Resistensi Antibiotik Turunkan Angka Harapan Hidup di Asia Tenggara

Ilustrasi antibiotik. Getty Images/iStockphoto
Oleh: Faisal Irfani - 29 Agustus 2018
Dibaca Normal 2 menit
Ada banyak bakteri dan sumber penyakit lainnya yang kini bertambah kuat karena pemakaian antibiotik secara sembrono. Angka harapan hidup di Asia Tenggara terancam turun.
Upaya mengurai problem kesehatan publik akibat penyalahgunaan antibiotik terus dilakukan. Salah satunya melalui penelitian seperti yang akan dilakukan tim dosen Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Solo, Ari Natalia Probandari, sesaat setelah diumumkan jadi pemenang hibah riset dari Departemen Perdagangan dan Luar Negeri Australia senilai Rp19 miliar.

Mengutip Radio Republik Indonesia, Ari dkk bakal melangsungkan riset mengenai pengelolaan resistensi antibiotik. Rencananya, ia akan dibantu sejumlah peneliti dari UNSW Sidney, Universitas Gajah Mada, London School of Hygiene and Tropical Medicine, dan The George Institute for Global Health.

Salah satu pokok penting yang hendak dikaji adalah perbaikan tata kelola peredaran obat antibiotik di Indonesia, terutama di apotek dan toko obat swasta yang selama ini diduga masih mengedarkan antibiotik secara bebas. Selain soal peredaran antibiotik, Ari juga akan memberikan edukasi bagi masyarakat mengenai bahaya resistensi antibiotik.

Jadi Fenomena?

Badan Kesehatan Dunia (WHO) mendefinisikan resistensi antibiotik sebagai proses mutasi mikroorganisme (bakteri, jamur, virus, parasit) yang terpapar obat antibiotik, sehingga membuat infeksi terus berlanjut dan meningkatkan risiko penyebaran penyakit ke orang lain.

Resistensi antibiotik mengancam kemampuan tubuh dalam mengobati penyakit sehingga mengakibatkan kecacatan bahkan kematian. Jika tubuh sudah kebal terhadap antibiotik, ragam prosedur medis seperti transplantasi organ, kemoterapi, pengobatan diabetes, dan operasi besar menjadi sangat berisiko. Akibatnya, pasien harus menanggung perawatan yang lebih lama dan mahal.


Sejak penemuan penisilin oleh Alexander Fleming pada 1928, antibiotik sukses melindungi ratusan juta orang dari penyakit menular. Antibiotik berkontribusi besar dalam membatasi morbiditas dan mortalitas. Begitu banyak penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri seperti mikobakterium, stafilokokus, streftokokus, enterokokus, dan sebagainya dapat diatasi dengan penggunaan antibiotik.

Selain itu, antibiotik juga digunakan untuk mencegah infeksi, khususnya pada pasien pasca-operasi. Kemampuan antibiotik dalam mengatasi dan mencegah penyakit infeksi menyebabkan penggunaannya mengalami peningkatan yang luar biasa.

Sayangnya, penggunaan antibiotik sering tidak tepat dan tidak rasional, saking mudahnya antibiotik diakses tanpa resep dokter. Walhasil, lahirlah varian bakteri yang tahan antibiotik, demikian catat Lee Ventola dalam “The Antibiotic Resistance Crisis.”

Dampaknya tidak main-main. Resistensi terhadap antibiotik telah menjadi masalah global yang serius. Setiap tahunnya ditemukan sekitar 440 ribu kasus baru TB-MDR (Tuberculosis-Multi Drug Resistance) yang menyebabkan 150 ribu kematian di seluruh dunia.

Diperkirakan 25 ribu orang di Eropa meninggal akibat infeksi bakteri yang multiresisten. Tiap tahunnya, sekitar 2 juta orang di Amerika Serikat terinfeksi oleh bakteri yang resisten terhadap antibiotik dan sedikitnya 23 ribu orang telah meninggal akibat infeksi tersebut. Bahkan, 200 ribu bayi diperkirakan meninggal setiap tahunnya akibat resistensi antibiotik.

Pertemuan global The Review on Antimicrobial Resistance pada Juli 2014 menyatakan bahwa kasus infeksi resisten terhadap antimikroba meningkat secara signifikan. Di Eropa dan Amerika Serikat saja, ada 50 ribu nyawa hilang tiap tahunnya karena resistensi obat pada infeksi bakteri, malaria, HIV/AIDS, atau TBC.

Pertemuan ini memperkirakan jumlah korban meninggal secara global mencapai sedikitnya 700 ribu setiap tahun. Pada 2050, jumlah ini diprediksi naik mencapai 10 juta orang, dengan korban terbesar sekitar 4 juta orang dari Afrika dan Asia. Prediksi biaya kesehatan untuk mengatasi kasus-kasus ini mencapai hingga 100 triliun dolar AS per tahun.


Beberapa penyakit yang ditengarai makin sulit diobati. Pada 2016, WHO telah mengidentifikasi resistensi terhadap pengobatan lini pertama malaria di lima negara, yakni Kamboja, Laos, Myanmar, Thailand, dan Vietnam. Resistensi juga sudah menyerang sekitar 15 persen orang yang memulai pengobatan HIV. Sebanyak 40 persen orang dengan HIV juga harus mengulang pengobatan.

Pada saat bersamaan, resistensi antibiotik turut meningkatkan risiko kematian yang secara langsung berpengaruh pada menurunnya usia harapan hidup suatu negara. Dari data yang dilansir WHO, setelah gelombang resistensi antibiotik rata-rata usia harapan hidup di negara-negara Asia Tenggara, hanya unggul bila dibandingkan dengan Afrika, yakni 70 berbanding 58.

Apa yang Harus Dilakukan?

Di Indonesia sendiri, Kementerian Kesehatan telah membuat pedoman umum penggunaan antibiotik. Pedoman ini dituangkan dalam Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 2406/MENKES/PER/XII/2011.

Pedoman tersebut dibuat untuk memberikan acuan bagi tenaga kesehatan dalam menggunakan antibiotik pada pelayanan kesehatan, fasilitas pelayanan kesehatan, serta penentuan arah kebijakan pemerintah sehingga nantinya optimalisasi penggunaan antibiotik secara bijak dapat tercapai.



Tapi, keberadaan regulasi tak otomatis menjadi solusi bagi resistensi. Dalam “Resistensi Antibiotik di Indonesia – Tak Usah Dulu Bermain Undang-Undang,” Ilma Asharina dari Institut Teknologi Bandung mengungkapkan beberapa langkah yang bisa diambil untuk mengendalikan resistensi antibiotik.

Pertama, memaksimalkan “Antimicrobial Stewardship Program,” sebuah program pengarahan terpusat secara berkala kepada Komite Terapi Antibiotik, rumah sakit, dokter spesialis infeksi serta dokter umum, farmasis klinik, dan mikrobiologi medik untuk mempelajari dan memahami segala hal mengenai resistensi antibiotik.

Kedua, memperbaiki sistem peresepan antibiotik. Pendekatan ini dilakukan oleh IDI dan dokter spesialis infeksi kepada dokter-dokter lainnya agar tidak memberikan resep antibiotik jika kondisi pasien belum dapat dipastikan mengalami infeksi bakteri. Para dokter juga harus diingatkan kembali akan bahaya resistensi antibiotik. Ahli farmasi klinik pun juga dapat berperan mengawasi antibiotik yang diresepkan.


Selanjutnya, infeksi bakteri dapat dicegah dengan meningkatkan daya tahan tubuh melalui konsumsi pangan dengan kandungan gizi yang seimbang dan disertai berolahraga. Cara lain yang bisa ditempuh adalah konsisten menjaga kebersihan lingkungan, menghindari konsumsi daging atau sayur yang terkontaminasi antibiotik, serta mencuci bersih dan memasak bahan-bahan pangan tersebut hingga matang. Langkah ini dilakukan banyak negara-negara Eropa dan AS lewat program bernama “Preventif Infection and Control.”

Baca juga artikel terkait FARMASI atau tulisan menarik lainnya Faisal Irfani
(tirto.id - Kesehatan)

Penulis: Faisal Irfani
Editor: Windu Jusuf
DarkLight