Menuju konten utama

Wamensos: Perpus Sekolah Rakyat Harus Jadi Pusat Literasi Siswa

Dia juga menekankan bahwa penguatan budaya literasi merupakan bagian penting dari visi besar Sekolah Rakyat yang digagas Presiden Prabowo Subianto.

Wamensos: Perpus Sekolah Rakyat Harus Jadi Pusat Literasi Siswa
Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) meninjau kegiatan belajar mengajar di Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 26 Makassar, Sabtu (18/4/2026). foto/DOk. Kemensos
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono menekankan bahwa peran pengelola perpustakaan di Sekolah Rakyat tidak berhenti pada pengelolaan koleksi buku. Ia meminta agar perpustakaan mampu menjadi ruang yang aktif membentuk kebiasaan membaca di kalangan siswa.

"Tidak hanya melayani info pustaka, tapi bagaimana saudara-saudara kemudian bisa memobilisasi dan mengubah mindset anak-anak yang tadinya tidak gemar membaca, menjadi gemar membaca dan perpustakaan menjadi aktivitas utama bagi para siswa yang ada di Sekolah Rakyat," kata Agus Jabo.

Pesan tersebut disampaikan saat penutupan Pelatihan Teknis Pengelolaan Perpustakaan Tingkat Lanjut Batch 3 Tahun 2026 di Novotel BSD City, Kabupaten Tangerang, Sabtu (18/4/2026), yang diikuti sekitar 127 peserta dari berbagai daerah.

Menurut Agus Jabo, penguatan budaya literasi merupakan bagian penting dari visi besar Sekolah Rakyat yang digagas Presiden Prabowo Subianto. Program ini bertujuan mencetak generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki karakter kuat dan keterampilan yang mampu memutus rantai kemiskinan.

"Ini yang harus kita kerjakan supaya mobilitas anak-anak untuk ke perpustakaan tinggi karena ada kesadaran yang ditransfer dari para pengelola (perpustakaan), para guru, para kepala sekolah bahwa literasi menjadi hal yang sangat mendasar, hal yang sangat penting untuk mengubah, untuk memutus transmisi kemiskinan adalah membaca," jelas dia.

Ia menambahkan, membaca memiliki peran penting dalam membuka wawasan dan mengubah masa depan. Karena itu, perpustakaan harus dihidupkan sebagai ruang yang menarik dan relevan bagi siswa.

Selain mendorong minat baca, Agus Jabo juga mengingatkan pentingnya memperkuat nilai kebangsaan melalui literatur yang tersedia. Ia berharap koleksi perpustakaan memuat banyak kisah perjuangan tokoh nasional agar siswa tumbuh dengan rasa cinta tanah air yang kuat.

"Kita berharap dari Sekolah Rakyat ini 10 tahun, 20 tahun ke depan mereka sudah menjadi pemimpin-pemimpin bangsa yang hebat, yang tidak hanya mengubah keluarganya dari kemiskinan menjadi makmur, tetapi juga menjadi pelopor pemimpin bangsa Indonesia untuk menjadikan bangsa yang bangkit, menjadi bangsa yang besar, bangsa yang adil dan makmur," tegas Agus Jabo.

Lebih jauh, ia menilai perpustakaan harus menjadi pusat kegiatan siswa sehari-hari. Untuk itu, diperlukan dukungan sarana dan prasarana yang memadai, mulai dari koleksi buku yang berkualitas hingga ruang baca yang nyaman.

"Jadi butuh sarpras yang ideal ya, buku yang bagus, berkualitas sesuai dengan apa yang menjadi target dari sekolah rakyat itu dan tentunya supaya anak-anak kerasan, enjoy didalam membaca buku-buku di perpustakaan tersebut," katanya.

Di akhir arahannya, Agus Jabo juga mengingatkan pentingnya profesionalisme pengelola perpustakaan, yang menurutnya berangkat dari rasa cinta terhadap pekerjaan itu sendiri.

"Profesional definisinya kalau yang saya pahami, yang dipikirkan ya itu apa yang menjadi tugasnya dengan senang hati, dengan ikhlas. Jadi kalau bapak-bapak dan ibu-ibu sebagai petugas pengelola perpustakaan, ya cintai itu dan itu yang harus menjadi pikiran utama, kegiatan utama. Itu yang dinamakan profesional," tutupnya.

(INFO KINI)

Penulis: Tim Media Servis