tirto.id - Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan rendahnya yield atau imbal hasil surat utang pemerintah justru menjadi bukti kepercayaan investor, baik domestik maupun asing. Saat ini imbal hasil surat utang pemerintah tenor 10 tahun disebut berada di level 5,9 persen.
“Kalau yield kita rendah, kan berarti kita bagus. Orang lain percaya sama kita, domestik sama asing,” ujar Purbaya, Senin (20/10/2025).
Ia menjelaskan, saat ini imbal hasil surat utang pemerintah menjadi yang terendah sepanjang 20 tahun terakhir. Menurutnya, hal ini menunjukkan bahwa investor menilai risiko ekonomi Indonesia relatif kecil dan optimistis terhadap prospek pertumbuhan jangka panjang.
“Yield kita itu terendah, sepanjang 20 tahun terakhir, ini sepanjang sejarahnya 5,9 sekarang untuk 10 tahun surat utang pemerintah,” jelas Purbaya.
Berdasarkan data yang dihimpun oleh Kementerian Keuangan Republik Indonesia yang diolah pada 10 Oktober 2025, besaran yield SBN Indonesia dibandingkan negara tetangga lebih kompetitif. Misalnya dibandingkan dengan Filipina sebesar -93,3 bps, Singapura -103,8 bps, Afrika Selatan -124 bps, dan Meksiko -167,8 bps.
Namun, Indonesia juga masih lebih rendah dibandingkan Thailand sebesar -75,2 bps, Amerika Serikat (AS) -53,7 bps, Saudi Arabia -39,2 bps, Malaysia -34,1 bps, India -23,7 bps. Bahkan, sejumlah negara mencetak yield hingga -6 bps seperti Italia, -5,8 bps di Kanada, 0,2 bps di Australia, dan 10,9 bps di Inggris.
Selanjutnya, spread atau selisih antara SBN dengan obligasi dari surat berharga AS US Treasury diklaim kian menyempit. Hal ini mencerminkan risiko kurs dan negara yang terkelola.
Ini ditunjukkan dengan yield SBN 10 tahun turun menjadi 6,09 persen pada Oktober 2025, sebelumnya sebesar 6,97 persen pada Januari 2025. Sementara, US Treasury mencerminkan spread 4,03 persen pada Oktober 2025, di awal tahun ini sebesar 4,57 persen.
"Itu menunjukkan orang percaya dengan fondasi ekonomi kita ke depan. Kalau enggak, enggak akan bisa seperti itu," pungkas dia.
Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Dwi Aditya Putra
Masuk tirto.id





































