Menuju konten utama

Trump Isyaratkan Jadikan Venezuela Negara Bagian AS ke-51

Trump disebut memiliki niat untuk menjadikan Venezuela sebagai negara bagian ke-51. Hal kontroversial serupa pernah diutarakan Trump terhadap Kanada.

Trump Isyaratkan Jadikan Venezuela Negara Bagian AS ke-51
Negara bagian ke 51. thruth/@realDonaldTrump

tirto.id - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump baru saja membuat isyarat akan ambisinya menjadikan Venezuela sebagai negara bagian AS ke-51. Hal ini meningkatkan kekhawatiran akan situasi politik di Amerika Selatan tersebut.

Sinyal Trump itu disampaikan melalui sosial media miliknya pada Rabu (13/5/2026) pagi waktu Indonesia. Isyarat itu berupa foto dan tidak diberikan konteks pernyataan lebih lanjut oleh Trump.

Dalam foto yang diunggah Trump itu, tampak potongan peta buta area Amerika Selatan. Namun, wilayah Venezuela ditutupi bendera AS. Pada bagian atas gambar itu, ada tulisan singkat “51st State” atau “negara bagian ke-51”.

Sinyal itu diungkap Trump selang beberapa hari usai dirinya menyebutkan sinyal serupa di depan media AS. Menukil Fox13 News, Trump sebelumnya telah mengatakan kepada Fox News pada Senin (11/5) bahwa ia sedang “serius mempertimbangkan” Venezuela dimasukkan sebagai negara bagian AS.

Dalam wawancara tersebut, Trump menyebut bahwa ia tergerak untuk menjadikan negara itu sebagai bagian AS agar Washington dapat menguasai cadangan minyak milik Venezuela. Trump menyebut Venezuela memiliki cadangan minyak senilai USD40 triliun.

Isyarat tersebut juga menjadi sinyal terbaru Trump atas visi imperialisnya untuk mencaplok wilayah negara lain. Ia pernah mengeklaim ingin menguasai Greenland, Kanada, Kuba, dan Panama.

Venezuela Tak Ingin Jadi Bagian dari Negara AS

Di sisi lain, Venezuela merespons pernyataan Trump dengan keras. Penjabat Presiden Venezuela Delcy Rodriguez menyebut bahwa negaranya tak punya niatan untuk jadi negara bagian AS dan akan mempertahankan kemerdekaannya.

“Kami akan terus mempertahankan integritas, kedaulatan, kemerdekaan, dan sejarah kami,” katanya, sembari menyebut bahwa Venezuela “bukan koloni, tapi negara merdeka”.

Pesan serupa juga ditunjukkan rakyat Venezuela. Jajak pendapat yang dilakukan Meganalisis pada Maret lalu menyebut bahwa mayoritas rakyat Venezuela kini merasa apa yang sedang dilakukan Trump di negara tersebut tidak ada hubungannya dengan demokrasi ataupun kesejahteraan rakyat.

Dalam jajak pendapat perusahaan asal Venezuela itu, rakyat kini menilai bahwa tindakan Trump di negara itu lebih banyak didasarkan pada niat untuk mengendalikan cadangan minyak ke perusahaan-perusahaan AS. Walaupun, mayoritas rakyat Venezuela awalnya senang karena bisa terbebas dari pemerintahan Nicolas Maduro.

“Jika ada satu hal yang kita—pria dan wanita Venezuela—miliki, adalah kita mencintai proses kemerdekaan kita, kita mencintai para pahlawan dan pahlawan wanita kemerdekaan kita,” kata Delcy Rodriguez dalam keterangannya pada Senin.

Situasi politik di Venezuela sendiri hingga kini masih diliputi ketidakpastian. Delcy Rodriguez yang kini menjabat untuk menggantikan Maduro dan telah berulang kali dipuji Trump sebagai kolaborator yang baik, tetap saja membuat ekonomi Venezuela tertekan.

AS dilaporkan telah mencabut sanksi pribadi terhadap Rodriguez dan beberapa sanksi di sektor minyak dan perbankan Venezuela. Namun, akses Caracas untuk menjual minyak ke pasar dunia masih ditangguhkan.

Kelompok aktivis lingkungan Global Witness memperkirakan bahwa ada potensi pendapatan sebesar USD150 miliar dalam 10 tahun ke depan yang tidak akan bisa dirasakan Venezuela. Kelompok itu menyebut, uang yang seharusnya bisa dialokasikan untuk pembangunan proyek pembangunan negara itu berpotensi mengalir ke kas perusahaan asing.

Baca juga artikel terkait ANCAMAN INVASI TRUMP atau tulisan lainnya dari Rizal Amril Yahya

tirto.id - Flash News
Kontributor: Rizal Amril Yahya
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar