tirto.id - Amerika Serikat (AS) menyatakan akan mengizinkan minyak Venezuela dikirim kembali ke Kuba. Hal ini dilakukan usai negara-negara kawasan Karibia mulai khawatir krisis kemanusiaan di Havana akan berdampak lebih luas.
Menukil Al Jazeera, Departemen Keuangan AS membuat pernyataan pada Rabu (25/2/2026) bahwa mereka akan mengizinkan perusahaan yang ingin menjual kembali minyak Venezuela ke Kuba. Mereka menyebut izin ini sebagai "kebijakan perizinan yang menguntungkan".
Akan tetapi, penjualan kembali minyak Venezuela ke Kuba itu akan diizinkan dengan syarat khusus. Salah satunya, menurut Departemen Keuangan AS, penggunaannya untuk kepentingan "komersial dan kemanusiaan".
Selain menjual minyak untuk alasan kemanusiaan, syarat izin ini juga mencakup bahwa minyak Venezuela tidak boleh diperuntukkan bagi "orang atau entitas yang terkait dengan militer Kuba, dinas intelijen, atau lembaga pemerintah lainnya".
Pelonggaran blokade minyak itu dilakukan AS di tengah berlangsungnya KTT Karibia di Saint Kitts dan Nevis. Ancaman dampak krisis kemanusiaan di Kuba akibat blokade AS jadi salah satu pembahasan utama dalam KTT itu.
Perdana Menteri Jamaika Andrew Holness mengungkapkan dalam KTT tersebut bahwa ketidakstabilan Kuba akan membawa ketidakstabilan kawasan Karibia.
“Penderitaan kemanusiaan tidak menguntungkan siapa pun ... Krisis berkepanjangan di Kuba tidak akan hanya terbatas di Kuba,” kata Holness pada Selasa (24/2).
Kuba Defisit Energi dan Industri Pariwisata Runtuh
Kuba telah mengalami defisit energi dengan angka yang sangat besar pada pertengahan Februari 2026. Hal ini membuat pemadaman listrik terus terjadi di Kuba.
Lembaga pengelola kelistrikan Kuba (UNE) melaporkan bahwa lebih dari 60 persen wilayah Kuba mengalami pemadaman listrik selama jam sibuk.
Seturut Eurasia Review, sejumlah provinsi macam Santiago de Cuba, Holguín, dan Guantánamo bahkan mengalami yang lebih buruk. Warga di provinsi itu hanya mendapatkan aliran listrik selama empat hingga enam jam sehari.
Pemadaman listrik ini menjadi masalah yang krusial di Kuba karena ketiadaan listrik turut berpengaruh pada fasilitas publik mendasar. Stasiun pompa air dilaporkan tak berfungsi tanpa listrik, pendinginan makanan menjadi tidak mungkin dilakukan, dan sistem layanan kesehatan tidak dapat berjalan optimal.
Akan tetapi, terutama bagi Kuba, defisit energi juga jadi sinyal runtuhnya industri pariwisata yang selama ini jadi tulang punggung ekonomi nasional Kuba.
Pada Februari ini, kelangkaan energi membuat otoritas penerbangan Kuba merilis pengumuman bahwa bandara besar Kuba tak lagi punya cukup bahan bakar untuk melayani pendaratan dan penerbangan pesawat. Tak ada lagi stok bahan bakar Jet A-1 yang umum dipakai pesawat.
Jadwal penerbangan menuju Kuba dari berbagai negara lalu dibatalkan. Hal ini berefek pada para wisatawan yang sudah ada di Kuba. Tanpa pesawat mereka tak bisa kembali ke negaranya.
Bandara Internasional José Martí di Havana dilaporkan jadi simbol krisis. Bandara utama Kuba ini dipenuhi kerumunan wisatawan yang putus asa menunggu berita penerbangan.
Krisis ini juga membuat banyak agen perjalanan internasional mulai menghapus Kuba dari katalog tahun 2026. Reputasi industri pariwisata Kuba berubah jadi buruk karena ketidakmampuan menjamin layanan dasar seperti pendingin dan transportasi.
Dampak dari krisis energi juga jelas menghantam sektor ekonomi Kuba. Pasca pandemi Covid-19, Kuba tengah berupaya untuk meningkatkan tingkat ekonomi melalui industri pariwisata.
Di antara objek wisata populer di Kuba, terdapat ribuan usaha kecil yang oleh orang lokal disebut "mipymes", rumah-rumah yang disewakan sebagai penginapan, juga restoran-restoran yang dibuka penduduk.
Dengan krisis energi imbas blokade AS, kelas menengah Kuba terus terdesak. Hal ini berpotensi mendorong gelombang migrasi baru ketika para penduduk Kuba lebih memilih pergi.
Situasi ini terus memburuk sejak AS melakukan operasi penculikan Presiden Venezuela pada Januari lalu. Operasi ini membuat Kuba kehilangan pemasok minyak utamanya.
Meksiko yang jadi pemasok alternatif juga baru saja menghentikan pengiriman minyak ke Kuba karena ancaman tarif AS bagi setiap negara yang mengirim minyak ke Havana.
Akan tetapi, AS enggan disalahkan atas krisis yang melanda Kuba. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio bicara kepada wartawan di sela KTT Karibia pada Kamis (26/2) bahwa situasi di Havana adalah karena pemerintahan Kuba sendiri.
“Ini adalah iklim ekonomi terburuk yang pernah dihadapi Kuba. Dan pihak berwenang di sana, dan pemerintah itu, yang bertanggung jawab atas hal itu,” kata Rubio.
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id





























