tirto.id - Kemudahan akses layanan keuangan digital berupa pinjaman online (pinjol) dan paylater sering kali menjadi jalan pintas bagi anak muda dalam menghadapi persoalan finansial maupun sekadar memenuhi gaya hidup. Namun kemudahan tersebut kerap berujung pada siklus utang yang sulit diputus.
Nugra (24), karyawan di salah satu kantor jasa pengiriman barang, berkenalan dengan pinjol didorong oleh desakan ekonomi. Ia mengaku pada awalnya sangat menghindari utang.
Nugra bercerita bahwa ayahnya sudah meninggal sejak ia kecil sehingga ibunya harus bekerja sendiri untuk menghidupi keluarga di Jakarta Timur. Semasa kuliah di salah satu kampus swasta di Jakarta Selatan, Nugra bekerja sampingan sebagai porter untuk pendakian gunung demi mencari tambahan uang makan, ongkos, dan biaya pendidikan.
"Awalnya gue juga enggak kepikiran bakal main pinjol sih. Gue tuh sebenarnya takut ngutang. Cuma ya waktu itu keadaan lagi susah banget," kata Nugra, Jumat (8/5/2026).
Menurut penuturan Nugra, ia sempat mencoba layanan paylater di sebuah platform belanja online secara sesekali untuk membeli kebutuhan mendesak seperti sepatu dan peralatan mendaki gunung. Saat itu ia merasa paylater masih aman karena nominalnya tidak terlalu besar dan tagihannya bisa dibayar dari hasil kerja sampingan.
Persoalan mulai muncul saat ia berada di semester akhir perkuliahan. Pengeluarannya membengkak drastis karena ibunya sempat jatuh sakit sementara ia masih harus menanggung biaya kuliah dan kebutuhan sehari-hari. Penghasilan dari jasa porter yang tidak menentu membuatnya nekat mengunduh aplikasi pinjaman online atas saran seorang teman.
"Ternyata emang gampang banget. Tinggal foto KTP, selfie, isi data pribadi, enggak lama langsung cair," ucap Nugra.
Pada pinjaman pertamanya, Nugra mendapat batas pinjaman sekitar Rp800 ribu hingga Rp1 juta yang langsung dipotong biaya admin di depan. Karena selalu membayar tepat waktu, pihak aplikasi terus menaikkan limit pinjaman secara berkala. Nugra mengaku perlahan ia malah sengaja mengejar limit besar tersebut.
Situasi ini membuatnya terjebak dalam siklus “gali lubang tutup lubang” dengan meminjam dari satu aplikasi untuk membayar tagihan di aplikasi lain. Nugra bahkan pernah menggunakan lebih dari lima aplikasi secara bersamaan yang membuat fokus perkuliahannya sangat terganggu akibat beban pikiran.
"Pernah satu waktu gue pakai lebih dari lima aplikasi aktif barengan. Itu stres banget karena tanggal jatuh temponya beda-beda semua. Kadang baru lunas satu, besoknya ada tagihan lain lagi," tuturnya.
Saat perlahan mulai terlambat membayar tagihan, Nugra sering mendapat panggilan telepon penagihan hampir setiap hari yang membuatnya kerap berdebar saat melihat nomor asing.
"Soalnya kalau dipikir-pikir, yang bikin orang gampang kejebak pinjol itu karena semuanya serba cepat dan gampang. Ditambah limitnya naik terus kalau kita rajin bayar. Jadi kita ngerasa punya pegangan uang banyak, padahal sebenarnya itu utang yang muter terus," ujarnya.
Terjerat Paylater karena Promosi
Pengalaman yang tidak jauh berbeda pun dialami oleh Salsa (22), Perempuan yang kini bekerja dan tinggal di rumah kos di kawasan Bekasi, terjerat kebiasaan paylater karena tergiur berbagai promosi belanja.
Salsa pada mulanya menganggap paylater tidak berbahaya dan bukan merupakan utang besar seperti halnya pinjaman online. Ia pertama kali menggunakan fitur tersebut karena sering melihat tawaran promosi saat membuka aplikasi belanja.
"Dulu kenal paylater tuh karena sering belanja online. Hampir tiap buka aplikasi pasti ada promo paylater. Kadang tulisannya cashback, diskon khusus, atau cicilan nol persen. Nah, itu yang bikin gue tertarik," kata Salsa saat diwawancarai pada hari yang sama.
Serupa dengan Nugra, Salsa juga merasakan betapa mudahnya proses aktivasi layanan keuangan tersebut. Berkat kedisiplinannya menyisihkan uang untuk membayar tagihan tepat waktu, limit paylater Salsa yang awalnya hanya berkisar Rp750 ribu terus mengalami kenaikan. Hal ini justru memicunya menjadi impulsif dan semakin sering berbelanja untuk hal-hal yang tidak terlalu mendesak.
Salsa mulai menyadari kebiasaan borosnya saat ia mencoba menghitung total pengeluaran bulanan. Ia menemukan fakta bahwa barang yang dibeli menggunakan sistem paylater ternyata menjadi lebih mahal akibat akumulasi biaya layanan.
Tagihan bulanannya bahkan pernah menyentuh angka hampir Rp1 juta hanya untuk produk kosmetik, perawatan kulit, dan pakaian.
"Gue kaget ternyata barang yang kalau beli normal mungkin harganya Rp200 juta, pas dicicil atau pakai biaya layanan jadi lebih mahal," ucapnya.
Salsa menilai promosi khusus yang sering dikirimkan melalui notifikasi aplikasi sangat memicu kecanduan pengguna. Aplikasi seolah merancang sistem agar pelanggan merasa sedang berhemat, padahal pada kenyataannya mereka didorong untuk berbelanja melampaui kebutuhan pokok.
"Menurut gue yang paling bikin candu itu promo khusus paylater. Karena aplikasinya kayak sengaja bikin kita merasa lebih hemat, padahal sebenarnya kita jadi belanja lebih banyak," tutur Salsa.
Fungsi Pinjol dan Paylater Mulai Bergeser
Founder sekaligus Financial Planner Mitra Rencana Edukasi (MRE), Mike Rini Sutikno, menilai paylater dan pinjaman online saat ini bukan lagi sekadar alat pembayaran, melainkan sudah bergeser fungsi.
"Paylater dan pinjol itu bukan lagi semacam alat pembayaran atau fasilitas utang, tetapi posisinya sudah jadi jalan keluar dari tekanan sosial dan gaya hidup," kata Mike, Sabtu (9/5/2026).
Menurut Mike, terdapat beberapa tanda bahaya finansial yang kerap diabaikan oleh anak muda sebelum terjerat siklus utang. Salah satunya adalah ketika total cicilan bulanan mulai mendekati atau melampaui batas aman tiga puluh persen dari total pendapatan.
Kemudian, Tanda bahaya lain muncul saat pengguna mulai memakai fasilitas utang untuk memenuhi kebutuhan dasar.
"Paylater umumnya ditujukan untuk cicilan barang yang produktif. Jika terpaksa menyicil hanya untuk sekadar membeli makan atau bayar listrik, berarti cash flow sudah bermasalah di tahap pertama ini," ucapnya.
Mike juga menyoroti peran industri penyedia layanan dan e-commerce yang merancang manipulasi psikologis melalui algoritma.
Aplikasi sering kali hanya menampilkan cicilan harian yang seolah sangat murah untuk mengaburkan realitas beban utang bulanan. Oleh karena itu, literasi keuangan konvensional saja dianggap tidak cukup jika tidak dibarengi dengan literasi digital.
"Platform e-commerce dan media sosial menggunakan data personal kita untuk menampilkan produk yang paling mungkin kita beli. Semakin kita scroll, semakin algoritma belajar tentang preferensi kita, ini memang dirancang secara sengaja," ungkap Mike.
Untuk memutus rantai jeratan utang, Mike menyarankan perlunya pendekatan kolaborasi antara pemerintah, industri, penyedia pinjaman, dan konsumen. Namun bagi anak muda yang sudah telanjur terjerat, ia memberikan peta jalan pemulihan yang harus segera dilakukan.
Langkah pertama dan paling kritis adalah tidak mengambil utang baru untuk menutup utang lama. Mike juga mendorong konsumen untuk berani menghadapi pihak penagih demi mencari jalan tengah yang meringankan beban cicilan.
"Penyedia pinjol atau bank sebenarnya lebih suka uangnya kembali daripada Anda menghilang. Jika sudah kesulitan membayar, jangan lari dari debt collector. Hadapi dan komunikasikan kondisi Anda ke kreditur," tegasnya.
Mike menambahkan bahwa konsumen juga harus segera melakukan audit sederhana untuk menghitung gaya hidup, standar industri keuangan dan financial planning menyarankan di angka 30 persen dari gaji sebagai batas aman untuk utang.
Lalu, mulai melunasi utang secara bertahap, dan membangun dana darurat meskipun dalam jumlah kecil. Ia menekankan pentingnya mengenali pemicu emosional secara psikologis agar tidak menjadikan kegiatan berbelanja sebagai pelarian dari rasa stres maupun kesepian.
"Kalau lagi sedih, patah hati, atau stres sehabis dimarahi atasan, jangan jadikan belanja sebagai pelarian. Hindari doom scrolling di media sosial yang sering menampilkan barang jualan atau orang yang pamer gaya hidup. Tunda keinginan berbelanja selama 24 jam untuk mengerem pembelian impulsif," kata Mike.
Mike menyarankan agar masyarakat tidak segan mencari bantuan profesional jika masalah tersebut dirasa sudah terlalu membebani secara pikiran maupun materi.
"Jika dirasa perlu, jangan ragu mencari bantuan ahli, baik itu perencana keuangan untuk strategi bayar utang, maupun psikolog untuk mengatasi aspek emosionalnya. Intinya, ubah mentalitas Anda dari yang konsumtif menjadi produktif dan berbasis tabungan. Kebebasan finansial di masa depan jauh lebih berharga daripada kepuasan sesaat," pungkasnya.
Penulis: Hanang Septioyudho
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id






































