tirto.id - Federasi Sepak Bola International (FIFA) memperkenalkan Football Video Support (FVS) sebagai opsi lain penerapan Video Assistant Referee (VAR). FVS jauh lebih mudah diwujudkan berbagai pihak karena memiliki biaya pengadaan ekonomis.
Saat ini FVS sudah diterapkan pada liga papan bawah. Beberapa liga yang memanfaatkannya seperti Seri C Italia (divisi pria ketiga), lalu Liga F (liga wanita papan atas dan Primera (divisi pria ketiga) di Spanyol.
FIFA berencana memperluas uji coba FVS ke berbagai asosiasi akhir tahun ini atau awal 2026. Ada 10 asosiasi tengah mempersiapkan teknologi asisten wasit virtual tersebut.
"Menyusul keputusan pada Rapat Umum Tahunan ke-139 The International Football Association Board, uji coba FVS telah diperluas ke kompetisi non-FIFA," tulis pernyataan FIFA di situs resmi, Selasa (7/10/2025).
Apa itu FVS dalam Sepak Bola?
FVS adalah asisten wasit virtual yang memiliki kegunaan sebagaimana VAR. Tujuannya digunakan sebagai alat bantu wasit utama dalam memberikan keputusan yang lebih akurat dalam situasi kontroversial pada sebuah pertandingan.
Keberadaan FVS tidak bisa disamakan dengan VAR. Penerapan teknologi yang digunakan keduanya jauh berbeda.
“FVS tidak boleh dianggap sebagai VAR atau versi modifikasinya, karena tidak melibatkan pejabat video yang memantau setiap insiden,” kata Ketua Komite Wasit FIFA, Pierluigi Collina Collina.
FVS memberikan tinjauan terhadap empat kejadian yaitu gol atau tidak gol, penalti atau tidak, pemberian kartu merah secara langsung, dan mengidentifikasi kemungkinan kesalahan pemberian kartu kuning atau merah.
Sistem ini baru akan bekerja ketika wasit telah memberikan keputusan di lapangan. Saat satu tim ada yang tidak puas terhadap keputusan itu, boleh mengajukan keberatan.
Mengutip Antara, proses peninjauan FVS harus melalui inisiasi pelatih kepala dari tim dengan sinyal gerakan atau memakai kartu khusus. Pelatih dapat menggunakan kesempatan menggunakan FVS pada setiap pertandingan maksimal dua kali, ditambah ketika terdapat waktu tambahan.
Lalu, wasit akan melihat tayangan di video dari berbagai sisi untuk mengambil keputusan. Jika inisiasi hasilnya sukses, tim yang mengajukan masih memiliki satu kesempatan memakai FVS. Jika inisiasi gagal, kesempatan selanjutnya menggunakan FVS hilang.
Sebelum FIFA mengujikan FVS ke anggota asosiasi, sistem ini pernah digunakan pada Piala Dunia U-20 Putri 2024 di Kolombia. Selain itu, FVS juga dipakai pada ajang Blue Stars FIFA Youth Cup yang merupakan turnamen sepak bola bergengsi untuk kaum muda yang diadakan di Zürich, Swiss.
FVS menjadi opsi asisten wasit virtual yang bisa diterapkan pada kompetisi papan atas sampai bawah. Di kala sebuah kompetisi tidak mampu menyediakan infrastruktur VAR yang sangat mahal, maka FVS menjadi solusinya.
Perbedaan FVS dengan VAR
Perbedaan FVS dengan VAR sangat kentara dari sisi infrastruktur. VAR memerlukan berbagai perangkat berteknologi tinggi dan tempat khusus untuk pengamatan.
Sebuah sistem VAR memerlukan ruangan operasional video yang dikendalikan wasit video profesional. Komunikasi dari ruangan ini terhubung langsung saluran komunikasi milik wasit utama.
VAR didukung minimal 8 kamera. Pada pertandingan besar, jumlah kamera yang dipasang lebih dari 30 buah. Berbagai kamera ini ditempatkan pada sisi-sisi strategis di lapangan.
Oleh sebab itu, data video yang diperoleh dari VAR sangat lengkap dan terlihat dari berbagai sudut pandang dalam mengamati hal kontroversial. Keputusan yang diambil wasit menjadi sangat akurat.
Berbeda dengan FVS, infrastruktur yang dimiliki cukup sederhana. FVS beroperasi dengan teknologi minimalis. Jumlah kamera yang ditempatkan di lapangan sekitar 4-5 unit saja.
Oleh sebab itu, teknologi yang dimiliki FVS tidak bisa disamakan dengan VAR. Namun, keduanya sama-sama akan membantu wasit utama untuk menentukan keputusan yang tepat atas situasi kontroversial.
Temukan berbagai informasi mengenai dunia sepak bola melalui tautan berikut:
Editor: Iswara N Raditya
Masuk tirto.id





























