Yap Thiam Hien, Gus Mus, dan Toleransi Umat Beragama

Oleh: Rio Apinino - 22 Desember 2017
Dibaca Normal 3 menit
KH Mustofa Bisri atau Gus Mus dinobatkan sebagai pemenang Penghargaan Yap Thiam Hien 2017.
tirto.id - Laporan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) yang dilansir awal tahun lalu menyebut ada peningkatan pelanggaran kebebasan beragama dan berkeyakinan di Indonesia. Laporan setebal 59 halaman itu mendata ada 97 laporan terkait, naik dari tahun sebelumnya yang berjumlah 87. Instansi yang sama mendata ada 11 kasus baru yang terjadi pada Januari hingga Maret 2017.

Pelanggaran ini umumnya menyasar kaum minoritas seperti Ahmadiyah, Syiah, dan pemeluk agama atau keyakinan lain. Bentuknya macam-macam, termasuk pembatasan atau pelarangan beribadah, bahkan sampai perusakan tempat ibadah itu sendiri. Salah satu contoh adalah penyegelan Masjid Al-Hidayah milik Jemaat Ahmadiyah Indonesia di Sawangan, Depok, Jawa Barat.

Dari puluhan kasus itu, kejadian terbanyak terjadi di Jawa Barat. Ada 21 pengaduan di provinsi yang berbatasan langsung dengan ibu kota negara ini. Jakarta sendiri ada di peringkat kedua dengan jumlah aduan sebanyak 19.

Tahun ini angkanya bisa jadi lebih banyak, dan riset terbaru memperkuat dugaan itu.

Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menyebut intoleransi dan radikalisme menjalar ke banyak sekolah dan universitas di Indonesia. Temuan itu berdasarkan survei terhadap 2.181 orang yang terdiri dari 1.522 siswa, 337 mahasiswa, dan 264 guru dari seluruh provinsi.

Dalam survei yang dirilis bulan lalu, 31 persen siswa dan mahasiswa menganggap syiah sebagai kelompok yang tidak disukai. Dan hampir 50 persen dari responden mengatakan pendidikan agama mempengaruhi mereka agar tidak bergaul dengan pemeluk agama lain.

Saiful Umam, Direktur Eksekutif PPIM UIN Jakarta, mengatakan intoleransi dan radikalisme di kalangan "Generasi Z" Indonesia sebagai "api dalam sekam".

"Di satu sisi, memang belum menyala, itu betul, tapi ada potensi untuk menjadi api," kata Saiful kepada Tirto, Rabu (8/11/2017). Riset ini ingin menunjukkan bahwa alih-alih toleransi tumbuh dari generasi baru, yang terjadi justru bisa jadi sebaliknya.


Dalam konteks politik praktis, sentimen agama dijadikan alat untuk memobilisasi massa. Satu contoh adalah Pilkada DKI Jakarta. Kemenangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno berdiri di atas fondasi kecenderungan pemilih berdasarkan kesamaan agama.

Data exit poll Indikator Politik Indonesia menyebut dari 789 responden, 32,5 persen pemilih memilih kandidat Gubernur-Wakil Gubernur berdasarkan kesamaan agama. Sementara soal kinerja hanya menempati posisi kedua dengan persentase 14,5 persen.

Dari semua responden yang memilih Anies-Sandi, kesamaan agama berpengaruh sangat besar. Sebanyak 58 persen pemilih Anies-Sandi mencoblos berdasarkan kesamaan agama. Pemilih Ahok-Djarot bukannya tak ada yang melakukan hal serupa. Ada, tapi jumlahnya tak signifikan, hanya 3 persen.

Ian Wilson, kolumnis Tirto, pengajar jurusan ilmu politik dan keamanan sekaligus peneliti Asia Research Centre di Murdoch University, Australia, mengatakan isu agama mengalihkan persoalan yang lebih fundamental, dalam hal ini kemiskinan dan ketimpangan. Dua isu yang sebetulnya sangat signifikan dalam kehidupan warga kota seperti Jakarta.

Mobilisasi massa dengan sentimen agama juga digunakan untuk aksi-aksi persekusi terhadap kelompok sipil lain. Ini misalnya terjadi di Gedung YLBHI pada 17-18 September lalu. Demonstran menyerang kantor lembaga bantuan hukum untuk orang-orang miskin itu atas "hoax" bahwa di sana ada "kegiatan PKI".

Dalam laporan mendalam Tirto, salah satu kelompok penyerang itu adalah Gerakan Reformis Islam (Garis), ormas yang punya rekam jejak kerap mempersekusi minoritas agama seperti Ahmadiyah dan penganut Kristen, terutama di Jawa Barat.


Dalam konteks demikian lah Penghargaan Yap Thiam Hien kembali diadakan. Dewan juri, yang terdiri dari Makarim Wibisono (diplomat senior), Todung Mulya Lubis (Ketua Yayasan Yap Thiam Hien), Musdah Mulia (Ketua Umu ICRP), Zumrotin K. Susilo (aktivis perempuan dan anak), dan Yoseph Stanley Adi Prasetyo (Ketua Dewan Pers), mencoba memberikan sumbangsih melawan sikap intoleran.

Penghargaan yang telah berlangsung sejak 1992 (kecuali 2005) ini kemudian memilih satu nama sebagai pemenang: KH Mustofa Bisri. Pria yang akrab disapa Gus Mus ini dinilai sebagai sosok yang tepat untuk jadi "peredam" meningkatnya intoleransi dan fundamentalisme agama.

"Gus Mus diperlukan dalam kegalauan dan kegundahan kita semua ketika semangat fundamentalisme, sektarianisme, dan anti kemajemukan meningkat saat ini. Kita memerlukannya dalam konteks demikian," kata Todung, dalam pengumuman Penghargaan Yap Thiam Hien 2017 yang diselenggarakan di kantor Dewan Pers, Jakarta, Kamis (21/12/2017).

"Gus Mus tidak pernah kompromi dalam menegakkan hak ibadah tiap individu," tambah Todung.

Gus Mus memang pribadi yang toleran. Satu kisah tentangnya yang paling tenar ketika mengomentari polemik "goyang ngebor" Inul Daratista dan Rhoma Irama. Alih-alih mendukung Rhoma yang menggunakan dalil agama, Gus Mus malah melukis Inul di tengah majelis zikir kiai.

"Seolah-olah Gus Mus meningkatkan kita jangan terpaku pada daging saja, penampakan luarnya. Lihat esensinya," dalam buku Satu Rumah Seribu Pintu (2009).

Ungkapan toleransi Gus Mus kerap ditemukan dalam puisi-puisinya. Puisi berjudul "Kaum Beragama Negri Ini", misalnya, menyindir bagaimana orang-orang beragama saat ini merasa benar sendiri. Mereka sakralkan pendapat mereka / dan mereka akbarkan / semua yang mereka lakukan / hingga takbir / dan ikrar mereka yang kosong / bagai perut bedug / Allah hu akbar walilla ilham.

"Puisinya mengkritik. Bagus tapi dalam. Sangat menohok dan dalam maknanya," kata Musdah Mulia. "Mungkin aktivis HAM harus mulai mengikuti Gus Mus, tidak hanya melalui pernyataan-pernyataan keras, namun juga melalui jalur kebudayaan," tambahnya.


Rencananya penyelenggara Penghargaan Yap Thiam Hien akan memberikan penghargaan bagi Gus Mus dalam seremoni yang dihelat Januari nanti.

Gus Mus lahir di Rembang, Jawa Tengah, dalam masa pendudukan Jepang tahun 1944. Ia adalah penerima beasiswa dari Universitas al-Azhar, Kairo, Mesir, pada 1967 sampai 1970 untuk studi Islam dan bahasa Arab. Sebelumnya ia kenyang belajar di pesantren. Setelah tamat dari Sekolah Rakyat, Gus Mus menimba ilmu di Pesantren Lirboyo, Pesantren Krapyak, dan Pesantren Taman Pelajar Islam.

Kini Gus Mus mengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin di Leteh, Rembang, Jawa Tengah.

Nasib Suram Berkeyakinan di Indonesia

Baca juga artikel terkait TOLERANSI BERAGAMA atau tulisan menarik lainnya Rio Apinino
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Rio Apinino
Penulis: Rio Apinino
Editor: Zen RS
DarkLight