tirto.id -
Seluruh sumber mata air yang selama ini menjadi tumpuan hidup warga rusak parah akibat bencana banjir dan tanah longsor.
Air yang sebelumnya jernih dan layak konsumsi, kini berubah menjadi keruh kecokelatan. Meski tak layak digunakan, warga terpaksa tetap memanfaatkannya untuk mandi, mencuci, bahkan untuk dikonsumsi sehari-hari.
Toba, salah seorang warga setempat, mengatakan selama lebih dari sebulan terakhir masyarakat mengonsumsi air yang bercampur lumpur tersebut. Air sempat terlihat membaik, namun kembali keruh setiap kali hujan turun.
“Air sempat mulai bersih, tapi ketika hujan kotor lagi,” ujar Toba, Kamis (1/1/2026) kepada Kotributor Tirto.
Air yang dialirkan ke permukiman berasal langsung dari gunung. Sebelum diminum, warga hanya bisa merebusnya dengan harapan air menjadi lebih aman. Namun hasilnya tetap jauh dari kata layak.
“Kalau dimasak memang beda sedikit warnanya, tapi rasanya seperti bercampur tanah,” kata Toba.
Meski bantuan berupa sembako dan air mineral telah disalurkan oleh relawan dan pemerintah, jumlahnya dinilai belum mencukupi kebutuhan warga. Akibatnya, sebagian besar masyarakat masih bergantung pada air keruh dari gunung tersebut.
“Air mineral ada, tapi enggak cukup untuk dikonsumsi terus,” ujarnya.
Sulitnya distribusi bantuan menjadi persoalan utama. Banyaknya titik longsor dan jalan yang amblas membuat akses menuju kemukiman Wihni, Jamat terhambat.
Kondisi semakin parah setelah Jembatan Kala Ili, satu-satunya akses menuju wilayah tersebut, turut putus diterjang banjir bandang pada akhir November 2025 lalu. Kawasan itu pun terisolasi.
Bupati Aceh Tengah, Haili Yoga, dalam wawancara terakhirnya mengatakan pemerintah daerah terus berupaya membuka akses menuju wilayah terdampak.
“Kita terus berusaha untuk membuka akses,” ujarnya, Sabtu (27/12/2025).
Menurutnya, jalan utama menuju Kecamatan Linge masih ada tertimbun longsor di banyak titik, sehingga kendaraan roda empat sulit melintas.
Saat ini pemerintah memfokuskan upaya pada pembukaan akses jalan agar pemulihan di wilayah terisolasi, termasuk pemulihan aliran listrik dan distribusi bantuan, dapat dilakukan secara maksimal.
Sementara itu, warga Wihni, Dusun Jamat, hanya bisa berharap bantuan air bersih segera tiba. Di tengah keterisolasian dan keterbatasan, mereka terpaksa bertahan dengan air lumpur demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
==
Kontributor: Nadim
Masuk tirto.id
































