tirto.id - Persib Bandung bukan sekadar klub sepak bola, ia adalah simbol kebanggaan, identitas, dan bagian tak terpisahkan dari denyut nadi mayoritas masyarakat Jawa Barat, juga sejumlah daerah lainnya. Klub ini menjadi bagian penting budaya lokal, dengan basis suporter yang dikenal sebagai Bobotoh, yang loyalitasnya tak perlu diragukan.
Perjalanan Persib tak selalu mulus. Bayang-bayang kegelapan pernah menyelimuti Maung Bandung. Ada saat-saat ketika Pangeran Biru tersandung, bahkan nyaris terjerembap ke jurang degradasi di era profesional.
Saat Maung Bandung Terhuyung
Sejak awal berdiri, Persib melalui cikal bakalnya Bandoeng Inlandsche Voetbal Bond (BIVB), merupakan simbol perlawanan di tengah dominasi klub-klub Belanda di bawah naungan Voetbal Bond Bandung en Omstreken (VBBO) yang dianggap lebih bergengsi.
Ketika Indonesia jatuh ke tangan Jepang, semua kegiatan persepakbolaan yang dinaungi organisasi dihentikan, termasuk Persib yang terpaksa vakum.
Setelah proklamasi kemerdekaan, Persib kembali bangkit dan eksis tidak hanya di Bandung, tetapi juga di Tasikmalaya, Sumedang, bahkan Yogyakarta, mengikuti jejak prajurit Divisi Siliwangi yang hijrah ke ibu kota perjuangan.
Masa-masa sulit di era kolonial dan kemerdekaan ini bukan hanya tentang performa di lapangan, tetapi juga tentang perjuangan eksistensial dan identitas. Klub ini menjadi lebih dari sekadar tim sepak bola, ia adalah simbol perlawanan, persatuan, dan kebanggaan lokal di tengah tekanan penjajahan dan gejolak politik, sebuah fondasi yang menjelaskan kedalaman loyalitas Bobotoh hingga kini.
Di era Perserikatan, Persib sempat tiga kali menjadi runner-up pada tahun 1933, 1934, dan 1936, sebelum akhirnya meraih gelar juara pada 1937 dan 1939. Dekade 1940-an juga diwarnai gangguan situasi politik dalam negeri, yang membuat Persib tidak mampu mencapai hasil maksimal dalam kompetisi.
Meskipun meraih juara Piala Kongres PSSI 1950, Persib sempat menjadi runner-up di Perserikatan 1950 dan 1959, serta gagal meraih gelar juara liga di dekade 1950-an. Mereka baru kembali juara Perserikatan pada 1961.
Kekalahan dari Persiraja pada 1978 menjadi salah satu penyebab kegagalan mereka melaju ke tingkat nasional. Penyebab lain adalah keracunan makanan sebagaimana laporan Pikiran Rakyat pada 23 Januari 1978 yang menunda pertandingan karena ada 7 pemain dan 2 ofisial dari Persib, 7 pemain PSM, dan 7 pemain Persipura yang menjadi korban keracunan.
Kompetisi yang dimulai pada 5 Januari hingga 28 Januari 1978 itu menempatkan Persib di Pool B bersama PSM Makassar, Peseban Banjarmasin, Persisum Sumbawa, dan PSKB Binjai. Persib keluar sebagai juara grup dan lolos ke babak 8 besar ditemani PSM Makassar.
Sempat menang lawan Persipura, kekalahan beruntun berikutnya dari Persebaya dan Persija memaksa Maung Bandung menjalani babak play-off melawan Persiraja Banda Aceh. Persib kalah 2-1 dan harus turun ke Divisi I, liga kedua nasional saat itu.

Degradasi tahun 1978-1979 meskipun menjadi titik nadir yang menyakitkan, justru berfungsi sebagai katalisator untuk perubahan fundamental dalam strategi pembinaan klub. Lebih lagi ketua umum Persib saat itu, Solichin Gautama Purwanegara, atau biasa disapa Mang Ihin, langsung mengundurkan diri.
Namun karena dalam Rapat Anggota Luar Biasa (RALB) yang digelar pada 23 November 1979 tidak menemukan sosok yang tepat, Mang Ihin akhirnya terpilih lagi.
Sebagai respons terhadap keterpurukan ini, Mang Ihin melakukan "revolusi pembinaan" dengan melibatkan pelatih Polandia, Marek Janota, untuk tim junior, dan Risnandar Soendoro untuk tim senior. Pendekatan ini membuahkan hasil dengan membawa Persib kembali promosi ke Divisi Utama pada musim 1980.
Setelah kembali ke Divisi Utama, Persib harus puas menjadi runner-up dua kali berturut-turut pada final Kompetisi Perserikatan 1982-1983 dan 1984-1985, keduanya berakhir dengan kekalahan adu penalti dari PSMS Medan.
Final 1984-1985 bahkan mencatat rekor penonton yang membeludak hingga 150.000 orang di Stadion Utama Senayan, menunjukkan betapa besar harapan para Bobotoh yang harus pupus.
Periode akhir 1980-an hingga awal 1990-an menjadi salah satu era paling gemilang dalam sejarah Persib. Tiga gelar Perserikatan (1986, 1989-1990, 1993-1994) menambah koleksi trofi mereka, yang sebelumnya sudah diraih pada 1937 dan 1961.
"Tertolong" Gempa Yogyakarta
Ketika Perserikatan dan Galatama digabungkan dan membentuk Liga Indonesia pada 1994, Persib datang dengan status raja Perserikatan yang baru saja mengunci gelar juara 1993-1994. Persib lantas mencatat sejarah kembali usai menjadi jawara Liga Indonesia edisi perdana.
Setelah menjuarai Liga Indonesia 1994-95, Persib mengalami puasa gelar liga yang sangat panjang, yaitu 19 tahun, hingga akhirnya juara kembali pada 2014. Periode ini bisa dibilang masa kelam dalam hal prestasi puncak di liga, walau ada beberapa trofi turnamen minor.
Musim 2003 disebut sebagai salah satu yang terburuk di era Liga Indonesia. Ironisnya, Persib saat itu dihuni pemain-pemain bintang dan untuk pertama kalinya setelah era Perserikatan ditangani pelatih asing, Marek Andrzej Sledzianowski dari Polandia, yang membawa tiga pemain asing senegaranya.
Persib akhirnya finis di peringkat ke-16 dari 38 pertandingan dengan 45 poin hasil 12 kemenangan, 9 kali imbang, dan menelan 17 kekalahan. Mereka berhasil bertahan melalui babak play-off usai menundukkan Persela Lamongan dan PSIM Mataram dan bermain imbang dengan Perseden Denpasar.
Tiga tahun berselang, bencana performa kembali menghampiri Persib di Divisi Utama Liga Indonesia 2006-2007. Liga Indonesia saat itu, yang dikenal sebagai Liga Djarum Indonesia, diikuti oleh 34 tim yang dibagi menjadi dua wilayah, Barat dan Timur, dengan format kompetisi home and away.
Empat tim teratas dari masing-masing wilayah akan lolos ke babak 8 Besar, sementara dua tim terbawah dari setiap wilayah terdegradasi ke Divisi Satu.
Di bawah pelatih Risnandar Soendoro, Persib mengawali musim dengan dua kekalahan kandang beruntun dari PSMS Medan dan PSDS Deli Serdang.
"Hasil ini di luar dugaan dan memudahkan langkah kita mempersiapkan pertandingan selanjutnya. Ternyata kita bisa menang dan meraih hasil penuh di Bandung," ujar pelatih PSMS, M. Chaidar dikutip harian Kompas, 22 April 2006.
Hal serupa diungkapkan Tumpak Sihite, arsitek PSDS, yang awalnya hanya menargetkan seri di Stadion Siliwangi. Keduanya menilai Persib saat itu terkesan sebagai sebuah tim lemah kelas bawah.

Posisinya digantikan oleh Arcan Iurie dari Moldova. Meskipun ada perombakan pemain asing dan performa sempat membaik, Persib kembali terperosok ke papan bawah dan hampir terdegradasi ke Divisi I.
Namun, takdir berkata lain. Pada 27 Mei 2006, pagi hari pukul 05:53 WIB, gempa bumi berkekuatan 6,3 skala magnitudo (menurut USGS, atau 5,9 menurut BMKG) mengguncang Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah, dengan pusat gempa di dekat Bantul, sekitar 25 km selatan Yogyakarta.
Gempa ini, yang berlangsung selama 57 detik, menyebabkan kerusakan parah, menewaskan lebih dari 5.700 orang, melukai puluhan ribu lainnya, dan membuat ratusan ribu orang kehilangan tempat tinggal.
Akibat bencana ini, dua tim asal Yogyakarta, PSIM dan PSS Sleman, memutuskan mundur dari kompetisi. Begitu juga Persiba Bantul yang berkompetisi di Divisi Satu.
Persib melakoni laga dengan menjamu PSIM Yogyakarta pada 2 Mei 2006, sebelum gempa terjadi, yang berakhir imbang 1-1. Dua hari pasca gempa, Persib bertandang ke Jawa Timur dan takluk pada Arema, 3-1, lalu dihajar Persekabpas Pasuruan, 1-0 lewat gol Siswanto di menit ke-74.
Namun, kekacauan pasca-gempa, termasuk penundaan pertandingan hingga satu pekan, diduga memengaruhi keputusan akhir terkait klasemen dan degradasi. Dalam keputusan yang kontroversial, PSSI akhirnya menghapus sistem degradasi untuk Liga Indonesia 2006 sebagai bentuk simpati.
Sebelum keputusan itu, PSIM berada di urutan buncit grup barat, sedangkan PSS Sleman di posisi kedua dari bawah klasemen grup timur.
Keputusan tersebut secara tidak langsung menyelamatkan Persib, sehingga bermain tanpa beban di pertandingan-pertandingan berikutnya untuk keluar dari jurang degradasi. Terbukti saat sukses mencuri kemenangan di kandang Semen Padang lewat gol Cucu Hidayat pada 13 Juni 2006. Seminggu kemudian mengalahkan Persita 2-0.
Walau kalah di pertandingan terakhir dari Persitara, Persib akhirnya finis di peringkat ke-12 di wilayah barat dengan 29 poin hasil dari 7 kemenangan, 8 kali draw, dan 11 kali kalah. Dalam gelaran Piala Indonesia tahun itu, Persib juga tersingkir lebih awal usai kalah dari PSIS Semarang dengan aggregat 2-1.
Musim 2003 dan 2006 adalah masa suram, meski dibarengi investasi pada kepelatihan dan pemain asing. Namun, investasi ini tidak langsung membuahkan hasil dan harus menunggu waktu.

Merajut Kembali Kejayaan
Pada musim 2008-2009, di bawah asuhan Jaya Hartono, Persib finis di posisi ketiga, mulai membuktikan keberhasilan investasi dan perbaikan manajemen.
"Sejak 9 September 2009, PERSIB kembali bertransformasi dan menjadi klub profesional di bawah pengelolaan PT PERSIB Bandung Bermartabat,” begitu catatan resmi yang tertera di halaman resmi klub.
Langkah tersebut mengakhiri ketergantungan klub pada dana pemerintah dan beralih ke pengelolaan usaha, menjadikan PT PBB salah satu pengelola klub profesional terbaik di Indonesia.
Kebangkitan berlanjut hingga Persib meraih gelar Liga Super Indonesia pada 7 November 2014 usai mengalahkan Persipura dalam drama adu penalti di Stadion Jakabaring, Palembang.
Setelah penantian panjang, Persib Bandung kembali ke puncak kejayaan dengan meraih gelar juara Liga 1 secara back-to-back pada musim 2023-2024 dan 2024-2025.
Perjalanan menuju gelar 2024-2025 tidaklah mulus. Persib sempat terperosok hingga posisi ke-8 di awal musim. Namun, dengan kegigihan dan konsistensi, mereka berhasil merangsek naik dan mencatatkan rekor luar biasa: 18 pertandingan tak terkalahkan, yang pada akhirnya mengantarkan mereka kokoh di puncak klasemen dan dipastikan juara sebelum kompetisi berakhir.
Perjalanan Persib Bandung adalah cerminan dari pasang surut sebuah klub sepak bola besar. Dari masa-masa perjuangan di era kolonial, degradasi pahit di era Perserikatan, nyaris terjerembap di awal milenium, hingga "diselamatkan" oleh gempa bumi.
Kisah-kisah ini membentuk karakter Maung Bandung yang gigih dan pantang menyerah.
Penulis: Ali Zaenal
Editor: Irfan Teguh Pribadi
Masuk tirto.id

































