Menuju konten utama

Waterfront Tourism: Mimpi yang Dipacak di Depan Air

Istilah waterfront tourism dipakai untuk menggambarkan kegiatan wisata yang dibangun di depan perairan, terutama laut.

Waterfront Tourism: Mimpi yang Dipacak di Depan Air
Kapal Fery ASDP sedang berlabuh di pelabuhan. foto/Dok. ASDP

tirto.id - Suatu sore di 2023 saya termenung di Jalan Soekarno Hatta, Labuan Bajo. Jalan aspal mulus. Orang berjalan tanpa terburu di trotoar yang masih seperti baru. Lampu jalan menyala terang. Pemuda-pemudi nongkrong di marina. Pendar cahaya dari minimarket seperti menembus kaca hingga ke seberang jalan.

Ini bukan kali pertama saya ke Labuan Bajo, yang sudah sejak lama dikisahkan para pengelana dan musafir sebagai pintu masuk firdaus ala Nusa Tenggara Timur. Pada 2008 saya pernah ke sini. Suasananya tentu berbeda. Ketika itu saya yang menumpang truk dari Dompu, Nusa Tenggara Barat, melihat dengan mata kepala sendiri seberapa jauh dan dalam jurang pembangunan di Nusa Tenggara dengan pulau Jawa.

Jangankan jejeran restoran dan kafe yang menyajikan menu-menu western, bahkan fasilitas dasar seperti jalan dan listrik masih seperti menatap Indonesia di era 70. Ketika itu saya berdecak kesal: betapa dalam ketimpangan pembangunan di Indonesia.

Kini, lima belas tahun berselang, wajah Labuan Bajo berubah drastis. Kota kecil di ujung barat Flores itu bersolek dan disambut dengan suka cita oleh warga lokal maupun wisatawan. Dari kawasan pemukiman nelayan sederhana, ia menjelma menjadi destinasi premium yang berkelas dunia.

Apa yang dibangun di Labuan Bajo dan sekitarnya itu adalah bagian dari waterfront tourism. Istilah yang kini ramai dipakai sejatinya bukan hal baru. Singapura punya Clarke Quay, Sydney punya Darling Harbour, San Francisco punya Fisherman’s Wharf. Kawasan tepi air yang dulunya hanya pelabuhan yang bersebelahan dengan tempat pelelangan ikan dengan bau menyengat, disulap jadi pusat hiburan, kuliner, hotel bintang lima sekaligus ruang publik.

Kawasan ini dirancang sebagai etalase modern: Hotel Meruorah sebagai pusat akomodasi mewah, plaza komersial untuk promosi produk UMKM, dermaga ferry dan marina yang mampu menampung hingga 135 yacht internasional, beach club berkapasitas 450 orang, hingga hotel mid-tier untuk segmen menengah. Kehadirannya bukan hanya melengkapi fasilitas wisata, tetapi juga memperluas ekosistem pariwisata: dari logistik, hospitality, hingga kerajinan dan jasa pendukung kapal pesiar.

Corporate Secretary ASDP, Shelvy Arifin, menyebut Kawasan Marina Terpadu sebagai bagian dari transformasi bisnis waterfront ASDP. “Adanya Kawasan Terpadu Marina Labuan Bajo khususnya hotel Meruorah ini menjadi upaya besar dalam pengembangan bisnis waterfront ASDP untuk memajukan destinasi wisata tanah air,” ujarnya.

Indonesia, yang memiliki salah satu garis pantai terpanjang di dunia, punya modal besar. Hanya saja, tidak semua kawasan pesisir dikembangkan dengan visi yang sama. Beberapa tetap jadi titik transit, sebagian lain tumbuh secara acak dan organik (tentu saja yang seperti ini perlu waktu berkembang lebih lama).

Labuan Bajo menjadi salah satu titik yang dikembangkan dengan visi apik dan terarah.

Kawasan yang dulunya adalah tempat pemukiman nelayan ini sejak lama sudah jadi magnet turis. Taman Nasional Komodo, pulau-pulau kecil dengan pasir putih, dan laut biru yang kaya biota membuatnya masuk daftar destinasi super prioritas pemerintah.

Marina City hadir sebagai etalase: hotel bintang lima, plaza komersial, promenade tepi laut, hingga dermaga marina yang bisa menampung yacht internasional. Ada juga spa, wedding chapel, infinity pool, dan multifunction hall berkapasitas ribuan orang. Semua ditata agar wisatawan tak hanya datang melihat Komodo, tapi juga menikmati “liburan di pelabuhan” dengan standar kelas dunia.

Ambisinya jelas: menjadikan Labuan Bajo sebagai mercusuar wisata bahari Indonesia di kelas eksklusif dan premium. Pasar yang dibidik adalah wisatawan internasional dengan kemampuan belanja tinggi, termasuk segmen yacht tourism yang menjanjikan devisa besar. Ekosistemnya bisa membuka peluang baru: dari logistik hingga kerajinan lokal, dari tenaga kerja hingga jasa pendukung untuk kapal pesiar.

Dampak ekonominya mulai terasa. Rata-rata lama tinggal wisatawan naik dari 1,7 hari menjadi lebih panjang. Itu berarti belanja wisatawan meningkat: devisa bertambah, perekonomian lokal tumbuh, pendapatan masyarakat ikut naik. Kawasan ini bukan sekadar ruang singgah, tetapi ruang hidup baru bagi pariwisata NTT.

Dan Labuan Bajo jelas bukan satu-satunya di Indonesia.

Mencari Wisata Air di Lampung

Di Pelabuhan Bakauheni, Lampung Selatan, kapal feri datang dan pergi tanpa henti. Truk logistik mengantri keluar, penumpang menurunkan barang bawaan, suara peluit kapal bersahutan dengan riuh orang-orang yang baru menjejak daratan Sumatra.

Selama puluhan tahun, pemandangan ini tak banyak berubah: Bakauheni adalah simpul transportasi, pintu gerbang Jawa–Sumatra yang setiap tahun dilalui jutaan orang. Pernah juga, bahkan mungkin sampai satu-dua tahun lalu, imejnya buruk. Mulai dari sarang preman, hingga banyaknya pemaksaan berkedok transportasi lokal.

Tapi dalam beberapa tahun terakhir, wajah baru mulai muncul. Ada taman hiburan tematik, masjid besar yang jadi penanda, pasar UMKM yang hidup, hingga sebuah amphitheater yang menatap langsung ke laut.

Kawasan ini dinamai Bakauheni Harbour City. Proyek besar seluas 160 hektare itu dicanangkan sebagai ikon baru Lampung, dan bukan lagi sekadar pelabuhan transit. ASDP Indonesia Ferry, penggagas proyek ini, menyebutnya sebagai upaya mengubah wajah pelabuhan menjadi destinasi wisata: sebuah waterfront tourism yang menggabungkan transportasi, hiburan, dan budaya.

“Dengan integrasi yang matang antara sektor pariwisata, pelabuhan, dan hiburan, BHC diproyeksikan dapat memberikan multiplier effect yang kuat, menciptakan lapangan kerja baru, dan mendorong peningkatan investasi lokal maupun internasional. Hal ini diharapkan dapat mengubah peta ekonomi Lampung, menjadikannya lebih dinamis dan kompetitif,” ungkap Shelvy Arifin, Corporate Secretary PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) mengutip siaran pers (16/9/2025).

ASDP melakukan langkah serupa dengan yang mereka lakukan di Labuan Bajo. Hitungannya masuk akal. Dengan posisi strategis, yang berdampingan dengan Jalan Tol Trans-Sumatra dan pelabuhan utama, ASDP bisa memanfaatkan potensi pergerakan hingga 20 juta penumpang setiap tahun.

Jika sebagian dari angka itu, katakanlah 5 persen, mau berhenti sejenak untuk belanja, menikmati atraksi, atau sekadar duduk di promenade, dampaknya pada ekonomi lokal akan sangat terasa. Itu artinya setiap tahun akan ada satu juta orang berwisata di Bakauheni, kawasan yang dulu sempat bikin orang enggan untuk sekadar mampir istirahat.

Pemerintah daerah pun menyambut. Bupati Lampung Selatan, Egi Supriadi, menyebut BHC sebagai ikon wisata dunia dari pintu gerbang Sumatra, dengan harapan membuka lapangan kerja, memperkuat UMKM, dan mengangkat budaya Lampung melalui simbol-simbol khas seperti Menara Siger.

Namun, ambisi besar juga menuntut kesiapan. Bakauheni adalah simpul transportasi massal; mengubahnya menjadi kawasan wisatawan berarti mengatur ulang arus kendaraan, menyiapkan lahan parkir, hingga mengimbangi kepentingan logistik dengan kebutuhan wisata. Belum lagi soal investasi.

Membangun hotel, pusat komersial, dan fasilitas publik di lahan seluas itu memerlukan modal besar, serta kerja sama erat antara pemerintah, BUMN, dan swasta. Ada pula isu lingkungan pesisir yang tidak bisa diabaikan, dari sampah hingga risiko bencana alam.

Jalan Masih Panjang

Bakauheni dan Labuan Bajo adalah dua wajah dari visi yang sama. Yang pertama berfokus pada volume, mengubah arus penumpang massal jadi peluang ekonomi. Yang kedua berfokus pada kualitas, menawarkan pengalaman eksklusif untuk memperkuat citra internasional. Keduanya dikelola oleh ASDP, yang kini jelas tak lagi sekadar operator penyeberangan, melainkan pemain aktif dalam industri pariwisata.

Jika berhasil, kedua proyek ini bisa jadi model replikasi. Bayangkan waterfront tourism di Makassar, Ambon, atau Balikpapan yang menggabungkan fungsi transportasi dengan ruang publik, wisata, dan ekonomi kreatif. Indonesia punya peluang besar memanfaatkan kekuatan lautnya, bukan hanya sebagai jalur logistik, tapi sebagai ruang hidup yang baru.

Namun, syaratnya jelas: proyek besar ini tidak boleh berhenti sebagai deretan bangunan kosong. Kuncinya ada pada pelibatan masyarakat lokal, bukan hanya sebagai pekerja, tapi mitra yang produknya dijual dan budayanya tampil.

Yang juga wajib diperhatikan: pengelolaan lingkungan. Karena waterfront yang indah tak ada artinya jika laut tercemar dan akses publik tertutup. Dan tentu, ada pada konsistensi investasi serta tata kelola yang berkelanjutan.

Maka, dari sini, kita harus sadar: pekerjaan di Bakauheni maupun Labuan Bajo adalah maraton. Ia butuh napas panjang, konsistensi, dan kesabaran untuk mencapai tujuan. Perlahan, tapi pasti. Karena tak selamanya yang ngebut dan terburu-buru itu memberi hasil baik.

(JEDA)

Penulis: Tim Media Servis