tirto.id - Wakil Menteri Ketenagakerjaan (Wamenaker), Afriansyah Noor, mengakui terdapat kurang lebih 10.000 pekerja mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK) yang terjadi di Indonesia sampai akhir Maret 2026. Dari total jumlah tersebut, mayoritas di antaranya merupakan pekerja dari sektor padat karya.
"Saya belum tahu pasti (kalau sampai saat ini). Cuma, memang sampai dengan bulan Maret 2026 kemarin ada sekitar lebih kurang 10.000-an lebih yang terdampak, ya. 10.000-an, ya, yang industri padat karya paling banyak," ujar dia kepada awak media, di Plaza BP JAMSOSTEK, Jakarta Selatan, Jumat (8/5/2026).
Lebih lanjut Afriansyah menjelaskan, berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia, sedang menghadapi ketidakpastian tinggi karena eskalasi perang di Timur Tengah. Oleh karena itu, meskipun ekonomi domestik tumbuh cukup tinggi, pemerintah tetap waspada dan memitigasi dampak yang mungkin dihadapi perekonomian nasional.
"Sekarang ini kita sudah menghadapi situasi yang memang global ya. Artinya pemerintah tetap waspada pada menyikapi akan terjadinya dampak situasi perekonomian. Pertama karena perang dunia, kemudian juga ada masalah soal globalisasi yang luar biasa ya," jelasnya.
Beruntung, industri di dalam negeri cukup tangguh untuk menghadapi ketidakpastian global yang terjadi. Ia menambahkan, sektor-sektor industri juga cukup tenang dalam menghadapi gejolak global, sejalan dengan imbauan yang sebelumnya telah disampaikan Presiden Prabowo Subianto.
"Untungnya industri kita tetap tenang di bawah pemerintahan Bapak Presiden. Dan jelas kemarin Presiden juga mengimbau agar semua industri juga tetap menghadapinya dengan situasi yang tenang," tambahnya.
Dengan kondisi ekonomi Indonesia yang cukup tangguh dan industri yang masih bertumbuh, Afriansyah berharap masyarakat dapat tenang dan tidak perlu takut menghadapi gejolak global.
"Jadi tidak usah perlu takut lah gitu," pungkasnya.
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Andrian Pratama Taher
Masuk tirto.id

































