tirto.id - Fenomena supermoon terjadi saat purnama dan Bulan berada dalam titik terdekatnya dengan Bumi. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebutkan, supermoon akan terjadi saat bulan memasuki fase purnama pada Jumat (5/12/2025) pukul 20.19 WIB.
Titik terdekat orbit Bulan dengan Bumi ini dikenal sebagai perige. BMKG menyebutkan, Bulan akan berada tepat di perige itu pada Sabtu (6/12/2025) pukul 05.28 WIB. Saat itu, posisi Bulan berjarak sekitar 356.833 km dari Bumi. Sebaliknya, titik terjauh Bulan dengan Bumi dikenal sebagai apoge dan sudah terjadi pada 13 April 2025. Jarak Bumi dengan Bulan ketika berada di apoge itu ialah 406.006 km.
Bulan saat berada di perige itu, akan memiliki ukuran 14 persen lebih besar dari saat berada di apoge. Karena Bulan berada pada posisi terdekatnya dengan Bumi, hal ini dapat menyebabkan pasang surut yang lebih tinggi dari biasanya. Hal ini juga bisa berdampak pada potensi terjadinya banjir rob.
Kenapa Supermoon Bisa Menyebabkan Banjir Rob?
Secara umum, pasang surut air laut disebabkan oleh tarikan gravitasi Bulan dan Matahari terhadap Bumi. Hal tersebut berpengaruh terhadap naik turunnnya bermukaan air laut, serta membentuk gelombang pasang ketika air naik dan gelombang surut ketika air turun.
Oleh karenanya, wilayah pesisir —yang memiliki elevasi rendah dan dekat dengan laut, sangat rentan terhadap dampak banjir rob selama periode supermoon. Pasalnya, tarikan gravitasi Bulan terhadap Bumi juga lebih besar dibandingkan tarikan Matahari karena jaraknya yang lebih dekat.
Terkait hal ini, BMKG juga telah memberikan peringatan dini terhadap potensi banjir rob akibat supermoon itu. Peringatan ini dikeluarkan BMKG melalui Rilis Pers Informasi Potensi Banjir Pesisir (Rob) di Wilayah Indonesia, tertanggal 29 November 2025.
“Potensi banjir pesisir yang secara umum berdampak pada aktivitas masyarakat di sekitar pelabuhan dan pesisir, seperti aktivitas bongkar muat di pelabuhan, aktivitas di pemukiman pesisir, serta aktivitastambakgaram dan perikanan darat,” tulis BMKG dalam peringatan dininya.
Fenomena supermoon berpotensi meningkatkan ketinggian air laut maksimum. Sejumlah daerah pesisir terdampak fenomena ini, berdasarkan pantauan data waterlevel dan prediksi pasang surut.
Beberapa pesisir yang berpotensi mengalami banjir rob itu di antaranya Pesisir Aceh, Pesisir Sumatera Utara, Pesisir Sumatra Barat, Pesisir Jambi, Pesisir Kep. Riau, Pesisir Kep. Bangka Belitung, Pesisir Lampung, Pesisir Banten, Pesisir Jakarta, Pesisir Jawa Barat, Pesisir Jawa Tengah.
Lalu Pesisir Jawa Timur, Pesisir Bali, Pesisir Nusa Tenggara Barat, Pesisir Nusa Tenggara Timur, Pesisir Kalimantan Utara, Pesisir Kalimantan Selatan, Pesisir Kalimantan Barat, Pesisir Kalimantan Tengah, Pesisir Sulawesi Utara, hingga Pesisir Maluku.
Periode potensi banjir rob itu bisa berbeda-beda tergantung daerahnya. Misalnya pesisir Jakarta, potensi banjir rob itu berkisar antara 2-10 Desember 2025 dan 16-24 Desember 2025. Lalu di pesisir Jambi, antara 3-12 Desember 2025.
Untuk melihat detail lokasi dan waktu yang berpotensi mengalami banjir rob, bisa disimak melalui tautan rilis BMKG berikut ini:
Lokasi dan Waktu Potensi Banjir Rob November-Desember - BMKG
Namun supermoon bukan satu-satunya faktor penyebab adanya potensi banjir rob. Faktor lain ialah cuaca, terlebih dengan potensi meningkatnya curah hujan pada Desember 2025. Terbaru, potensi hujan ini juga dipengaruhi adanya Bibit Siklon Tropis 93W yang terpantau pada 3 Desember 2025 di wilayah Samudera Pasifik Utara (sebelah utara Papua Barat).
“Potensi Bibit Siklon Tropis 93W untuk berkembang menjadi siklon tropis dalam 24–72 jam ke depan masih berada pada kategori peluang Rendah. Pergerakan sistem diperkirakan 24 jam ke arah Barat–Barat Laut, lalu 48–72 jam berbelok menuju Barat ke Laut Filipina,” tulis BMKG melalui X (Twitter) pada Kamis (3/12/2025).
Dampak tidak langsung adanya Bibit Siklon Tropis 93W ialah potensi hujan sedang-lebat di Maluku Utara, angin kencang di maluku utara, serta gelombang laut 1.25-2.5 m (Moderate Sea) di Perairan Kep. Talaud, Laut Maluku, Perairan Utara Papua, dan Samudra Pasifik utara Maluku hingga Papua.
Editor: Iswara N Raditya
Masuk tirto.id

































