tirto.id - Dari pantauan unggahan di media sosial, Bahan Bakar Minyak (BBM) Pertamina dilaporkan langka di Sumatra Utara sejak 13 Juli 2026. Beberapa video dan foto yang beredar memperlihatkan antrean panjang yang terjadi di beberapa SPBU Pertamina.
Menurut Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumatra Utara, penyebab utama antrean di SPBU Pertamina bukan karena kelangkaan pasokan, melainkan karena adanya masalah internal perusahaan yang menyebabkan terganggunya proses distribusi BBM.
Penyebab BBM Langka di Sumatra Utara
Dalam rapat dengan Komisi XII DPR RI di Kompleks Parlemen, Jakarta, Kamis (16/7/2026), PT Pertamina Patra Niaga menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat karena antrean pembelian BBM yang terjadi di Sumatra.
Wakil Direktur Utama PT Pertamina Patra Niaga Taufik Aditiyawarman menjelaskan, stok BBM Pertamina sebenarnya berada dalam kondisi aman. Namun, terjadi lonjakan pembelian jenis BBM subsidi seperti Solar dan Pertalite.
"Namun demikian tentunya kami menyadari juga bahwa pada beberapa waktu terakhir masih terjadi antrean dan pembelian secara berlebihan atau panic buying di beberapa wilayah di Sumatera secara umum yang juga dipengaruhi oleh kenaikan ataupun shifting dari konsumsi BBM kepada BBM subsidi yaitu Pertalite dan Solar," jelas Taufik.
Hal ini juga dijelaskan Gubernur Sumatra Utara (Sumut) Bobby Nasution pada 14 Juli lalu. Menurutnya, kelangkaan BBM yang terjadi di Sumatra Utara pada dasarnya bukan disebabkan oleh berkurangnya stok atau pasokan BBM, melainkan oleh terganggunya proses distribusi dari terminal BBM ke stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU).
Kendala utama berasal dari berkurangnya jumlah pengemudi truk tangki BBM akibat adanya pemberhentian massal, sehingga banyak armada pengangkut tidak dapat beroperasi secara normal.
"Tadi disampaikan Pertamina, sebenarnya bukan BBM yang langka. Tetapi yang langka itu, katanya adalah pengemudi yang ngantar BBM. Ini harus selesai dua hari," beber Bobby dikutip Antara News, Selasa (14/7/2026).
"Menjadi kendala distribusinya, karena pengemudi truk pengangkut BBM berkurang. Informasi kami terima terjadi pemberhentian massal, sehingga armada pengangkut tidak bisa beroperasi secara normal," tambahnya.
Kondisi ini menyebabkan pengiriman BBM ke berbagai SPBU mengalami keterlambatan, sehingga sejumlah SPBU kehabisan stok dan memicu antrean panjang masyarakat yang hendak membeli BBM.
Bobby menegaskan jika stok BBM Pertamina tidak mengalami gangguan, yang menjadi kendala adalah proses pendistribusian saja.
"Stok aman, dan pasokan juga tetap berjalan. Jadi persoalannya bukan pada ketersediaan BBM, tetapi pada distribusinya," tutur Bobby.
Bobby menyebut masalah perekrutan maupun pemberhentian pengemudi truk tangki merupakan urusan internal perusahaan (Pertamina dan mitra transportasinya), sehingga pemerintah tidak akan mencampuri keputusan manajemen terkait hubungan kerja atau ketenagakerjaan.
Namun, ia menegaskan bahwa yang menjadi perhatian utama Pemprov adalah memastikan persoalan internal tersebut tidak mengganggu pelayanan publik, khususnya distribusi BBM kepada masyarakat.

Ada Peningkatan Konsumsi BBM
Gangguan distribusi tersebut semakin terasa karena dalam waktu yang sama terjadi peningkatan kebutuhan BBM sekitar 5-10 persen dibandingkan rata-rata harian. Peningkatan konsumsi ini dipengaruhi oleh kembali aktifnya kegiatan sekolah, perkantoran, dan meningkatnya mobilitas masyarakat.
Akibatnya, BBM di SPBU lebih cepat habis, sedangkan proses pengisian ulang belum dapat dilakukan secara optimal karena keterbatasan armada dan pengemudi yang bertugas mendistribusikan BBM.
Untuk mengatasi kondisi tersebut, PT Pertamina Patra Niaga melakukan berbagai langkah percepatan normalisasi distribusi, antara lain dengan menambah armada mobil tangki, memperkuat jumlah awak mobil tangki (AMT), mengoperasikan terminal BBM dan sejumlah SPBU selama 24 jam, serta berkoordinasi dengan pemerintah daerah, TNI, Polri, dan mitra transportasi.
“Kami segera meningkatkan kapasitas distribusi melalui penambahan armada mobil tangki, penguatan personel distribusi, serta optimalisasi operasional sehingga layanan di SPBU kini telah kembali berjalan normal," urai VP Corporate Communication Pertamina Patra Niaga Kitty Andhora.
Personel TNI juga dilibatkan untuk membantu proses distribusi agar penyaluran BBM ke SPBU dapat kembali berjalan lancar.
Dengan berbagai upaya tersebut, Pertamina menegaskan bahwa pasokan BBM tetap dalam kondisi aman dan kelangkaan yang terjadi bersifat sementara akibat gangguan distribusi, bukan karena kekurangan stok BBM.
"Kami tidak memberikan toleransi terhadap setiap pelanggaran yang dapat mengganggu keandalan distribusi maupun pelayanan kepada masyarakat. Apabila terdapat personel yang terbukti tidak menjalankan prosedur operasional sesuai ketentuan, perusahaan akan mengambil tindakan tegas sesuai aturan yang berlaku," tandas Kitty.
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id







































