tirto.id - Saat masih kuliah di Yogyakarta, saya pernah menyaksikan reaksi suporter di tribune yang berujung pada kericuhan hingga laga mesti dihentikan secara prematur. Kala itu, tahun 2012, Persija Jakarta menjalani partai usiran di Stadion Mandala Krida menghadapi Persiwa Wamena.
Persija tertinggal lebih dulu melalui gol Yesaya Desnam pada awal babak kedua. Setelah itu, Macan Kemayoran terus menggempur pertahanan Persiwa sampai akhirnya, pada menit ke-74, insiden itu terjadi.
Bola umpan silang dari sisi kiri pertahanan Persiwa dianggap mengenai tangan pemain Persiwa asal Jepang, Yuichi Shibakoya. Saya sendiri tidak ingat persis apakah keputusan wasit Setiyono itu benar atau tidak, meskipun posisi saya duduk persis di belakang gawang Persiwa.
Yang jelas, wasit kemudian meniup peluit, lantas memberi hadiah tendangan penalti untuk Persija. Namun, belum sempat sepakan dilakukan, sekumpulan suporter Persiwa, yang sebenarnya jumlahnya tidak begitu banyak, merangsek ke lapangan. Seperti halnya para pemain Persiwa yang tidak menerima keputusan wasit, mereka pun turut menunjukkan ketidakpuasan dengan memburu wasit yang lari tunggang-langgang.
Walhasil, pertandingan ditunda untuk sementara waktu. Saya ingat persis bagaimana pendukung Persiwa ketika itu tidak cuma berlari memburu wasit, tetapi juga berlari ke tribune Jakmania. Sekitar 20 menit kemudian, barulah situasi kembali dianggap kondusif dan laga pun dilanjutkan. Persija sukses mencetak gol lewat sepakan penalti Bambang Pamungkas, tetapi tim Badai Pegunungan akhirnya mencuri kemenangan berkat gol Boakay Eddy Foday di menit-menit akhir.
Kekecewaan para suporter Persiwa yang meluapkan emosi akibat tidak puas dengan keputusan wasit bukan sesuatu yang hanya terjadi di Tanah Air. Ini adalah keadaan universal dari ekspresi kecintaan seseorang terhadap tim olahraga yang mereka dukung, bukan cuma sepak bola.
Apa pun yang dianggap merugikan, mulai dari keputusan kontroversial wasit, pemilik yang tidak becus, sampai gol yang dicetak secara bersih sekalipun, bisa direspons dengan sangat berlebihan. Kekalahan yang dialami sebuah tim dalam pertandingan tak jarang merembet sampai ke ruang-ruang yang tak memiliki kaitan apa pun dengan olahraga tersebut.
Kekerasan dalam rumah tangga, misalnya, meningkat drastis di Britania Raya setiap kali turnamen sepak bola internasional digelar. Menurut National Centre for Domestic Violence, ketika tim nasional yang didukung kalah, tingkat kekerasan domestik bahkan bisa meningkat sampai 38 persen. Selama Euro 2024 berlangsung, seturut catatan BBC, National Police Chiefs' Council (NPCC) mengumumkan 351 kekerasan domestik yang dilaporkan.
Musuh Bebuyutan Membuat Otak Bekerja Lebih Intens
Pertandingan olahraga, wabilkhusus sepak bola, memang punya cara tersendiri untuk membakar emosi seseorang. Sekelompok peneliti asal Cile pernah menyelenggarakan sebuah studi untuk menjawab pertanyaan ini: Apa sebenarnya yang ada di otak para suporter sepak bola ketika tim yang mereka dukung menang dan kalah?
Penelitian yang hasilnya dimuat di jurnal Radiology tersebut melibatkan 60 suporter dua klub sepak bola terbesar Cile, Colo Colo dan Universidad de Chile, dari berbagai tingkatan fanatisme. Mereka semua diajak untuk menonton video kompilasi gol dan aktivitas otaknya dipindai dengan mesin.
Keenam puluh suporter itu berusia 20-45 tahun dengan rata-rata usia awal 30-an. Dari 60 suporter tersebut, 38 dikategorikan sebagai penonton biasa, 19 masuk dalam kategori suporter, dan 4 bisa dikatakan suporter fanatik. Mengapa setelah dikategorisasi jumlah peserta menjadi 61? Entahlah. Yang jelas, begitulah para ilmuwan Universidad San Sebastián, Santiago, Cile, menuliskan proses kerja mereka. Para suporter itu juga sudah disaring sedemikian rupa sehingga dipastikan tidak ada gangguan atau kondisi yang bisa memengaruhi pemindaian.
Para peserta penelitian itu diminta menyaksikan video kompilasi berisi 63 cuplikan gol, di mana setiap gol berdurasi antara 20 s/d 30 detik. Gol-gol yang ditampilkan pun bersifat utuh. Artinya, proses yang mendahuluinya pun ikut ditampilkan. Dari 63 gol itu, 18 berasal dari pertandingan dua musuh bebuyutan, yakni Colo Colo vs Universidad de Chile, 36 dari pertandingan yang melibatkan kedua klub dengan kesebelasan lain, dan sisanya berasal dari laga yang tak melibatkan kedua tim.
Hasilnya sebenarnya sesuai dugaan. Ketika peserta penelitian melihat tim yang mereka dukung mencetak gol ke gawang musuh bebuyutannya, bagian otak yang berkaitan dengan rasa senang dan kepuasan langsung bekerja dengan sangat aktif. Area-area ini adalah bagian yang juga aktif ketika seseorang menikmati makanan enak sampai keberhasilan pribadi. Ini menunjukkan bahwa gol ke gawang rival lama disikapi sebagai kemenangan personal oleh para fans.

Sebaliknya, ketika tim musuh bebuyutan membobol gawang tim kesayangan mereka, otak para suporter tadi aktif dengan cara yang sama sekali berbeda. Di situasi ini, bagian otak yang bertugas membantu seseorang memahami sebuah kejadian, mencari makna, atau memproses situasi sosial mengalami peningkatan aktivitas. Celakanya, di sisi lain, area otak yang bertugas menjaga kendali diri jadi kurang aktif. Ini, kurang lebih, jadi penjelasan bagaimana amuk suporter terjadi ketika ada sesuatu yang merugikan tim kesayangan mereka, entah kekalahan maupun hal-hal lain seperti, misalnya, keputusan wasit yang kontroversial.
Kemudian, seperti yang sudah bisa diprediksi juga, level fanatisme pun turut berpengaruh pada aktivitas otak. Semakin tinggi level fanatisme, semakin besar kemungkinan otak seseorang untuk kehilangan mekanisme pengendalian diri ketika menghadapi momen negatif, termasuk kebobolan oleh tim rival lama.
Dalam penelitian ini, dua situasi di atas disebut sebagai kemenangan signifikan dan kekalahan signifikan. Lantas, bagaimana dengan ketika ada gol atau pertandingan yang tidak melibatkan musuh bebuyutan?
Sebenarnya tidak jauh berbeda. Gol yang dicetak ke gawang tim non musuh bebuyutan tetap memberi kebahagiaan. Hanya saja, tingkatannya memang tidak sesignifikan ketika itu terjadi ke gawang tim musuh lama. Dari pemindaian MRI, terlihat bagaimana area ventral striatum tidak bekerja seintens ketika seorang fans menyaksikan tim kesayangannya mencetak gol ke gawang tim yang bukan rival lamanya. Hal ini juga berlaku kala tim kesayangannya dibobol oleh tim non rival lama. Sakit, tetapi tidak terlalu.
Sementara itu, ketika diminta menyaksikan pertandingan netral, yang tidak melibatkan Colo Colo ataupun Universidad de Chile, otak para peserta penelitian sebetulnya tetap aktif. Namun, aktivitas otak ini terjadi semata-mata karena mereka sedang merespons tayangan visual. Sama sekali tidak ada reward maupun kendali diri yang berkurang dari menonton laga-laga netral tersebut.
Dari hasil temuan itu, para peneliti menyimpulkan bahwa yang membuat otak suporter sepak bola bekerja lebih intens, baik dalam situasi senang ataupun kesal, bukan semata-mata soal gol, tetapi lebih kepada siapa yang dihadapi. Meski demikian, para peneliti juga mengakui bahwa ini tidak bisa menjawab semua pertanyaan yang diajukan.
Pertama, karena dalam penelitian ini semua responden adalah laki-laki. Jadi, belum diketahui apakah perempuan bakal menunjukkan aktivitas otak yang sama jika dihadapkan pada skenario serupa. Kedua, para peneliti menegaskan bahwa apa yang terjadi dengan otak para suporter itu bersifat asosiatif. Berkaitan tetapi belum tentu bisa disebut sebagai sebab-akibat.
Mental Kerumunan Mendorong Keberingasan
Menurut saya, hasil riset para peneliti di Cile tersebut belum bisa menjelaskan semua amarah yang muncul dari pertandingan sepak bola. Pertandingan Persija vs Persiwa yang saya saksikan di Mandala Krida tiga belas tahun lalu bukan pertandingan antara dua musuh bebuyutan. Namun, reaksi yang muncul, khususnya dari suporter Persiwa, menunjukkan seakan-akan tim kesayangan mereka sedang berhadapan dengan seteru lama. Pertanyaannya, adakah faktor lain yang bermain?
Ya, tentu saja ada, karena persoalan suporter ini bukan cuma soal tentang bagaimana otak, secara individu, bekerja. Studi Universitas Negeri Malang bertajuk "Perilaku Agresi Suporter Sepak Bola di Indonesia Ditinjau dari Contagion Theory" mencoba menjelaskan aksi kekerasan dari sudut pandang sosiologis.
Dalam penelitian itu dijelaskan bahwa massa dapat membuat individu kehilangan sebagian kemampuannya untuk menilai situasi secara jernih. Di dalam kerumunan, seseorang bisa merasa dirinya “tenggelam” dan tidak lagi menonjol sebagai individu. Karenanya, dia merasa memiliki tanggung jawab pribadi yang lebih kecil atas tindakannya. Kondisi ini disebut sebagai deindividuasi dan, menurut penelitian tersebut, inilah salah satu pintu masuk mengapa tindakan agresi bisa muncul secara tiba-tiba meskipun pelakunya, secara pribadi, mungkin tidak berniat melakukan hal itu.
Penelitian yang sama juga menunjukkan bagaimana emosi bisa menyebar dengan sangat cepat di dalam kerumunan massa. Satu teriakan, satu lemparan, atau satu tindakan agresif dapat memicu reaksi berantai. Orang-orang yang semula hanya menonton bisa ikut terbawa arus, bukan karena mereka tiba-tiba berubah menjadi agresif, tetapi karena atmosfer kerumunan menciptakan tekanan psikologis untuk mengikuti apa yang dilakukan orang lain.
Peneliti menggambarkan fenomena ini sebagai emotional contagion, atau penularan emosi yang membuat massa bergerak seperti satu tubuh yang besar, alih-alih kumpulan individu yang berpikir mandiri.

Selain itu, ada elemen suggestibility, yaitu kecenderungan seseorang untuk mudah terpengaruh oleh tindakan kerumunan. Dalam konteks suporter, ini bisa berarti ikut nge-chant provokatif, meneriakkan makian, atau terlibat keributan, bahkan ketika di luar stadion dia tidak pernah melakukan hal semacam itu. Kerumunan menciptakan semacam “hipnosis sosial” yang meruntuhkan batas-batas perilaku yang biasanya dijaga dengan baik.
Jika dibandingkan, studi di Santiago, Cile, menunjukkan bagaimana otak seseorang bisa bekerja dengan cara yang lebih intens ketika menghadapi momen-momen tertentu, terutama terkait rivalitas. Namun penelitian dari Malang menunjukkan bahwa intensitas individu itu dapat berlipat ganda ketika seseorang berada di tengah massa.
Ini, tentu saja, belum menghitung konteks lain seperti rivalitas kedaerahan. Memang betul bahwa Persija dan Persiwa, di atas kertas, bukan seteru lama. Namun, perlu diingat bahwa tensi antara Jakarta dan Papua bagaikan bara dalam sekam. Persija, yang dianggap sebagai representasi “pusat”, bisa jadi sasaran amuk warga Papua yang tak puas dengan cara pemerintah memperlakukan wilayah mereka. Apalagi, beberapa hari berikutnya, juga di Mandala Krida, kerusuhan kembali pecah saat Persija bertemu dengan Persipura Jayapura.
Dari sini, bisa disimpulkan bahwa agresi suporter sepak bola selalu bermula dari individu, yaitu bagaimana otak kehilangan mekanisme kendali diri saat tim kesayangan kalah atau dirugikan. Intensitas ini bisa terlipatgandakan lewat setidaknya dua hal: dengan berada dalam kerumunan atau ketika yang mengalahkan atau merugikan tim kesayangan adalah tim yang dianggap rival lama.
Dan soal rivalitas, suporter sepak bola bisa jadi tak cuma melihat aspek olahraga sebagai sumber rivalitas tetapi juga kondisi sosio-kultural, bahkan sosio-ekonomi, yang melatari kehidupan mereka sehari-hari.
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Irfan Teguh Pribadi
Masuk tirto.id







































