tirto.id - Asosiasi Garment dan Textile Indonesia (AGTI) mengusulkan kepada Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, untuk tidak membakar atau memusnahkan pakaian thrifting atau pakaian impor bekas yang disita oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan. Alih-alih dibakar atau dimusnahkan, baju-baju bekas yang diimpor secara ilegal itu akan lebih baik jika dicacah untuk kemudian didaur ulang.
“Kami di AGTI juga bisa memberikan suatu solusi bahwa baju ini bisa dicacah dan menjadi bahan daur ulang. Kalau (bahan pakaian dari) polyester, polyester base. Kalau cotton, (dikelompokkan dengan) cotton base. Kalau yang lain juga base yang lain juga bisa,” ujar Ketua Umum AGTI, Anne Patricia Sutanto, saat ditemui awak media pasca bertemu dengan Menteri Keuangan, di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, Selasa (4/11/2025).
Dengan mendaur ulang pakaian impor bekas ini, menurutnya juga bisa menaikkan daya saing industri tekstil dan garmen Indonesia di mata dunia. Sebab, melalui langkah ini, Indonesia bisa memproduksi pakaian berkualitas dengan bahan-bahan daur ulang.
“Karena kita memerlukan juga bahan daur ulang sebagai bagian dari daya saing kita secara global,” lanjutnya.
Terlepas dari itu, Anne mengaku mendukung penuh langkah Purbaya bersama Ditjen Bea dan Cukai untuk memberantas keberadaan impor pakaian bekas ilegal ini. Sebagai dukungan kepada pemerintah, AGTI bersama seluruh produsen lokal, baik dari industri garmen, produk jadi, maupun asosiasi-asosiasi fesyen lainnya siap menyuplai kebutuhan produk dari para pedagang yang kini masih menjajakan pakaian thrifting.
Dus, nantinya diharapkan tidak ada lagi keluhan dari para pedagang baju thrifting di lapangan.
“Sehingga, konektivitas antara supply chain, ujung ke ujung, sampai ke retail itu bisa kita persiapkan secara patuh dan jelas. Kita bukan anti import ya, yang jelas kita ingin impor itu impor pakaian jadi resmi, impor kain resmi. Karena kan seperti kami, kami juga menjual kain, jual baju lokal, kita harus bayar pajak, harus bayar PPh 25, 21. Nah, kita juga ingin importir yang patuh, nggak ada masalah,” jelas Presdir PT Pan Brothers itu.
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Dwi Aditya Putra
Masuk tirto.id







































