minggu (30/8/2026).

Sepanjang Minggu pagi, peringatan banjir dikirimkan ke ponsel warga. Di saat yang sama, tim penyelamat terus berupaya membersihkan Jalan Raya Prithivi, jalur utama yang menghubungkan ibu kota Kathmandu dengan salah satu wilayah terdampak terparah akibat banjir dahsyat yang terjadi pada Rabu (30/8/2026) lalu.

Di kota Galchhi, puluhan warga memilih mengungsi ke jembatan terdekat untuk mencari tempat lebih aman. Dari atas jembatan, mereka menyaksikan derasnya arus sungai sambil menunjuk ke arah bongkahan batu raksasa yang terbawa banjir sebelumnya. Sementara itu, petugas memperingatkan warga yang masih bertahan di jembatan gantung di atas sungai.

Melansir Associated Press, pemandangan memilukan masih terlihat di sepanjang bantaran sungai. Reruntuhan rumah, kendaraan, dan traktor pertanian tampak menyembul dari timbunan lumpur tebal kecoklatan yang mengubur seluruh desa di kawasan terdampak.

Sawah-sawah terasering di tepi sungai juga amblas akibat tanah longsor, sebagian lahan jatuh ke dalam aliran sungai.

Pembaruan data pada Minggu menunjukkan jumlah korban tewas gabungan di Nepal dan Tibet kini mencapai 750 orang, dengan lebih dari 3.000 orang masih dinyatakan hilang.

Badan Penanggulangan Bencana Nepal melaporkan 734 jenazah telah ditemukan dan 2.498 orang belum ditemukan.

Sementara itu, otoritas Cina mengonfirmasi 16 kematian dan 546 orang hilang di wilayah Tibet, termasuk lebih dari seratus warga Nepal dan puluhan warga asing dari berbagai negara.

Dharam Raj Uprety, Direktur Eksekutif Otoritas Pengurangan Risiko Bencana dan Manajemen Bencana Nasional Nepal, menyampaikan kepada Associated Press bahwa peringatan terbaru ini dipicu oleh informasi dari otoritas Cina mengenai peningkatan debit air di hulu sungai.

Namun, peringatan yang datang silih berganti justru membingungkan warga. Govind Shreshta, warga setempat, mengaku kesulitan menghadapi situasi ini.

"Kadang mereka bilang banjir akan datang, lalu kami harus lari lagi ke tempat tinggi, bahkan tengah malam. Apalagi hujan masih turun," ujarnya dikutip dari AP, Minggu (30/8/2026).

"Ini sangat berat. Saya punya ayah 72 tahun dan ibu 70 tahun. Saya harus menggendong mereka berdua dan saya sudah kelelahan. Begitulah nasib kami yang masih bertahan."

Listrik Padam, Jalan Raya Terhambat

Hingga Minggu, rumah dan toko yang selamat dari banjir masih gelap gulita tanpa aliran listrik. Tiang-tiang listrik terpilin dan kabel-kabel berserakan di antara tumpukan lumpur.

Jalan Raya Prithivi yang merupakan jalur vital pasokan bahan makanan, bahan bakar, dan logistik dari daerah lain menuju Kathmandu sebagian besar sudah dapat dilalui, meski sejumlah ruas masih membutuhkan perbaikan berat.

Baca juga artikel terkait BANJIR atau tulisan lainnya dari Nanda Aria

tirto.id - Sosial Budaya
Reporter: Nanda Aria
Penulis: Nanda Aria
Editor: Bayu Septianto