Update Bencana NTT-Kupang 2021: Jumlah Korban & Evakuasi Terkini

Oleh: Iswara N Raditya - 6 April 2021
Dibaca Normal 3 menit
Update terkini kondisi Kota Kupang dan sekitarnya di NTT karena bencana alam akibat siklon tropis Seroja.
tirto.id - Bencana alam akibat siklon tropis Seroja, termasuk banjir, longsor, dan angin kencang yang melanda Nusa Tenggara Timur (NTT) dan sebagian Nusa Tenggara Barat (NTB) mengakibatkan korban jiwa dan pengungsian evakuasi warga. Berikut ini update terkini kondisi Kota Kupang dan sekitarnya.

Hingga berita ini ditulis, Selasa (6/4/2021) pukul 14.30 WIB, diperoleh kabar bahwa listrik masih padam di Kota Kupang, sinyal internet belum stabil dan tidak merata. Selain itu, terdapat pula antrian di beberapa SPBU dan mesin ATM.

“Listrik masih padam, antrian di beberapa SPBU dan ATM, masih pembersihan pohon tumbang,” sebut Agusto Bunga, warga Kota Kupang, Kecamatan Kota Raja, Kelurahan Airnona, NTT, Selasa (6/4/2021), kepada Tirto.id.

Meskipun akses jalan mulai dapat dilewati, lanjutnya, namun warga Kota Kupang mulai kesulitan air bersih. “Akses pasar aman, air bersih mulai sulit, karena air PDAM keruh, sinyal ada namun tidak merata, cuaca kembali normal,” tutur Agusto Bunga.

Update Informasi dari BNPB

Dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) diperoleh informasi terkait korban tewas, evakuasi pengungsian, dan kerugian akibat bencana alam di NTT, meskipun data tersebut masih fluktuatif karena petugas terus bergerak di lapangan.

“Pemerintah daerah terus memutakhirkan data dari kaji cepat di lapangan. Warga yang mengungsi tersebar di lima kabupaten di wilayah Provinsi NTT," kata Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Raditya Jati, dalam keterangan tertulisnya, Selasa (6/4/2021).

“Lokasi terdampak di NTT ini ada 10 kabupaten dan 1 kota. Kalau kemarin kami masih fokus Flores Timur, sekarang kami dapat data lebih lengkap wilayah yang memang menjadi rumpun kepulauan di NTT ini," lanjutnya.

Menurut data dari Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BNPB per Senin (5/4/2021), pukul 23.00 WIB malam, sebanyak 2.019 Kepala Keluarga (KK) atau 8.424 warga mengungsi serta 1.083 KK atau 2.683 warga lainnya terdampak bencana di NTT.

Masih menurut Pusdalops BNPB, total warga meninggal dunia sejauh ini selama cuaca ekstrem berlangsung di beberapa wilayah tersebut, tercatat 128 orang dengan rincian di Kabupaten Lembata 67 orang, Flores Timur 49, dan Alor 12.

Dikutip dari RRI yang melansir informasi BNPB, total korban hilang mencapai 72 orang, dengan rincian Kabupaten Alor 28 orang, Flores Timur 23 orang, dan Lembata 21 orang.

Adapun kerusakan yang ditimbulkan antara lain 1.962 unit rumah terdampak, 119 unit rumah rusak berat (RB), 118 unit rumah rusak sedang (RS), dan 34 unit rumah rusak ringan (RR), sedangkan fasilitas umum (fasum) 14 unit RB, 1 RR dan 84 unit lain terdampak.



Arahan Presiden Jokowi

Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah menggelar rapat terbatas di Istana Merdeka, Jakarta, pada Selasa (6/4/2021) untuk penanganan bencana alam di NTT dan NTB. Presiden Jokowi menyerukan 4 arahan kepada pihak-pihak terkait.

Pertama, Presiden Jokowi menitikberatkan percepatan proses evakuasi pencarian dan penyelamatan korban yang belum ditemukan.

"Saya minta Kepala BNPB, Kepala Basarnas, dibantu Panglima TNI dan Kapolri dan seluruh jajaran (untuk) mengerahkan tambahan personil SAR, sehingga dapat menjangkau lebih banyak wilayah terdampak, termasuk wilayah terisolir dan berbagai gugus pulau di NTT, di Pulau Alor, Pulau Patar dan pulau-pulau lain untuk melancarkan proses evakuasi pencarian dan penyelamatan korban," tegasnya.

"Saya minta juga ke Menteri PU untuk mengerahkan alat-alat berat dari berbagai tempat, dan jika jalur darat sulit ditembus saya juga minta agar dipercepat pembukaan akses melalui laut maupun udara," lanjut Presiden Jokowi.

Kedua, Presiden Jokowi memerintahkan pelayanan kesehatan harus hadir serta mudah dijangkau di lokasi bencana dan sekitarnya. Presiden memerintahkan Menteri Kesehatan untuk segera mengirim tim pelayanan kesehatan ke lokasi terdampak bencana.

"Pastikan hadirnya pelayanan kesehatan dan penanganan korban yang membutuhkan pertolongan medis. Ini Pak Menkes bikin tim bantuan secepatnya untuk sampai lokasi," ucap Presiden Jokowi.

"Saya minta Menkes juga untuk memperbanyak tempat-tempat pelayanan kesehatan di lapangan, juga mempersiapkan rumah sakit untuk menangani korban, serta memastikan ketersediaan tenaga kesehatan dan obat-obatan," bebernya.


Arahan ketiga, Presiden Jokowi menghendaki agar kebutuhan para pengungsi di lokasi pengungsian bisa terpenuhi.

"Segera tangani dan penuhi kebutuhan para pengungsi meski saya tahu Minggu juga beberapa sudah dikirim ke NTT dan NTB tapi karena cuaca yang sangat ekstrim, bantuan belum bisa masuk ke lokasi sampai kemarin.”

“Dan saya minta BNPB dan Pemda segera mendata titik-titik pengungsian, memastikan logistik tendanya, dapur lapangannya, untuk memenuhi kebutuhan dasar bagi para pengungsi, juga kebutuhan untuk bayi dan anak-anak terutama air bersih dan MCK," tandas Presiden Jokowi.

Selain itu, Presiden Jokowi juga meminta agar perbaikan infrastruktur segera dilakukan, "Mempercepat perbaikan infrastruktur yang rusak. Saya lihat ada beberapa jembatan yang roboh, akses jalan juga.”

“Segera pulihkan jaringan listrik, jaringan telekomunikasi, jaringan internet, juga distribusi logistik dan BBM sehingga bantuan bisa segera tersalurkan ke masyarakat korban bencana," pesan Presiden Jokowi.

Arahan keempat, Presiden Jokowi berharap agar semua elemen masyarakat dapat mengakses informasi dan juga peringatan dini cuaca dari BMKG. Antisipasi menjadi sangat penting, terlebih di saat cuaca ekstrem siklon Seroja masih menjadi ancaman di beberapa wilayah.

"Terakhir saya minta dilakukan antisipasi terhadap bahaya lanjutan adanya cuaca yang sangat ekstrim yang terjadi di berbagai kawasan di Indonesia dan juga saya minta BMKG menggencarkan peringatan cuaca ekstrem akibat siklon tropis Seroja ini.”

“Pastikan seluruh kepala daerah dan masyarakat bisa mengakses dan memantau prediksi cuaca dan iklim yang dikeluarkan BMKG," tegas Presiden Jokowi.

"Mereka harus tahu semuanya sehingga masyarakat bisa meningkatkan kesiapsiagaan dan kewaspadaan untuk menghadapi ancaman risiko baik itu angin kencang, bahaya banjir, banjir bandang, dan tanah longsor," tutupnya.

Baca juga artikel terkait BANJIR BANDANG NTT atau tulisan menarik lainnya Iswara N Raditya
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Iswara N Raditya
Editor: Nur Hidayah Perwitasari
DarkLight