Menuju konten utama

Arti Asap Hitam dan Putih Hasil Konklaf 2025 Pemilihan Paus

Konklaf 2025 gunakan asap hitam dan putih untuk tandai hasil pemilihan Paus. Simbol ini jadi sinyal global terpilihnya pemimpin Gereja Katolik.

Arti Asap Hitam dan Putih Hasil Konklaf 2025 Pemilihan Paus
Asap hitam mengepul dari cerobong Kapel Sistina tempat para kardinal berkumpul untuk memilih paus baru. Cerobong Kapel Sistina menandakan hasil pemilihan paus. FOTO/Reuters
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Saat ini sedang berlangsung momen bersejarah pemilihan Paus sejak Rabu (7/4/2025). Momen ini penting bagi Vatikan dan seluruh umat Katolik di dunia. Proses pemilihan ini disebut konklaf, sebuah forum tertutup yang mempertemukan para kardinal Gereja Katolik dari berbagai penjuru dunia di Kapel Sistina, Roma, untuk memilih pemimpin tertinggi baru menggantikan Paus Fransiskus.

Konklaf digelar di Kapel Sistina dalam suasana yang sepenuhnya dikunci dari dunia luar. Para kardinal terisolasi dari semua bentuk komunikasi, dan hanya diperkenankan berbicara satu sama lain selama sesi formal. Pemungutan suara dilakukan dua kali sehari hingga tercapai suara mayoritas yaitu dua pertiga dari jumlah kardinal yang hadir. Setiap sesi pemungutan suara ditutup dengan satu simbol yang ditunggu-tunggu oleh jutaan pasang mata di luar Vatikan adalah asap dari cerobong Kapel Sistina.

Konklaf bukan sekadar forum diskusi, melainkan arena pengambilan keputusan yang dijalankan dengan penuh kehati-hatian. Setiap kardinal memberikan suara dalam suasana sunyi dan sakral, hingga pada akhirnya terpilih satu nama sebagai Paus yang baru. Warna asap hitam atau putih menjadi penanda apakah Paus baru telah terpilih atau belum.

Makna Warna Asap Hitam dan Putih di Pemilihan Paus 2025

Asap yang keluar dari cerobong Kapel Sistina tidak muncul begitu saja. Ia sengaja diatur sebagai sinyal visual bagi publik tentang hasil sementara atau final dari konklaf. Ada dua warna yang mungkin muncul yaitu hitam dan putih.

Asap hitam (dalam bahasa Latin disebut fumata nera) berarti tidak ada hasil. Suara belum bulat, dan Paus belum terpilih. Warna hitam ini membawa makna simbolik bahwa masih ada waktu dan pergumulan dalam menentukan pemimpin yang akan menuntun Gereja. Menjadi simbol dari proses yang masih berlangsung dan penuh pertimbangan.

Asap putih (fumata bianca) menjadi pertanda kemenangan konsensus. Ketika asap putih mengepul dari cerobong, artinya Paus baru telah dipilih. Tak lama setelah itu, lonceng besar Basilika Santo Petrus dibunyikan, menandai bahwa masa sede vacante atau masa kekosongan tahta telah usai. Dunia pun menunggu satu pengumuman sakral “Habemus Papam".

Asap yang muncul bukan asap biasa, melainkan hasil pembakaran surat suara yang telah dicampur bahan kimia khusus. Untuk menghasilkan warna yang berbeda, Vatikan menggunakan campuran kimia khusus. Asap hitam, misalnya, dihasilkan dari pembakaran dengan tambahan bahan seperti potasium perklorat dan antrasena. Sedangkan asap putih muncul dari campuran bahan seperti laktosa dan klorat, yang menghasilkan pembakaran bersih dan terang.

Pada Konklaf 2025, ribuan umat memadati Lapangan Santo Petrus, menunggu asap dari Kapel Sistina. Ribuan pasang mata tertuju ke cerobong tua di Kapel Sistina. Ketika asap putih akhirnya mengepul, lonceng besar Basilika Santo Petrus dibunyikan menandai berakhirnya masa Sede Vacante dan munculnya Paus baru.

Tradisi asap ini telah berlangsung sejak abad ke-19, tapi maknanya tak pernah luntur. Ia tetap menjadi bahasa non-verbal yang menyatukan jutaan umat Katolik dalam harap dan doa, dari Vatikan hingga seluruh dunia.

Lebih dari sekadar tradisi, asap konklaf mencerminkan harapan dan doa umat Katolik di seluruh dunia. Pemilihan Paus bukan hanya soal memilih pemimpin rohani, tapi juga arah masa depan gereja dan umatnya.

Baca juga artikel terkait PAUS atau tulisan lainnya dari Hafizhah Melania

tirto.id - Aktual dan Tren
Kontributor: Hafizhah Melania
Penulis: Hafizhah Melania
Editor: Dipna Videlia Putsanra