Menuju konten utama

AFPI Ungkap Alasan Jutaan Orang Ajukan Pinjol Tiap Hari

AFPI ungkap alasan 2-4 juta orang ajukan pinjol setiap hari akibat tingginya kredit gap sektor ultra mikro yang butuh dana cepat.

AFPI Ungkap Alasan Jutaan Orang Ajukan Pinjol Tiap Hari
Ilustrasi pinjaman online. FOTO/Istockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) mengungkapkan data tentang tingginya minat masyarakat terhadap pinjaman online (pinjol). Setiap hari, rata-rata 2 juta hingga 4 juta orang mengajukan pinjaman melalui platform fintech lending.

Ketua Umum AFPI, Entjik S. Djafar, menjelaskan data ini terpantau hampir secara real-time melalui sistem pusat data fintech yang mereka miliki. Angka tersebut mencakup peminjam baru maupun peminjam lama yang mengajukan pinjaman kembali.

"Jadi, fintech data center adalah semua data kayak SLIK, tetapi kami punya ini online, hampir real-time. Setiap hari ada minimum 2 juta sampai 4 juta orang yang apply, baik yang existing mau apply lagi maupun yang baru," ujar Entjik dalam sebuah seminar online, dikutip, Jumat (3/7/2026).

Tingginya angka pengajuan ini, menurut Entjik, disebabkan oleh besarnya kredit gap atau kesenjangan pembiayaan yang masih terjadi di Indonesia. Industri fintech lending, terutama fokus pada segmen usaha ultra mikro yang membutuhkan dana cepat.

"Kami itu melayani ultra mikro setiap hari. Yang butuh cuma Rp3 juta sampai Rp6 juta itu yang apply-nya jutaan orang setiap hari. Jadi market kita itu lebih banyak di ultra mikro, di mana pengusaha-pengusaha rumahan yang butuh pinjaman cepat," jelasnya.

Ia menambahkan, rata-rata pinjaman yang diajukan berada di kisaran Rp3 hingga Rp6 juta. Dana ini biasanya digunakan untuk modal usaha, pembelian bahan baku, hingga biaya distribusi bagi pelaku usaha mikro dan ultra mikro.

AFPI mencatat, sebelumnya hampir 70-80 persen kepemilikan investor di industri fintech berasal dari luar negeri, seperti Singapura, China, Eropa, Rusia, dan India. Namun, kondisi mulai berbalik dengan masuknya perbankan sebagai penyalur dana (lender).

"Dari Rp115 triliun, Rp60 triliun itu sudah lender-nya bank. Jadi kami kolaborasi dengan bank," kata Entjik.

Meski demikian, kolaborasi dengan perbankan masih menghadapi kendala teknis. Beberapa bank belum terhubung melalui sistem Application Programming Interface (API) yang dibutuhkan untuk proses penyaluran dana cepat.

“Kenapa API karena prosesnya butuh cepat. Kita gak bisa tunggu. Kalau ada nasabah yang sudah 3 kali berhubungan dengan kita lancar gak pernah terlambat mungkin hitungan menit duitnya sudah di rekeningnya. Jadi begitu cepat,” tuturnya.

Baca juga artikel terkait PINJOL atau tulisan lainnya dari Nanda Aria

tirto.id - Flash News
Reporter: Nanda Aria
Penulis: Nanda Aria
Editor: Siti Fatimah