tirto.id - Pakar komunikasi politik, Gun Gun Heryanto, memandang lagu viral bertema Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia, membawa dampak positif bagi citra politik Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) itu. Fenomena ini disebutnya merupakan pure publicity, yakni publisitas yang memanfaatkan situasi.
“Memang posisi Golkar itu diuntungkan, dan posisi Bahlil juga diuntungkan dengan mencuatnya isu ini,” kata Gun Gun saat dikonfirmasi Tirto, Minggu (31/5/2026).
Gun Gun menjelaskan fenomena tersebut menggunakan metode persuasi yang dikenal sebagai icing device technique atau pendekatan yang menyentuh emosi publik seperti rasa senang, bahagia, dan hiburan.
Padahal, menurut Gun Gun, sebagai pejabat publik, Bahlil tetap memiliki berbagai kebijakan yang perlu mendapatkan pengawasan dan kritik dari masyarakat.
“Sejak Agustus 2024 menjadi Menteri ESDM sampai sekarang, banyak sekali hal yang harus dikritik. Contohnya misalnya pada saat bencana Sumatra, kemudian blackout kemarin listrik juga di beberapa wilayah di Sumatra,” tuturnya.
Namun, Gun Gun menyebut isu-isu tersebut tidak menjadi fokus utama dalam hal yang berkembang bersamaan dengan viralnya lagu-lagu bertema Bahlil.
Dia membandingkan fenomena tersebut dengan munculnya istilah “gemoy” dalam kontestasi politik yang dikaitkan dengan Prabowo Subianto. Kemudian saat debat antara capres kala itu.
Menurutnya hal ini sama-sama membuat perhatian publik bergeser dari substansi kebijakan ke aspek personal seorang tokoh.
“Orang kemudian ke-distract kemudian ke distract pada substansi tapi lebih kepada mimik sedihnya Pak Prabowo habis debat,” katanya.
Menurut Gun Gun, ke depan diperlukan kesadaran yang lebih kuat di kalangan masyarakat untuk menjaga agar ruang publik digital tetap memberi perhatian pada evaluasi terhadap kinerja dan tanggung jawab pejabat publik.
“Contohnya misalnya jabatan publiknya, bukan orangnya. Sekali lagi menterinya siapa pun, tapi melekat pada dirinya adalah tanggung jawab publik misalnya sebagai Menteri ESDM atau sebagai menteri XYZ,” tuturnya.
Sementara itu, pengamat politik Adi Prayitno menilai fenomena ini menunjukkan bahwa kritikan terhadap Bahlil telah berubah bernada positif menyusul adanya lagu viral tersebut. Terlebih kabar soal Ketum Golkar itu belakang didominasi oleh hal lucu.
“Itu artinya, secara tak langsung publik mulai menyukai Bahlil sebagai komoditas politik. Alam bawah sadar publik kena sihir oleh pesona Bahlil,” katanya kepada Tirto.
Kata Adi, publik melupakan bahwa Bahlil ini merupakan tokoh yang banyak menduduki posisi strategis.
“Plus posisinya sebagai menteri ESDM menjadi bukti sahih bahwa Bahlil memang sakti. Realitas ini menjadi penegas betapa Bahlil si “raja olah-olah”, jago memainkan percaturan politik. Termasuk yang dulunya kerap dikritik, kini viral jadi percakapan publik melalui lagu,” tuturnya.
Respons Golkar
Menanggapi riuhnya jagat digital, Sekretaris Jenderal Partai Golkar, Sarmuji, memilih menyikapinya dengan santai. Baginya, tembang "Mas Bahlil Ganteng" tak lebih dari sekadar bukti betapa kreatifnya warganet di media sosial. Alih-alih mempersoalkan liriknya, Sarmuji justru menganggap fenomena tersebut sebagai hal lumrah yang bisa menimpa tokoh politik mana pun di era sekarang.
"Alhamdulillah di Golkar pandangan kami relatif sama yaitu kita mengapresiasi kreativitas warganet," kata Sarmuji kepada Tirto.
Bagi Sarmuji, tidak ada alasan untuk menolak berkah digital ini. Sarmuji menegaskan bahwa Golkar menyambut terbuka jika pada akhirnya dendang viral tersebut membawa angin segar dan keuntungan citra, baik bagi Bahlil sebagai Menteri ESDM maupun bagi partai secara keseluruhan.
"Itu semua karena kami terbiasa menghargai sudut pandang yang berbeda atau bahasa netizennya POV (poin of view)," tutup Sarmuji.
Penulis: Rahma Dwi Safitri
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama
Masuk tirto.id


































