Menuju konten utama

Vidio, Konten, dan Transformasi Industri Media

Platform Vidio dirancang sebagai pintu masuk model bisnis baru Emtek—menggabungkan pengalaman menonton dengan pengalaman berbelanja.

Vidio, Konten, dan Transformasi Industri Media
Header Perspektif Sutanto Hartanto. tirto.id/Ecun
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Perubahan besar dalam industri media dan perilaku konsumen mendorong Emtek memperluas model bisnisnya. Meski media tetap menjadi inti, diversifikasi menjadi langkah penting untuk menghadapi dinamika pasar yang semakin kompleks.

Saat ini, konten tetap menjadi elemen fundamental. Apa pun platformnya—TV, streaming, atau media sosial—masyarakat mengkonsumsi media karena kontennya. Itu sebabnya Emtek terus memastikan kualitas dan variasi konten kuat serta relevan. Selain itu, ekosistem selebritas juga berperan besar dalam bisnis media. Dari artis mega hingga nano, kemampuan menciptakan figur publik bernilai komersial menjadi keunggulan kompetitif.

TV tetap memiliki kekuatan signifikan. Setiap hari jutaan orang masih menontonnya, didorong oleh dua faktor utama: ekosistem artis yang kuat dan model bisnis yang berbeda dari platform sosial. Televisi menanggung biaya produksi konten dan memberikannya gratis kepada penonton, sedangkan media sosial justru menempatkan beban biaya pada kreator. Karena itu, produksi berkualitas tinggi masih banyak lahir dari televisi, sementara konten ringan berkembang di media sosial.

Vidio hadir sebagai perpanjangan dari keunggulan TV. Platform ini dirancang sebagai pintu masuk model bisnis baru Emtek—menggabungkan pengalaman menonton dengan pengalaman berbelanja. Dengan memanfaatkan first-party data, Vidio memungkinkan penargetan produk secara personal dan membuka ruang kolaborasi, termasuk kerja sama dengan Shopee.

Di tahap saat ini, tantangan terbesar Vidio adalah meningkatkan performa algoritma untuk memperkuat distribusi konten dan konversi bisnis. Emtek menargetkan percepatan signifikan pada awal tahun depan.

Momentum Pemulihan Konsumsi dan Tantangan Baru Industri Pemasaran

Saat ini, Indonesia mulai memasuki fase transisi positif setelah dua tahun menghadapi perlambatan konsumsi. Pemulihan ini terlihat sejak Oktober 2025, seiring meningkatnya kepercayaan konsumen dan menguatnya indikator ekonomi seperti Mandiri Spending Index yang naik sekitar 2% week-on-week. Kenaikan signifikan terjadi pada pembelian barang elektronik yang tumbuh lebih dari 7,5%.

Salah satu penyebab timbulnya sentimen positif masyarakat dipicu oleh penunjukan Menteri Keuangan baru, Purbaya Yudhi Sadewa, yang meningkatkan keyakinan terhadap arah kebijakan pemerintah. “Purbaya Effect” ini menjadi katalis penting yang mendorong aktivitas belanja dan menggairahkan kembali ekonomi domestik.

Dengan hadirnya musim promosi akhir tahun, stimulus pemerintah, dan optimisme publik, tren konsumsi akan terus meningkat hingga kuartal IV 2025. Ini saat yang tepat bagi industri untuk beralih dari strategi efisiensi menuju strategi pertumbuhan yang lebih agresif.

Social Commerce dan Merek Baru: Peta Kompetisi Berubah Total

Salah satu perubahan terbesar adalah gelombang social commerce yang mendorong pertumbuhan pesat merek-merek baru di kategori kecantikan. Banyak brand yang bahkan tidak dikenal lima tahun lalu kini mampu menjual jutaan produk per bulan karena mampu memanfaatkan ekosistem social commerce—mulai dari influencer, affiliate, hingga komunitas digital.

Fenomena ini tidak hanya mengguncang pasar, tetapi juga memaksa pemain besar untuk beradaptasi. Mereka yang mampu mengadopsi pola konsumsi digital—mulai dari kolaborasi kreator hingga penetrasi komunitas—berhasil mempertahankan bahkan memperkuat posisinya.

Revisi Strategi Marketing Mix Menjadi Keharusan

Melihat perubahan cepat dalam perilaku konsumen dan distribusi konten, para marketer penting mengevaluasi kembali strategi mereka. Transformasi digital menuntut perusahaan menyesuaikan pendekatan pemasaran, produk, dan distribusi agar tetap relevan dan kompetitif.

Melalui tema Act, Accelerate, Advance yang digaungkan dalam MMA Impact Indonesia 2025, seluruh pelaku industri tidak boleh lagi terpaku pada pola lama. Dengan momentum pemulihan yang mulai jelas, inilah saatnya untuk mempercepat inovasi dan mendorong pertumbuhan nyata.

*Penulis adalah Chief Executive Officer, Emtek Media & Vidio. Isi artikel menjadi tanggung jawab penulis sepenuhnya.

Baca juga artikel terkait STRATEGI MARKETING atau tulisan lainnya dari Sutanto Hartono

tirto.id - Kolumnis
Penulis: Sutanto Hartono
Editor: Zulkifli Songyanan