Menuju konten utama

Utamakan Padat Karya, BKPM Evaluasi Insentif buat Industri Nikel

Menurut Rosan, ke depan pemerintah tak hanya akan mempertimbangkan nilai investasi sebagai dasar pemberian insentif, tapi juga serapan tenaga kerja.

Utamakan Padat Karya, BKPM Evaluasi Insentif buat Industri Nikel
Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Perkasa Roeslani menyampaikan keterangan kepada wartawan usai melakukan bpertemuan dengan Presiden Prabowo Subianto dan petinggi perusahaan otomotif asal Vietnam VinFast di Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (11/3/2025). Rosan menyebutkan VinFast berencana membangun secara bertahap 30.000 hingga 100.000 stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU) di berbagai daerah Indonesia, terutama di Pulau Jawa dengan nilai investasi sekitar satu miliar dolar AS. ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Rosan Roeslani menyatakan pemerintah membuka peluang untuk menyalurkan insentif fiskal kepada perusahaan dengan tingkat penyerapan tenaga kerja yang tinggi.

Ia mencontohkan, perusahaan di sektor energi terbarukan (renewable energy) yang mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar berpotensi memperoleh dukungan tersebut.

“Di bidang yang memberikan dampak positif, misalnya investasi di renewable energy, penyerapan tenaga kerjanya tinggi, ya tentunya kita terbuka untuk memberikan insentif juga,” tuturnya saat konferensi pers di kantor Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Jakarta Selatan, Kamis (23/4/2026).

Menurut Rosan, ke depan pemerintah tidak hanya mempertimbangkan nilai investasi sebagai dasar pemberian insentif. Ia mencontohkan sebuah perusahaan kelapa di Morowali, Sulawesi Tengah, dengan nilai investasi sekitar 100 juta dolar Amerika Serikat (AS).

Meski nilai investasinya relatif tidak besar, perusahaan tersebut disebut mampu menyerap hingga 10.000 tenaga kerja. Kondisi ini dinilai dapat menjadi pertimbangan bagi pemerintah dalam memberikan insentif fiskal.

“Nah, ini dari segi investasi tidak besar, tapi dari penyerapan tenaga kerjanya sangat tinggi. Mungkin dulu tidak mendapatkan insentif, tapi kalau kita lihat seperti ini mungkin 100 juta dolar ya akhirnya kita bisa potensi memberikan insentif juga,” urai Rosan.

Dalam kesempatan yang sama, Rosan mengakui saat ini pemerintah masih memberikan insentif kepada sektor-sektor tertentu, salah satunya industri nikel.

Namun, ia menilai ekosistem industri nikel hingga baterai listrik kini telah berkembang dengan cukup baik. Karena itu, pemerintah membuka kemungkinan untuk mengevaluasi kembali kebijakan insentif pada sektor yang ekosistemnya sudah terbentuk.

“Apabila sudah ekosistemnya sudah terbentuk, sudah berjalan, ya tentunya secara bertahap kita akan melihat, mengevaluasi apakah kita masih tetap berikan insentif-insentif itu,” urai Rosan.

Baca juga artikel terkait LATEST NEWS atau tulisan lainnya dari Muhammad Naufal

tirto.id - Flash News
Reporter: Muhammad Naufal
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Hendra Friana