Menuju konten utama

Trauma Berat, Anak Penjual Keripik di Palembang Diperkosa 2 Pria

Seorang siswi SMA anak penjual keripik di Palembang trauma berat dan takut ke sekolah usai diperkosa dua pria. Keluarga kini berjuang menuntut keadilan.

Trauma Berat, Anak Penjual Keripik di Palembang Diperkosa 2 Pria
ilustrasi kekerasan seksual. wikimedia commons/arionasis
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Nasib malang menimpa seorang siswi sekolah menengah atas (SMA) berusia 16 tahun di Palembang, Sumatera Selatan. Remaja putri dari pasangan penjual keripik dan pengemudi ojek pengkolan ini kini mengalami trauma hebat dan enggan bersekolah setelah diduga menjadi korban perkosaan oleh dua pria yang baru dikenalnya melalui media sosial.

Kasus memilukan ini telah resmi dilaporkan oleh korban bersama orang tuanya ke Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polda Sumatera Selatan. Dua pria yang dilaporkan berinisial P dan H, yang diketahui salah satunya sudah berstatus memiliki istri.

Kuasa hukum korban, Novel Suwa, menjelaskan bahwa peristiwa kelam ini bermula dari perkenalan korban dengan terlapor P di jagat maya beberapa bulan lalu. Setelah komunikasi mereka berjalan intens, P menawarkan diri untuk menjemput dan mengantar korban ke sekolah pada Rabu (13/5/2026) pagi.

Tanpa rasa curiga, korban menerima tawaran tersebut. Namun, di tengah jalan, pelaku justru membelokkan kendaraannya dan membawa korban ke sebuah rumah kontrakan di kawasan Jalan Gading Empat, Kalidoni, Palembang.

Kepanikan korban memuncak saat mendapati terlapor H sudah menunggu di dalam rumah tersebut. Di bawah ancaman kekerasan fisik, siswi malang itu dipaksa melayani nafsu bejat kedua pelaku secara bergiliran hingga siang hari.

"Klien kami sempat melawan sekuat tenaga, namun kalah jumlah dan kekuatan fisik. Beruntung, klien kami masih mengingat dengan sangat jelas wajah dan nama-nama kedua pelaku," kata Novel Suwa saat mendampingi keluarga korban, Sabtu (18/7/2026).

Perjuangan Keluarga Kecil Menuntut Keadilan

Setelah kejadian, korban sempat menyembunyikan peristiwa tersebut karena takut membuat orang tuanya sedih. Namun, karena tekanan batin yang luar biasa, ia akhirnya memberanikan diri bercerita kepada ibunya beberapa hari kemudian.

Keluarga yang sehari-hari menyambung hidup dari berjualan keripik keliling dan menarik ojek ini sempat kebingungan mencari keadilan karena keterbatasan ekonomi, hingga akhirnya mendapatkan pendampingan hukum gratis.

"Saat ini korban selalu mengurung diri dan menolak pergi ke sekolah karena trauma berat. Kami memohon kepada pihak kepolisian agar memberikan perlindungan psikologis dan segera menangkap pelaku," tambah Novel.

Polda Sumsel Buru Pelaku

Merespons laporan tersebut, Kabid Humas Polda Sumsel, Kombes Pol Nandang Mu'min Wijaya, menegaskan pihak kepolisian berkomitmen penuh untuk mengusut tuntas kasus ini secara profesional.

Kasus ini kini tengah ditangani secara intensif oleh penyidik Subdit III Perempuan dan Anak (PPA) Ditreskrimum Polda Sumsel sembari mengumpulkan bukti-bukti berkas dan menunggu hasil visum dari tim dokter rumah sakit.

"Kami upayakan kasus ini segera terungkap dan kedua terlapor bisa secepatnya ditangkap. Kami pastikan seluruh proses penyelidikan berjalan secara terbuka dan profesional demi keadilan korban," pungkas Nandang.

Baca juga artikel terkait KASUS PEMERKOSAAN atau tulisan lainnya dari Irwanto

tirto.id - Flash News
Kontributor: Irwanto
Penulis: Irwanto
Editor: Siti Fatimah