tirto.id -
EOR merupakan teknologi untuk meningkatkan faktor perolehan minyak mentah. Teknologi ini diterapkan pada formasi dengan faktor perolehan rendah dengan metode produksi normal, dan sumur produksi dengan efisiensi produksi rendah akibat berlalunya tahun sejak dimulainya produksi.
"Enggak bisa lagi kita pakai cara-cara dulu. Harus ada teknologi EOR, salah satu alternatif teknologi dan sistem pengeboran yang tadinya vertikal sekarang horizontal," ungkap Bahlil dalam Peresmian Pembukaan Konvensi dan Pameran Tahunan ke-49 IPA, Gedung ICE BSD, Tangerang Selatan, Selasa (21/5/2025).
Menurut para ahli, kata Bahlil, teknologi EOR mampu meningkatkan lifting minyak dalam negeri. Setidaknya dengan penggunaan teknologi ini lifting minyak kita bisa berada di angka 900 ribu sampai 1 juta barel di 2029 atau 2030 mendatang. Ini sejalan dengan target pemerintah yang menetapkan target produksi minyak bumi nasional sebesar 1 juta barel dan produksi gas bumi sebesar 12 Billion Cubic Feet (BCF) pada 2030.
"Dan Insya Allah kalau ini mampu kita lakukan maka apa yang menjadi arahan dan perintah presiden bisa kita jalankan," ungkapnya.
Bahlil menyebut kondisi lifting minyak Indonesia sekarang jauh apabila dibandingkan dengan tahun 1996-1997. Di mana pada periode tersebut, lifting minyak RI kurang lebih mencapai 1,5 sampai 1,6 juta barel per hari. Sementara konsumsi dalam negeri hanya sekitar 500 ribu per hari.
"Bahkan sempat pendapatan negara kita 40 persen tergantung dari minyak dan gas," jelas dia.
Tapi, sayangnya kata Bahlil, pada 2024 lifting minyak RI hanya sekitar 580 ribu barel per hari dan konsumsinya mencapai 1,6 juta barel. Dengan kondisi ini, maka pemerintah harus impor setiap tahun untuk minyak dan gas menghabiskan kurang lebih sekitar 35 miliar sampai 40 miliar dolar AS.
"Artinya posisi di tahun 96-97 dengan 2024 sekarang berbanding terbalik. Atas dasar hal tersebut bapak presiden telah mencanangkan kepada kami untuk bagaimana caranya agar lifting kita, kita naikkan dan harus bisa mencapai 900 ribu sampai 1 juta barel pada tahun 2029-2030," ungkap dia.
Lebih lanjut, Bahlil mengatakan untuk mewujudkan target lifting minyak pihaknya terpaksa melakukan hal-hal yang di luar kelaziman. Karena bagi mantan Ketua HIPMI itu, hal-hal yang lazim rasanya akan sama saja, sehingga diperlukan dobrakan baru.
"Pertama kita akan melakukan perubahan regulasi besar-besaran melakukan percepatan dan tidak lagi persoalan antara gross split atau cost recovery. Supaya tidak ada lagi perdebatan tentang keekonomian atau tidak, ini yang akan kami lakukan," tegas dia.
Tidak hanya itu, Bahlil juga akan menarik dan menggantikan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (K3S) yang tidak optimal melakukan eksplorasi dan eksploitasi minyak dan gas bumi. Cara ini dilakukan tanpa pandang bulu untuk seluruh K3S yang tidak optimal.
"K3S yang sudah kita serahkan kewenangannya tapi masih lambat, mohon maaf secara Undang-Undang 5 tahun kita harus tarik kepada negara dan kita tawarkan kepada K3S lain yang mau mengerjakan dan ini tanpa pandang bulu tidak hanya swasta BUMN pun kita lakukan," tegas dia.
Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Dwi Aditya Putra
Masuk tirto.id





































