Menuju konten utama

Trump: Iran Ingin Negosiasi Ceasefire, tapi AS Belum Mau

Trump menyebut Iran ingin membuat kesepakatan ceasefire (gencatan senjata) tetapi AS belum siap karena syarat yang diberikan "belum cukup baik".

Trump: Iran Ingin Negosiasi Ceasefire, tapi AS Belum Mau
bakal calon presiden amerika serikat dari partai republik donald trump berbicara di sebuah acara kampanye di buffalo, new york, amerika serikat, senin (18/4). antara foto/reuters/carlo allegri/cfo/16
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump mengatakan pada Sabtu (14/3/2026) Iran siap bernegosiasi mengenai gencatan senjata, tetapi AS belum siap membuat kesepakatan.

Presiden mengatakan bahwa “syarat-syaratnya belum cukup baik” untuk membuat kesepakatan dengan Iran, di tengah perang yang semakin meluas di Timur Tengah.

Dalam wawancara telepon selama hampir 30 menit dengan NBC News, Trump juga mengatakan bahwa ia sedang bekerja sama dengan negara-negara lain untuk menyusun rencana mengamankan Selat Hormuz di tengah lonjakan harga minyak global.

Ia juga menepis kekhawatiran warga Amerika tentang kenaikan harga bensin sejak Amerika Serikat dan Israel meluncurkan operasi militer bersama dua minggu lalu.

Presiden juga mempertanyakan apakah pemimpin tertinggi baru Iran “masih hidup atau tidak”.

Trump mengatakan ia “terkejut” Iran memutuskan menyerang negara-negara lain di Timur Tengah sebagai respons terhadap operasi militer AS–Israel.

Ia menambahkan bahwa serangan AS ke Pulau Kharg pada Sabtu “sepenuhnya menghancurkan” sebagian besar pulau tersebut, namun “kami mungkin akan menyerangnya beberapa kali lagi hanya untuk bersenang-senang.”

Trump Sebut Iran Ingin Buat Kesepakatan

Dalam percakapan telepon itu, Trump mengatakan ia tidak bersedia membuat kesepakatan untuk mengakhiri perang dengan Iran pada tahap ini.

“Iran ingin membuat kesepakatan, dan saya tidak ingin melakukannya karena syarat-syaratnya belum cukup baik,” katanya, seraya menambahkan bahwa syarat kesepakatan harus “sangat kuat.”

Ketika ditanya apa saja syarat dalam potensi kesepakatan tersebut, presiden menjawab, “Saya tidak ingin mengatakan itu kepada Anda.”

Namun ia mengakui bahwa komitmen Iran untuk sepenuhnya meninggalkan ambisi nuklirnya akan menjadi salah satu syarat.

Komentar Trump muncul setelah kantor berita Reuters melaporkan bahwa pemerintahan Trump menyingkirkan upaya untuk memajukan pembicaraan guna mengakhiri perang.

Menanggapi ucapan Trump yang menyebut Iran mendambakan gencatan senjata, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi menyatakan dengan tegas jika negaranya tidak pernah meminta hal itu maupun negosiasi apapun. Iran akan terus mempertahankan diri selama diperlukan.

Juru bicara Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) juga mengatakan sebagian besar gudang senjata Iran masih aman, dan rudal yang digunakan saat ini adalah model lama.

Dalam dua pekan terakhir, pejabat pemerintahan Trump memberikan pesan yang beragam mengenai tujuan militer AS di Iran dan berapa lama konflik akan berlangsung.

Trump kadang mengatakan perang bisa berlangsung sebulan atau lebih, namun pada kesempatan lain ia menyatakan “kami jauh lebih cepat dari jadwal” dan “praktis tidak ada lagi target yang tersisa.”

Pada wawancara telepon tersebut, Trump juga mengatakan bahwa “satu-satunya kekuatan yang mereka miliki—dan itu bisa dihentikan relatif cepat—adalah kemampuan menjatuhkan ranjau atau menembakkan rudal jarak pendek. Tetapi ketika kami selesai dengan garis pantai mereka, mereka juga tidak akan memiliki kekuatan itu.”

Ia menambahkan, “Kami telah menghancurkan sebagian besar rudal mereka. Kami telah menghancurkan sebagian besar drone mereka. Kami juga sebagian besar telah melumpuhkan produksi rudal dan drone mereka. Dalam dua hari, semuanya akan benar-benar hancur,” demikian dikutip CNBC, Minggu (15/3/2026).

Baca juga artikel terkait KONFLIK AS-IRAN atau tulisan lainnya dari Dipna Videlia Putsanra

tirto.id - Flash News
Penulis: Dipna Videlia Putsanra
Editor: Abdul Aziz