tirto.id - Kementerian Pertahanan Kamboja mengungkap sebanyak 17 orang warga sipil kehilangan nyawa akibat memanasnya konflik di wilayah perbatasan dengan Thailand, per Rabu (19/12/2025).
Letnan Jenderal Maly Socheata, Wakil Sekretaris Negeri Kamboja, mengatakan kalau pasukan militer Thailand terus melancarkan serangan udara dan menembakkan artileri ke wilayah negaranya.
Socheata, yang juga merupakan Juru Bicara Kementerian Pertahanan Kamboja, menerangkan sejak Rabu pagi, waktu setempat, serangan Thailand terus berlangsung. Pasukan Thailand, ujarnya, menggunakan senapan mesin yang dipasang di tank, drone pengebom, artileri, dan jet tempur F-16 untuk menyerang beberapa posisi di provinsi Oddar Meanchey, Banteay Meanchey, dan Pursat di Kamboja, seturut pemberitaan Xinhua.
Selain 17 korban jiwa, pihak Kementerian Pertahanan Kamboja juga menyebut ada 77 orang korban luka. Menurut data resmi, konflik tersebut juga memaksa lebih dari 130.000 keluarga Kamboja, yang terdiri dari sekitar 438.000 individu meninggalkan rumah mereka dan mencari tempat berlindung yang aman.
Konflik perbatasan Kamboja-Thailand kembali memanas sejak 7 Desember 2025. Kedua negara Asia Tenggara ini saling tuding soal pihak yang memulai serangan.
Mengutip Al Jazeera, pihak Thailand menyatakan Kamboja harus menjadi pihak yang mengumumkan gencatan senjata untuk menghentikan sementara kisruh antara kedua negara yang telah berlangsung lebih dari 10 hari.
"Sebagai pihak agresor di wilayah Thailand, Kamboja harus mengumumkan gencatan senjata terlebih dahulu," ujar Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Thailand, Maratee Nalita Andamo, kepada wartawan di Bangkok, dilansir AFP, Selasa (16/12/2025).
Editor: Alfons Yoshio Hartanto
Masuk tirto.id





























