Menuju konten utama

Uji Publik Penulisan Ulang Sejarah Mulai 20 Juli 2025

Uji publik draft penulisan ulang sejarah akan digelar mulai 20 Juli 2025. Simak perubahan narasinya dan siapa saja yang terlibat dalam artikel ini.

Uji Publik Penulisan Ulang Sejarah Mulai 20 Juli 2025
Menteri Kebudayaan (Menbud), Fadli Zon ditemui di Gedung DPR RI, Jakarta, Kamis (10/7/2025). tirto.id/Nabila Ramadhanty Putri Darmadi.

tirto.id - Penulisan ulang buku sejarah nasional Indonesia akan memasuki tahap penting berupa uji publik pada 20 Juli mendatang. Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyampaikan bahwa kegiatan ini akan melibatkan seluruh pemangku kepentingan, termasuk para akademisi.

Uji publik akan digelar dalam bentuk seminar dan diskusi terbuka di berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengungkapkan bahwa revisi buku sejarah Indonesia dikerjakan oleh tim besar yang terdiri dari sekitar 100 sejarawan.

Fadli menjelaskan bahwa buku sejarah versi terbaru akan mengalami sejumlah perubahan penting. Revisi mencakup pembaruan narasi, penambahan materi baru, serta pelurusan informasi yang dianggap kurang akurat.

Buku sejarah versi baru ini ditargetkan rampung pada Agustus 2025, bertepatan dengan HUT Kemerdekaan RI, yang akan memuat revisi narasi, penambahan data sejarah terbaru, serta pelurusan terhadap bagian-bagian yang kontroversial.

Uji Publik Penulisan Ulang Sejarah Mulai 20 Juli

Uji publik mengenai penulisan ulang buku sejarah Indonesia akan digelar mulai 20 Juli menjadi momentum penting dalam proyek besar pembaruan narasi sejarah nasional.

Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyatakan bahwa forum ini akan digelar di berbagai perguruan tinggi dan melibatkan banyak pihak dari beragam latar belakang.

"Mulai 20 Juli uji publik dimulai di perguruan-perguruan tinggi melibatkan para pemangku kepentingan yang cukup banyak," ujarnya saat menghadiri forum global di Beijing, Jumat lalu sebagaimana dikutip dari ANTARA.

Penulisan ulang buku sejarah ini tak dikerjakan sembarangan. Pemerintah mengerahkan sekitar 100 sejarawan dari berbagai disiplin ilmu, yang dipimpin oleh Prof. Dr. Susanto Zuhdy dari Universitas Indonesia.

Ia menekankan bahwa proses ini mengandalkan pendekatan akademik dan dilakukan secara bertahap melalui pembagian buku ke dalam beberapa jilid, dari era prasejarah hingga masa kontemporer.

Dalam versi terbaru, isi buku tidak ditulis dari nol, melainkan merevisi dan memperkaya informasi yang telah ada pada versi sebelumnya. Menurut Fadli, prosesnya mencakup tiga aspek utama, yakni revisi narasi lama, penambahan temuan sejarah baru, serta pelurusan bagian-bagian yang memerlukan klarifikasi ilmiah.

Fadli menuturkan bahwa salah satu contoh revisi terdapat pada periode prasejarah, di mana hasil penelitian terkini menunjukkan bahwa peradaban di wilayah Indonesia memiliki usia yang lebih tua dari perkiraan sebelumnya.

"Ada temuan-temuan baru, misalnya penelitian terbaru dalam prasejarah kita seperti Gua Leang-Leang Maros yang tadinya usianya diduga 5.000 tahun ternyata 40.000-52.000 tahun yang lalu usianya, itu kan harus ditambahkan. Kalau tidak ada yang baru ya kita teruskan," ujar Fadli, sebagaimana dikutip dari ANTARA.

Pemerintah menargetkan buku sejarah versi terbaru ini selesai pada Agustus 2025, bertepatan dengan peringatan HUT Kemerdekaan RI. Proses penyusunannya berada di bawah pengawasan langsung Komisi X DPR RI yang juga telah membentuk Tim Supervisi.

DPR sebelumnya telah melakukan penyerapan aspirasi dari berbagai kampus, termasuk Universitas Andalas, Universitas Diponegoro, dan Universitas Hasanuddin.

Dari sisi pendanaan, pemerintah telah menyiapkan anggaran untuk proses penulisan dan kajian akademik. Sementara untuk tahap penerbitan, skema public-private partnership menjadi salah satu opsi yang tengah dipertimbangkan. Pendekatan ini diharapkan dapat memastikan distribusi buku secara luas dan berkelanjutan.

Baca juga artikel terkait SEJARAH atau tulisan lainnya dari Satrio Dwi Haryono

tirto.id - Edusains
Kontributor: Satrio Dwi Haryono
Penulis: Satrio Dwi Haryono
Editor: Indyra Yasmin