Bangkitnya Penyakit Ganas di Dunia Pasca-Antibiotik

Oleh: Dr. Fx. Wikan Indrarto - 15 November 2018
Dibaca Normal 2 menit
Bakteri semakin kebal antibiotik. Penyakit seperti pneumonia, TBC, sepsis, dan gonorea kian sulit disembuhkan karena antibiotik semakin tak efektif.
tirto.id - Pada 12-18 November 2018 diselenggarakan Pekan Kewaspadaan Antibiotik Dunia (World Antibiotic Awareness Week). Momentum ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran global terhadap resistensi antibiotik dan mendorong praktik terbaik di kalangan masyarakat umum, tenaga kesehatan, dan pembuat kebijakan untuk menghindari resistensi antibiotik yang telah mewabah.

Apa yang perlu dilakukan?

Antibiotik adalah obat yang digunakan untuk mencegah dan mengobati infeksi bakteri. Sejak ditemukan, penemuan yang dipandang sebagai prestasi dunia kedokteran modern ini berfungsi sebagai landasan pengobatan. Namun demikian, penggunaan berlebihan dan penyalahgunaan antibiotik dalam layanan kesehatan manusia dan hewan telah mendorong penyebaran resistensi antibiotik. Resistensi antibiotik terjadi ketika bakteri mengubah mekanisme dalam menanggapi penggunaan obat tersebut.

Walhasil, justru bakterilah—bukan manusia—yang semakin kebal terhadap antibiotik. Bakteri ini kemudian dapat menginfeksi manusia lain dan lebih sulit untuk diobati daripada bakteri biasa.

Resistensi antibiotik telah menyebabkan biaya kesehatan meroket, perawatan di rumah sakit yang berkepanjangan, dan angka kematian yang meningkat. Di seluruh Uni Eropa, bakteri yang resisten terhadap antibiotik diperkirakan telah menyebabkan 25.000 kematian, kerugian karena gangguan produktivitas, dan biaya kesehatan yang mencapai lebih dari 1,5 miliar dolar AS per tahun.

Seiring meningkatnya kasus resistensi antibiotik di seluruh belahan dunia, mekanisme resistensi pun terus mengalami pembaruan sehingga mengancam keberhasilan pengobatan penyakit. Penyakit infeksi umum seperti pneumonia, TBC, sepsis, dan gonorea menjadi lebih sulit ditangani, bahkan kadang mustahil disembuhkan karena antibiotik yang tersedia semakin tak efektif.


Di negara-negara yang menjual antibiotik tanpa resep, kemunculan dan tingkat penyebaran resistensi lebih buruk. Demikian pula di negara tanpa pedoman pengobatan standar, di mana antibiotik sering diresepkan berlebihan (over-prescribed) oleh dokter dan digunakan berlebihan (over-used) oleh masyarakat. Jika situasi ini tidak cepat-cepat ditangani, kita akan menuju era pasca-antibiotik, di mana infeksi umum dan luka ringan bisa membunuh pasien—persis di era pra-antibiotik.

"Resistensi antimikroba,” kata Direktur Jenderal WHO Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus, “adalah keadaan darurat kesehatan global, yang secara serius akan membahayakan kemajuan pengobatan modern." Selain Tuberkolosis (TBC) yang resisten terhadap berbagai jenis obat, para ahli telah mengidentifikasi 12 kelas bakteri patogen prioritas yang semakin resisten atau kebal terhadap antibiotik yang ada di pasaran. Beberapa bakteri di antaranya menyebabkan infeksi paru-paru atau pneumonia dan infeksi saluran kemih. Penanganan penyakit-penyakit ini sangat membutuhkan obat antibiotik dengan kelas terapi yang baru.

Sialnya, di antara semua kandidat obat antibiotik baru, hanya delapan yang digolongkan oleh WHO sebagai obat inovatif yang akan memberi nilai tambah pada cadangan antibiotika hari ini. Dengan demikian, hanya ada sedikit pilihan pengobatan untuk TBC dan bakteri patogen gram negatif yang telah mengalami pertambahan resistensi secara luas, termasuk bakteri Acinetobacter dan Enterobacteriaceae. Seperti bakteri gram negatif terdahulu, yaitu Klebsiella dan E.coli, semua bakteri tersebut dapat menyebabkan infeksi parah atau sepsis yang mematikan.

Beberapa langkah penting lain harus diambil untuk mengurangi dampak resistensi antibiotik dan membatasi penyebarannya. Masyarakat umum bisa mencegah infeksi dengan teratur mencuci tangan, menjaga kebersihan makanan, menghindari kontak dekat dengan orang yang sakit, dan melakukan vaksinasi ulangan.


Antibiotik tetap bisa digunakan selama diresepkan oleh dokter. Namun, hal lain yang tak kalah penting adalah tidak mengonsumsi antibiotik sisa atau berbagi antibiotik dengan orang lain.

Para petugas sektor pertanian dapat berkontribusi mengurangi wabah resistensi antibiotik dengan cara menggunakan antibiotik untuk hewan dalam kasus penyakit menular saja dan di bawah pengawasan dokter hewan. Petugas juga bisa memberikan vaksinasi kepada hewan untuk mengurangi kebutuhan antibiotik.

Pada lini lainnya, promosi dan penerapan praktik yang baik perlu dilakukan di semua tahap produksi, mulai dari pengolahan makanan dari sumber hewan dan tumbuhan yang aman, pengadopsian sistem berkelanjutan dengan meningkatkan kebersihan, penanganan hewan agar bebas stres, hingga pemenuhan standar internasional untuk penggunaan antibiotik yang bertanggung jawab sesuai ketentuan OIE, FAO, dan WHO. Para pelaku industri bidang kesehatan dapat mengambil peran penting seperti berinvestasi untuk antibiotik, vaksin, alat diagnosis baru, serta membiayai riset terkait.

Adalah kewajiban bagi para dokter, apoteker, dan petugas kesehatan lainnya untuk mencegah infeksi dengan memastikan kebersihan tangan, instrumen medis, dan lingkungan RS. Mereka juga wajib memberikan vaksinasi terbaru kepada pasien (ketika terjadi dugaan infeksi bakteri), melakukan biakan bakteri dan pemeriksaan penunjang medik lainnya untuk konfirmasi, serta hanya meresepkan dan mengeluarkan antibiotik jika benar-benar dibutuhkan, pada dosis dan durasi pengobatan yang tepat.


Terakhir, para pejabat dan pembuat kebijakan kesehatan mesti bertindak cepat dengan menyusun rencana terpadu secara nasional, bahkan regional, meningkatkan pengawasan infeksi bakteri yang telah resisten terhadap antibiotik, memperkuat langkah-langkah pencegahan dan pengendalian infeksi, juga mengatur dan mempromosikan penggunaan obat antibiotik yang tepat dan berkualitas. Selain itu, pembuat kebijakan juga harus menyusun informasi tentang dampak resistensi antibiotik dan memberikan apresiasi atas pengembangan obat, vaksin, serta alat diagnosis baru.

Momentum Pekan Kewaspadaan Antibiotik Dunia (World Antibiotic Awareness Week) 2018 mengingatkan kita untuk berpikir ulang dan mencari saran (Think twice. Seek advice), sebelum menggunakan antibiotik. Kita juga disadarkan bahwa penyalahgunaan antibiotik akan membuat kita semua berisiko.

Waktu kita dengan antibiotik hampir habis, sehingga menjadi tugas kita bersama untuk menjaga antibiotik. Sudahkah kita sadar?

Baca juga artikel terkait ANTIBIOTIK atau tulisan menarik lainnya Dr. Fx. Wikan Indrarto
(tirto.id - Kolumnis)

Kolumnis: Dr. Fx. Wikan Indrarto
Penulis: Dr. Fx. Wikan Indrarto
Editor: Windu Jusuf
Dari Sejawat
Infografik Instagram