tirto.id - Massa yang mendatangi kediaman sekaligus Majelis Dzikir Nurul Hikam pimpinan Asep Setiawan alias Abah Setu pada Senin (7/9/2026) malam disebut bukan berasal dari lingkungan sekitar.
Salah seorang warga, Wiryo (58), bukan nama sebenarnya, mengatakan dirinya dan warga sekitar tidak ikut dalam aksi massa tersebut.
"Setahu saya yang datang itu orang-orang dari luar. Kalau warga sini enggak ikut," ujar Wiryo kepada Tirto, Jumat (11/9/2026).
Wiryo menyebut sempat terkejut ketika melihat keramaian di sekitar majelis tersebut.
"Awalnya saya kurang tahu soal detailnya. Cuma sempat kaget juga waktu tiba-tiba ada demo" katanya.
Kemudian, Wiryo juga mengaku tidak mengetahui asal massa ataupun organisasi kemasyarakatan (ormas) yang datang ke lokasi tersebut.
"Kurang tahu juga. Saya enggak tahu mereka dari mana," katanya.
Wiryo mengatakan keramaian tersebut sudah tidak berlangsung hingga saat ini. Dia menyebut situasi di sekitar majelis telah kembali seperti biasa.
"Sehabis itu enggak ada lagi, terus kemarin (Abah Setu) juga dibawa ke Polres," ujarnya.
Sebelumnya, Asep Setiawan atau Abah Setu menjadi sorotan setelah potongan video pernyataannya mengenai Nabi Muhammad SAW beredar luas di media sosial.
Pernyataan tersebut kemudian memicu keresahan hingga sejumlah massa mendatangi kediaman sekaligus Majelis Dzikir Nurul Hikam pada Senin (7/9/2026) malam.
Polisi kemudian melakukan mediasi dengan Asep di Mapolres Metro Bekasi pada Kamis (10/9/2026). Dalam mediasi tersebut, dihadiri juga oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Bekasi dan sejumlah tokoh masyarakat, Asep menyampaikan permintaan maaf dan mengakui kesalahannya terkait video yang beredar.
"Sehubungan dengan beredarnya video yang telah menyinggung kaum muslimin, khususnya telah menghina Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, dengan ini saya mengakui dan menyatakan salah atas kekeliruan tersebut. Oleh karenanya, saya meminta maaf yang sebesar-besarnya," kata Asep di Mapolres Metro Bekasi, Kamis (10/9/2026).
Selain meminta maaf, Asep menyatakan akan menghentikan sejumlah kegiatan yang dinilai dapat menyinggung umat Islam.
"Saya menyatakan akan menutup kegiatan yang berkaitan dengan segala hal yang dapat menyinggung umat, baik Majelis Taklim, konten media sosial, pengajaran terselubung, yang berpotensi menghina dan menyesatkan kaum muslimin," tegasnya.
Asep juga menyatakan siap mempertanggungjawabkan perbuatannya sesuai hukum yang berlaku jika kembali melakukan aktivitas serupa
"Saya bersedia mempertanggungjawabkan menurut hukum yang berlaku apabila saya mengulang dalam bentuk yang sama atau sejenis di kemudian hari," lanjutnya.
Penulis: Hanang Septioyudho
Editor: Bayu Septianto
Masuk tirto.id






























