Menuju konten utama

Bahlil Tak Ambil Pusing Harga LPG Non-subsidi Naik

Bahlil memastikan pemerintah tetap menjamin ketersediaan LPG bersubsidi 3 kilogram atau gas melon bagi masyarakat tidak mampu.

Bahlil Tak Ambil Pusing Harga LPG Non-subsidi Naik
Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia di Gedung DPR RI, Jakarta, Jum’at (13/2/2026). tirto.id/Nabila Ramadhanty Putri Darmadi.

tirto.id - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan tidak mempersoalkan kenaikan harga liquid petroleum gas (LPG) non-subsidi di sejumlah wilayah Jabodetabek.

Ia menilai, konsumen LPG non-subsidi umumnya berasal dari kalangan masyarakat mampu, sehingga kenaikan harga tidak menjadi isu utama.

"Saya mau tanya kamu, kalau [LPG] non-subsidi itu untuk orang kaya atau untuk orang susah? Ya sudah, orang mampu kan [yang membeli LPG non-subsidi]," tuturnya di kantor Kementerian ESDM, Jakarta Pusat, Jumat (17/4/2026).

"Masa orang kaya pendapatannya di atas Rp500 juta per bulan disuruh pakai LPG 3 kilo? Sorry ye," imbuhnya.

Meski demikian, Bahlil memastikan pemerintah tetap menjamin ketersediaan LPG bersubsidi 3 kilogram atau gas melon bagi masyarakat tidak mampu, termasuk melalui penyesuaian harga eceran tertinggi (HET).

Menurutnya, Presiden Prabowo Subianto telah menginstruksikan Kementerian ESDM untuk menjaga harga LPG bersubsidi tetap terjangkau. Selain itu, pemerintah juga akan memperketat distribusi agar penyalurannya tepat sasaran.

"Negara itu hadir untuk membantu semua rakyat, tetapi prioritasnya itu adalah kepada saudara-saudara kita yang tidak mampu. Kalau yang mampu, ya harusnya dia berkontribusi untuk saling membantu. Itu saja kok," ucapnya.

"Kalau yang subsidi tetap. Saya hanya bisa menjamin harga subsidi. Karena itu adalah perintah Presiden dan perintah juga aturan," lanjut Bahlil.

Dalam kesempatan tersebut, Bahlil juga memaparkan bahwa konsumsi LPG nasional saat ini mencapai 8,6 juta ton per tahun dan diproyeksikan meningkat menjadi 10 juta ton pada 2027.

Di sisi lain, kapasitas produksi domestik baru mencapai 1,6 juta ton per tahun. Untuk menutup kekurangan tersebut, pemerintah akan mencari sumber impor baru.

Bahlil menyebut Rusia sebagai salah satu negara yang tengah dijajaki untuk memasok LPG ke Indonesia.

"Jadi, kita harus mencari pasar baru dan termasuk di Rusia. Nah, insyaAllah Rusia, kalau untuk LPG dalam taraf finalisasi," ujarnya.

Baca juga artikel terkait BAHLIL LAHADALIA atau tulisan lainnya dari Muhammad Naufal

tirto.id - Flash News
Reporter: Muhammad Naufal
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Hendra Friana