tirto.id - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengeklaim bahwa Iran telah menyetujui untuk memberikan "debu nuklir" mereka kepada AS. "Debu nuklir" merupakan istilah Trump untuk menyebut cadangan nuklir yang telah diperkaya oleh Teheran.
Seturut AP, Trump mengungkapkan klaim tersebut kepada para wartawan di Las Vegas pada Kamis (16/4/2026). Trump mengatakan keputusan itu diambil Iran setelah wilayahnya dibom pesawat pembom B-2 oleh AS.
"Mereka telah setuju untuk mengembalikan debu nuklir yang berada jauh di bawah tanah karena serangan yang kita lakukan dengan pesawat pembom B-2," kata Trump.
Akan tetapi, Gedung Putih tidak menanggapi pertanyaan tentang klaim Trump tersebut maupun tentang semua kesepakatan AS-Iran terkait nuklir. Trump sebelumnya telah membuat klaim tentang program nuklir Iran yang ternyata tidak akurat.
Iran diperkirakan telah memiliki sekitar 400 kilogram uranium yang telah diperkaya. Cadangan uranium itu kini dilaporkan terkubur di bawah situs nuklir Iran yang hancur karena serangan AS di Isfahan pada 2025 lalu.
Klaim Trump tentang persetujuan Iran untuk memberikan cadangan uranium mereka ke AS juga berseberangan dengan Teheran. Sebelumnya, Kementerian Luar Negeri Iran baru saja menegaskan hak mereka untuk memperkaya uranium.
Dikutip dari media semi-resmi Iran, Tasnim, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menyatakan pada Rabu (15/4/2026) bahwa hak memperkaya uranium adalah hak yang tidak terbantahkan. Ia menyebut, Teheran tidak akan berkompromi dengan hak pengayaan uranium.
Baqaei juga menyebut hak Iran untuk menggunakan energi nuklir adalah bagian dari hak yang diberikan sebagai anggota Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT). Ia mengatakan tingkat dan jenis pengayaan adalah topik yang terbuka untuk dinegosiasikan, namun Teheran menyatakan berhak melanjutkan pengayaan berdasarkan kebutuhan.
Pernyataan Baqaei pada Rabu itu juga menyinggung kesiapan Rusia untuk menampung uranium Iran. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran ini menyebut hal ini merupakan salah satu alternatif yang mungkin dilakukan, namun ia melanjutkan bahwa negosiasi terkait nuklir Iran belum sampai pada tahap itu.
Iran Optimis dengan Perundingan Tapi Tetap Berhati-hati
Sementara Trump mengungkap klaim kesediaan Iran menyerahkan cadangan uraniumnya, pembicaraan terkait perundingan lanjutan untuk menghentikan perang antara Iran dan AS dilaporkan terus berlanjut.
Baqaei menyebut pada Rabu bahwa pertukaran pesan antara Teheran dan Washington masih berlanjut melalui Pakistan. Pembicaraan tentang agenda perundingan langsung antara Iran dan AS juga masih dilakukan.
Terkait proses perundingan penghentian perang, Iran juga mengatakan bahwa mereka akan masuk meja perundingan dengan optimis, meski berhati-hati. Hal ini diungkap Duta Besar Iran untuk PBB Amir Saeid Iravani.
"Meskipun kami sangat tidak mempercayai Amerika Serikat, yang berangkat dari pengkhianatan diplomasi berulang kali, kami tetap memasuki negosiasi dengan itikad baik dan tetap optimis dengan hati-hati," katanya kepada Majelis Umum PBB pada hari Kamis.
Iravani juga menyebut bahwa Teheran percaya bahwa hasil yang berarti dalam negosiasi dapat tercapai jika AS mau menggunakan "pendekatan yang rasional dan konstruktif" serta mau menahan diri untuk tidak mengajukan tuntutan "yang tidak sesuai dengan hukum internasional".
Hal tersebut serupa dengan pernyataan Baqaei ketika ditanya tentang peluang perpanjangan gencatan senjata dan perundingan lebih lanjut untuk menghentikan perang. Juru bicara kementerian luar negeri itu menyebut bahwa Washington adalah pihak yang perlu menunjukkan komitmennya terhadap perdamaian.
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id


































