Resensi Film Misbar

Ant-Man and The Wasp: Bukan Tontonan yang Merugikan

Oleh: Aulia Adam - 7 Juli 2018
Dibaca Normal 3 menit
Sebagai film tunggal, Ant-Man and The Wasp akan bikin kita tertawa. Sayang, sebagai sekuel MCU ia tak kuat dan wajib ditonton.
tirto.id - Rasa kaget penggemar Marvel Cinematic Universe (MCU) belum hilang pasca-Infinity War. Keputusan sutradara Russo Bersaudara melenyapkan separuh lebih superhero yang terlibat di pertarungan itu masih bikin sesak napas. Melihat bibir bergetar Scarlett Witch (Elizabeth Olsen) saat mendengar permintaan kekasihnya, tangis depresi Okoye (Danai Gurira) mencari-cari rajanya, hingga rengekan Spider-Man saat memeluk Iron Man di ujung film adalah adegan-adegan kuat yang masih lengket di kening.

Namun, dari puluhan superhero yang terlibat—dan separuhnya yang mati—ketiadaan Ant-Man dan Hawkeye jelas tak lepas dari pantauan penggemar. Kita semua ingin tahu kenapa Russo Bersaudara tak merekrut dua superhero itu untuk ikut perang bersama Iron Man dkk melawan Si Nihilis-Bermasalah Thanos. Tentu saja pertanyaan itu sudah dilempar pada mereka dalam sejumlah interview, tapi demi menjaga umur panjang semesta MCU, jawabannya pasti dirahasiakan.

Teori-teori konspirasi kemudian berkembang, dan masih belum habis didiskusikan di sudut-sudut forum internet.

Salah satu teori percaya bahwa kita tak perlu menunggu setahun—sampai film kedua Avengers: Infinity War keluar—untuk tahu jawabannya. Ada Ant-Man and The Wasp yang keluar Juli ini, dan diharapkan membawa sebagian jawaban bagi rasa penasaran para penggemar.


Teori itu tak salah, meski tak seratus persen benar. Ant-Man and The Wasp memang menjawab pertanyaan: ke mana saja si pahlawan super yang bisa menyusut dan menjadi raksasa ini? Namun, jangan harap film ini akan menjawab pertanyaan-pertanyaan lain, apalagi tentang Hawkeye.

Nyatanya, ia hadir sebagai film tunggal yang bahkan sama sekali tak menyinggung nama Thanos, sedetik pun. Meski sebenarnya terjadi dalam sebuah alternatif waktu yang sama.

Film dimulai dua tahun pasca-Scott Lang si Ant-Man (Paul Rudd) kembali dari perang bersama Avengers dalam Captain America: Civil War (2016). Ia jadi tahanan rumah FBI karena melanggar Perjanjian Sokovia, yang menuntut para superhero harus memegang surat izin dulu sebelum bertempur. Cerita ini sebenarnya sudah dijelaskan Black Widow lewat sebaris dialog dalam Avengers: Infinity War (2018). Hanya saja, ia tak tahu kalau Ant-Man sedang dalam petualangannya sendiri pada saat bersamaan.

Lang akan bebas dalam tiga hari lagi, saat Hope van Dyne alias The Wasp (Evangeline Lilly) tiba-tiba datang menculiknya.

Hope dan ayahnya, Hank Pym si original Ant-Man (Michael Douglas), punya rencana besar dan butuh bantuan Lang. Rencana itu yang jadi misi utama film ini: menyelamatkan Janet van Dyne, ibu Hope alias si original The Wasp—yang selama tiga puluh tahun terakhir terjebak jadi sub-sub-subatom dalam Quantum Realm. Lang dibutuhkan karena dalam film sebelumnya—Ant-Man (2015)—berhasil jadi satu-satunya manusia yang pernah keluar hidup-hidup dari tempat yang konon senyap dan sepi itu.

Petualangan mereka masih seru. Penuh koreografi superkeren yang tak kalah seru dari film sebelumnya, bahkan dari Infinity War. Humor khas Ant-Man juga masih dipelihara sangat, amat baik oleh Peyton Reed, sang sutradara. Karakter Lang yang konyol, humoris, dan kadang juga menyebalkan digali makin dalam. Konflik yang ia bawa bahkan bisa bikin kita lebih terikat, karena karakternya yang memang lebih manusiawi dari Thor, Guardian of the Galaxy, Doctor Strange, Captain America, bahkan Iron Man.

Lang hanyalah seorang ayah, bekas kriminal, yang ingin jadi superdad bagi putri semata wayangnya, Cassie Lang (Abby Ryder Fortson). Tipikal ayah-ayah khas Amerika. Ia tak pernah punya motivasi besar untuk jadi pahlawan super yang setiap hari berpikir tentang keselamatan dunia.

Karakter The Wasp, yang jadi partner Ant-Man, justru sebaliknya. Kita bisa lihat mata berbinar-binar Hope ketika dia mengkonfrontasi Lang dengan kecemburuannya karena tak diajak bertempur bersama Avengers, dua tahun sebelumnya. Ia yang baru mendapat kostum The Wasp dari sang ayah, jelas sekali punya motivasi besar untuk menjadikan pahlawan super sebagai pekerjaan utamanya.

Tak heran, sebab sejak kecil ia sudah sering melihat kedua orangtuanya menyusup keluar rumah untuk pergi menyelamatkan dunia. Meski tak sepenuhnya paham hal itu, tapi Hope memang tumbuh sebagai anak ilmuan yang pernah bekerja untuk S.H.I.E.L.D. Motivasinya untuk jadi pahlawan super bisa dipahami. Hal itu yang membikin The Wasp memang pantas jadi pahlawan super perempuan pertama yang namanya tercantum di judul film MCU.

Sayangnya, naskah film ini tak menyediakan tokoh-tokoh penjahat yang cukup badass untuk The Wasp. Reed memang menyiapkan tak cuma satu, tapi dua penjahat yang berusaha menghalangi misi Hope menyelamatkan ibunya. Namun motivasi mereka terlalu receh, bahkan di titik tertentu terlalu mengada-ada—kelihatan sekali hanya sebagai tempelan, agar pekerjaan The Wasp dan Ant-Man tak terkesan terlalu gampang.

Musuh pertama adalah Sonny Burch, mafia kelas teri yang motivasinya ingin berbisnis Quantum Realm dengan Hope. Ia yakin kalau teknologi yang diciptakan Hank itu akan lebih menghasilkan uang ketimbang mata uang kripto atau kecerdasan buatan. Sehingga mati-matian berusaha mencuri mesin yang sedang dibangun Hank dan Hope.

Satu-satunya yang menarik dari karakter Burch adalah, karakternya yang diciptakan untuk sesekali menyindir korupsi yang terjadi dalam lembaga intelijen Amerika Serikat, FBI.


Infografik Misbar Ant Man


Musuh kedua adalah Ava Starr alias Ghost (Hannah John-Kamen). Waktu kecil, ia pernah terkena ledakan dari dalam mesin Quantum Realm, yang menyebabkan sel dalam tubuhnya membelah dan menyatukan diri dalam kecepatan yang tinggi. Akibatnya, Ava bisa menembus semua benda bermateri solid, macam tembok atau bogam mentah Ant-Man. Keadaan itu tak sehebat kedengarannya, sebab Ava selalu merasa kesakitan setiap waktu. Dan umurnya diprediksi tinggal beberapa hari lagi.

Yup! Konflik dalam film ini memang terdengar receh dan terasa seperti dibuat-buat. Kematian Ava yang menjelang, hukuman Lang yang tinggal tiga hari lagi, ketamakan Burch yang juga tiba-tiba, semua datang bersamaan ketika Hope sedang berusaha menyelamatkan ibunya.

Maksud saya, ini memang tipikal film yang babak per babak dibangun dengan konflik yang cuma hadir supaya film tak kelihatan lempang belaka. Sehingga, pada akhirnya, solusi atas konflik-konflik itu juga akan terasa konyol. Ava sembuh dari konfliknya juga lewat solusi yang sekonyong-konyong, tanpa penjelasan apa-apa.

Sampai film tamat, tak ada yang menjelaskan adegan itu. Sehingga naskah film yang malas ini akan semakin terasa kemalasannya.

Karakter Sonny Burch dan Ava jadi kelihatan kecil dan… konyol, bila dibandingkan musuh-musuh utama dalam film MCU lainnya. Padahal Thanos dan Killmonger, dua karakter jahat dalam dua film MCU terakhir banjir pujian karena penggalian karakternya yang dalam.


Upaya Reed dan koleganya dari MCU untuk menjadikan The Wasp sebagai lambang pendobrak seksisme Marvel jadi terkesan tanggung-tanggung. Bahkan ironis. Nama The Wasp tetap dibikin setelah nama Ant-Man, padahal film ini tentang The Wasp yang sedang menyelamatkan ibunya.

Beruntung, naskahnya unggul dalam penyajian humor. Beberapa aktornya juga tampil mencuri pertunjukan, macam Michael Peña, Randall Park, dan Abby Ryder Fortson. Meski cuma pemeran pembantu, ketiga tokoh itu berhasil menghidupkan keadaan. Kredit lebih juga perlu disematkan pada Fortson yang berhasil bikin Cassie Lang jadi tokoh menonjol. Gairah menggebu-gebu Cassie jadi superhero pendamping ayahnya, juga jadi benang merah yang bikin motivasi Hope semakin kelihatan kuat dalam film ini.

Belum lagi kehadiran Michelle Pfeiffer, si megabintang yang akhirnya bergabung dalam semesta MCU. Jelas, aura bintangnya tak bisa ditampik. Ia jadi salah satu faktor yang meningkatkan level film ini.

Sebagai film tunggal, Ant-Man and The Wasp akhirnya memang bikin kita tertawa, dan pasti terhibur. Sayang, sebagai sekuel MCU, ia tak masuk dalam daftar film-film yang kuat. Tak mesti ditonton, tapi juga bukan tontonan yang merugikan.

Baca juga artikel terkait FILM HOLLYWOOD atau tulisan menarik lainnya Aulia Adam
(tirto.id - Film)


Penulis: Aulia Adam
Editor: Maulida Sri Handayani