Menuju konten utama

Bahlil Ungkap Sebab Gas Alam RI Melimpah Tapi 77,8% LPG Impor

Mayoritas gas alam RI merupakan metana (C1) dan etana (C2) yang tidak cocok untuk dijadikan bahan baku LPG.

Bahlil Ungkap Sebab Gas Alam RI Melimpah Tapi 77,8% LPG Impor
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia memberikan pemaparan saat menjadi pembicara pada Indonesia International Sustainability Forum (ISF) 2025 di Jakarta Convention Center (JICC) Senayan, Jakarta, Jumat (10/10/2025). ANTARA FOTO/Bayu Pratama S/sgd

tirto.id - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkap alasan RI masih melakukan impor gas untuk kebutuhan liquefied petroleum gas (LPG), meski memiliki cadangan gas yang melimpah.

Pada 2024, misalnya, Kementerian ESDM mencatat produksi LPG domestik hanya mencapai 1,97 juta metrik ton (MT). Padahal, konsumsi LPG mencapai 8,8 juta MT. Alhasil, 6,91 juta MT atau sekitar 77,82 persen dari total kebutuhan domestik dipenuhi dari impor.

Menurut Bahlil, permasalahan utama terletak pada karakteristik cadangan gas yang tersedia di dalam negeri. Cadangan gas alam Indonesia yang sangat besar tersebut mayoritas merupakan metana (C1) dan etana (C2) yang tidak cocok untuk dijadikan bahan baku LPG.

Sementara itu, untuk produksi LPG dibutuhkan gas berstruktur butana (C3) dan propana (C4) yang memiliki tekanan lebih rendah.

“Gas kita itu speknya C1-C2, yang tidak bisa dijadikan bahan baku untuk LPG. Maka kemudian kita dorong C3-C4-nya kita bangun,” ucap Bahlil dalam Sarasehan 100 Ekonom yang digelar Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Selasa (28/10/2025).

Selain mengembangkan industri C3 dan C4 di dalam negeri, pemerintah juga akan mendorong gasifikasi batu bara yang diharapkan dapat mengurangi ketergantungan impor LPG di masa mendatang. "Kita bangun dan kita dorong juga untuk hilirisasi batu bara, DME (dimetil eter)," jelasnya.

Baca juga artikel terkait BAHLIL atau tulisan lainnya dari Natania Longdong

tirto.id - Insider
Reporter: Natania Longdong
Penulis: Natania Longdong
Editor: Hendra Friana