Menuju konten utama

Tradisi Ngejot Idul Adha di Bali, 10 Ribu Paket Kurban Dibagikan

Tradisi ngejot tetap dipertahankan di Provinsi Bali sebagai bentuk persaudaraan sesama warga negara Indonesia.

Tradisi Ngejot Idul Adha di Bali, 10 Ribu Paket Kurban Dibagikan
Tradisi ngejot dan menyama braya yang tampak pada momen Hari Raya Iduladha di Kelurahan Padang Sambian, Kota Denpasar, Rabu (27/05/2026). Tirto.id/Sandra Gisela
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Tradisi ngejot kembali digelar pada momen Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah di Provinsi Bali, Rabu (27/05/2026). Tradisi tersebut dilakukan masyarakat Bali dengan membagikan makanan atau hasil bumi kepada sesama sebagai bentuk persaudaraan dan kerukunan antarumat beragama.

Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Provinsi Bali, Olih Solihat Karso, menyebut minat masyarakat untuk menyalurkan kurban melalui tradisi ngejot bersama LDII Provinsi Bali semakin meningkat. Menurutnya, tahun ini terjadi peningkatan kurban sekitar 8–12 persen di setiap wilayah di Bali.

Olih merinci, secara total terdapat 146 sapi dan 286 kambing yang dikurbankan di Provinsi Bali. Kurban terbanyak dilakukan di Kota Denpasar dengan 77 sapi dan 163 kambing, diikuti Kabupaten Badung sebanyak 27 sapi dan 57 kambing, serta Kabupaten Tabanan dengan 13 sapi dan 24 kambing.

“Secara total terdapat 10.000 paket kurban yang dibagikan di Provinsi Bali melalui tradisi ngejot. Ini untuk menjaga keharmonisan, bahwa ketika kita makan daging, seluruh masyarakat juga bisa ikut menikmatinya,” ungkap Olih kepada wartawan di Kantor LDII Provinsi Bali, Rabu (27/05/2026).

Tradisi ngejot tetap dipertahankan di Provinsi Bali sebagai bentuk persaudaraan sesama warga negara Indonesia. Hal tersebut sejalan dengan prinsip bahwa umat Muslim harus dekat dengan masyarakat sekitar.

“Bukan hanya makanan, tetapi juga rasa. Menjadi satu rasa, senasib, dan sepenanggungan, terutama bagi fakir miskin, orang terlantar, dan tetangga terdekat,” jelasnya.

Endang, salah satu penerima daging kurban melalui tradisi ngejot, membenarkan bahwa tradisi ini telah dilakukan setiap tahun di lingkungan Kelurahan Padang Sambian, Kota Denpasar. Menurutnya, hubungan antarwarga di sana sangat erat.

“Terima kasih untuk kurbannya. Kami sudah seperti saudara di sini,” ungkapnya singkat.

Libatkan Lebih Banyak Generasi Muda

Wakil Ketua DPW LDII Bali, Agus Purmadi, menambahkan partisipasi kaum muda ditingkatkan pada Hari Raya Idul Adha tahun ini. Hal tersebut dilakukan sebagai bentuk regenerasi sekaligus mempertahankan tradisi ngejot yang telah diwariskan secara turun-temurun.

“Dengan demikian, karena terbiasa, kami harapkan mereka mengerti tugas dan tanggung jawabnya ke depan. Kami yakin akan meneruskan tradisi ngejot karena ini warisan dari nenek moyang,” terang Agus.

Menurut Agus, keterlibatan generasi muda pada Hari Raya Idul Adha tahun ini bahkan berada di luar ekspektasi. Generasi muda di lingkungan LDII Bali antusias untuk dilibatkan, terutama sebagai panitia kurban dan pengelola media sosial.

“Kami libatkan dalam kegiatan sekecil apa pun, sehingga nantinya mereka akan terus ikut terlibat,” tuturnya.

Sementara itu, Ruziq, remaja yang tergabung dalam LDII Bali, menyadari regenerasi di lingkungan masjid dan lembaga keagamaan perlu dilakukan. Ruziq sendiri telah menjadi panitia kurban sejak SMP.

“Semua dilibatkan agar bisa terjadi regenerasi, memahami cara dan proses penyembelihan hingga bersih-bersih. Kami dilibatkan agar ke depannya bisa menggantikan bapak-bapak lainnya dan langsung aktif,” tutup Ruziq.

Baca juga artikel terkait IDUL ADHA atau tulisan lainnya dari Sandra Gisela

tirto.id - Flash News
Kontributor: Sandra Gisela
Penulis: Sandra Gisela
Editor: Anggun P Situmorang